× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Yuk Pantau Informasi Bencana Lewat petabencana.id!

By Redaksi
Petabencana.id. Foto : Istimewa

Banjir yang menghantam Jakarta dan sekitarnya tepat pada 1 Januari 2020 lalu meninggalkan nilai kerugian materiil yang mencengangkan. Bhima Yudhistira, peneliti di Institute For Development of Economics and Finance (INDEF) seperti yang dilansir dari BBC, memperkirakan dampak kerugian ekonomi yang ditimbulkan mencapai lebih dari Rp 10 triliun.

Banjir bukan perkara baru di Jakarta. Sejarah mencatat, sejak jaman penjajahan Belanda VOC di tahun 1600-an, banjir sudah mengakrabi Ibukota Negara yang kala itu bernama Batavia. Banjir besar lain juga terekam di tahun 1918 yang mendorong Gubernur Hindia Belanda saat itu, Johan Paul van Limburg Stirum, membangun banjir kanal barat.

Kisah bencana ini masih berlanjut di era Gubernur Ali Sadikin, era setelahnya hingga Gubernur Anis Baswedan saat ini. Sedemikian rumitnya permasalahan banjir ini sehingga dari tahun ke tahun tak pernah tuntas tertangani. 

Dulu informasi banjir hanya bisa diakses melalui media konvensional baik televisi, radio dan suratkabar. Tapi seiring kemajuan teknologi internet, situasi banjir terbaru bisa seketika diketahui. Adalah laman petabencana.id yang bisa diakses siapapun untuk bisa melihat perkembangan bencana, terutama banjir.

Membantu Informasi Banjir Seketika

Sedikit sulit menemukan lokasi kantor petabecana.id. Posisinya agak menjorok ke dalam di kawasan asri kelurahan Guntur Jakarta Selatan. Rabu (8/1/2020) siang itu, majalahcsr.id ditemui oleh dua staff mereka, Adhitya Yusuf sebagai Project Manager dan Anarita Widyaningrum yang merupakan Geospital Data Coordinator.

Ki-ka : Project Manager petabencana.id, Adhitya Yusuf,
Geospital Data Coordinator, Anarita Widyaningrum

“Munculnya (laman) petabencana.id berangkat dari kebutuhan terhadap informasi bencana yang mudah diakses dan sifatnya realtime,” kata Adhit membuka obrolan. Menurutnya, ide untuk mendirikan petabencana.id dimulai sejak 2013 silam, pasca banjir besar yang nyaris “menenggelamkan” Jakarta. Pada saat itu, kisah Adhit, netizen di lini masa terutama twitter menyampaikan banyak informasi seputar perkembangan banjir yang terjadi.

Kejadian bencana yang tak jarang meleset dengan prediksi ilmiah memunculkan ide bagi pendiri petabencana.id. Ide untuk memberikan informasi yang valid dan menyeluruh secepatnya bagi yang membutuhkan dengan memanfaatkan teknologi internet.

Pada 2015 platform petabencana.id secara resmi berdiri. Pemetaan bencana di awal adalah yang terkait bencana banjir. Lalu darimana data yang ditampilkan di laman ini bisa muncul?

“Data yang diambil terkait kondisi bencana melalui twitter terutama warga,” ungkap Adhit. Untuk mengantisipasi adanya kabar bohong, pelaporan harus melalui empat tahapan verifikasi yang link nya muncul setelah mengetikkan kata banjir di lini masa dimaksud.

Selain menerima pelaporan dari masyarakat, petabencana.id pun mendapat informasi terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta. Khusus untuk update informasi dari pemerintah, ada laman khusus yang terkunci dan hanya bisa diakses BPBD setempat.

Data yang dikumpulkan memang tak hanya dari pemerintah, tapi juga dari warga. “Kami menciptakan aplikasi peer to peer communication yang data informasinya tak melulu input dari pemerintah tapi juga dari grass root yaitu warga,” cetus Anna. Pihaknya, lanjut Anna, membangun software yang disebut cognicity open source software yang datanya memungkinkan diambil dari kedua belah pihak; pemerintah dan warga.

Melalui pemetaan banjir, warga yang mengakses petabencana.id bisa melihat data teraktual seputar bencana (dalam hal ini banjir). Sehingga, kata Anna, masyarakat bisa menghindari kawasan yang paling parah terdampak bencana bila ingin bepergian. Sementara bagi pemerintah, data yang muncul bisa jadi pemetaan untuk melakukan rencana maupun tindakan terkait bencana.

“Informasi akan terus diupdate per satu jam. Sehingga informasi yang sebelumnya ada di laman otomatis terhapus untuk diganti dengan data terbaru,” papar Anna. Bila ingin mengetahui kondisi banjir di suatu tempat, simbol balon pada peta di laman, jika diklik akan muncul keterangan waktu, lokasi, kedalaman banjir, foto, dan deskripsi singkat bencana.

Mendukung Input Dua Laporan

Saat dikonfirmasi validitas 2 laporan yang berpotensi menimbulkan “konflik informasi”atau data yang ambigu. Adhit menegaskan, 2 input yang dilakukan itu justru untuk saling melengkapi. “Informasi pemerintah yang mengandalkan petugas lapangan yang terbatas, datanya juga menjadi terbatas,” beber Adhit. Sehingga dibutuhkan input informasi lain (dari warga) untuk melengkapi. Warga yang mengirim informasi pun melalui proses verifikasi yang berlapis. Di sisi lain, pemerintah melalui petugasnya bisa melakukan cross check terhadap informasi warga.

“Untuk aplikasi lini masa yang sudah bisa didukung oleh petabencana.id adalah twitter, facebook, telegram, pasangmata detikcom, dan salah satu kanal lokal yaitu qlue.id,” papar Anna. Pelaporan bencana melalui kanal tersebut, akan langsung di-reply oleh software bencana bot dengan memberikan link verifikasi yang harus diklik guna melengkapi pelaporan. Setelah itu pengguna baru bisa mengakses ke laman petabencana.id. Untuk menjaga privacy, petabencana tidak akan menampilkan username pelapor di platform mereka.

Dalam lamannya, petabencana.id melingkupi peta bencana di 4 kota besar yaitu: Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Semarang. Traffic pengunjung menurut Anna cukup banyak. Hingga 4 Januari 2020 ada sekitar 300 laporan banjir yang masuk ke petabencana. Sementara user yang ingin memantau informasi banjir tercatat 130 ribu pengunjung.

Untuk lebih menyebarkan informasi soal manfaat petabencana.id, sosialisasi biasanya melalui ragam event, termasuk dengan memanfaatkan momen car free day yang dibantu relawan.  “Data informasi yang masuk ke server petabencana akan tersimpan dan bisa dimanfaatkan oleh Badan Nasional Penangulangan Bencana (BNPB) untuk merancang strategi manajemen mitigasi bencana ke depannya,” jelas Adhit. Seluruh data di server terhubung dengan server di BNPB. Sementara untuk sosialisasi ke pemerintah daerah terkait pemanfaatannya dilakukan melalui metode training ke sejumlah daerah.

“Pada 11 Februari 2020 nanti, kami akan launching fitur pelaporan lokasi bencana yang tak hanya 4 kota besar melainkan kota-kota lain dalam skala nasional. Selain itu data bencana juga tak melulu banjir, namun memuat informasi bencana lain seperti gempa bumi, kebakaran hutan, kabut asap, angin kencang, dan bencana gunung berapi,” tutup Adhit.

“Beberapa pihak menganggap (perubahan iklim) sepele. Aku tidak.” Kalimat tegas itu keluar dari mulut gadis remaja 16 tahun asal Swedia bernama Greta Thunberg. Greta adalah representasi dari sedikit remaja yang sangat peduli dengan lingkungan, terutama perubahan iklim. Suatu hari di musim panas lalu, Greta membolos dari sekolah. Greta tak sembarang membolos. Ia duduk manis di […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]