× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Mudahnya Beramal di Pekan Donasi Online Indonesia

By Redaksi
Konferensi Pers Festival Filantrop Muda 2019

Festival Filantrop Muda 2019 juga meluncurkan program PEDOELI Indonesia atau Pekan Donasi Online Indonesia. Filantropi Indonesia bekerjasama dengan GoPay sebuah ekosistem pembayaran digital mendukung program  donasi online ini.  Setiap pengunjung yang datang bisa melakukandonasi mereka secara e-money melalui aplikasi GoPay.

Dalam obrolan bersama media di sela acara, Head of Corporate Communication GoPay, Winny Triswandhani menyatakan, ribuan organisasi, yayasan nonprofit yang tersebar di Indonesia yang membawa misi sosial, banyak yang bergantung pada donasi publik.

“Lewat program PEDOELI Indonesia GoPay dan Filantropi Indonesia melibatkan berbagai lembaga filantropi, crowdfunding, serta publik. Selain itu juga mengenalkan mereka kemudahan dan manfaat berdonasi secara digital,” cetus Winny.

Menurut Winny, upaya ini merupakan bagian dari program GoPay for Good yang tidak hanya memudahkan masyarakat berikut kaum muda untuk berdonasi, tapi juga membantu yayasan dan lembaga dalam pengumpulan donasi publik lewat donasi digital.

Sementara Direktur Filantropi Indonesia, Hamid Abidin mengatakan, “Kami dan GoPay sudah melakukan kerjasama kemitraan jangka panjang. Kami membantu memfasilitasi anggota (Filantropi Indonesia) untuk menggunakan GoPay agar memudahkan mereka menggalang dana.”

Hamid memaparkan, jaman sekarang sudah ada perubahan pola perilaku orang dalam berdonasi. Sebelumnya masyarakat berdonasi hanya dengan uang cash, kini bisa dilakukan dengan e-money. Bahkan, lanjut Hamid, di beberapa tempat ibadah, ada kotak amal yang sudah diberi  QR code, yang artinya tak cuma terima donasi tunai.

Peran anak muda dalam donasi juga turut mengubah kultur orang dalam berdonasi. Bila awalnya masyarakat berdonasi dalam suasana formal (datang ke acara penggalangan dana secara formal), kini berubah. Kegiatan filantropi yang dibawa anak muda lebih interaktif. Milenial juga biasanya menyertakan budaya populer melalui musik atau acara perlombaan olahraga (lomba lari, senam, dan lain-lain) dalam pengumpulan donasi. Dengannya acara donasi pun jauh lebih menyenangkan dan tidak membosankan. Sementara platformnya, tambah Hamid, ada dua yaitu komunitas dan digital. Bahkan bisa jadi keduanya.

Namun pepatah mengatakan, tak ada gading yang tak retak. Demikian halnya dengan kegiatan donasi di kalangan muda. Isunya biasanya keberlanjutan. Ketika mereka yang masih sekolah dihadapkan pada ujian sekolah, biasanya kegiatan donasinya menjadi jeda. Ini sebagai dampak dari aksi mereka yang spontanitas dalam komunitas.   

Tak hanya membantu soal digital fundraising, GoPay juga, tambah Hamid, turut memberi pelatihan atau workshop terkait donasi digital ini.  Materi yang disampaikan pun soal bagaimana mempromosikan digital fundrising anggotanya secara efektif.  Alhasil, kemampuan mereka menjadi meningkat dalam pengumpulan donasi online.

GoPay membidik anak muda untuk berdonasi karena mayoritas konsumennya berada di rentang usia 18 – 35 tahun. “Mereka menjadi seolah brand ambassador di lingkungannya,”kata Winny. Maksudnya, kaum muda biasanya ini mengenalkan aplikasi teknologi baru kepada orang tuanya, termasuk berdonasi lewat GoPay.

Perkembangan donasi digital menurut Winny pun ternyata sangat fantastis. “Dari Desember 2018 hingga saat ini terjadi kenaikan sebesar 1.300 kali lipat,” ungkap perempuan pendek ini. Hal ini disebabkan semakin banyaknya organisasi sosial, yayasan yang bergabung dengan GoPay sebagai platform donasi e-money nya. Untuk ini, “GoPay sama sekali tidak mengambil keuntungan sepeserpun,”tegas Winny. Uang yang melalui GoPay pun bisa langsung masuk ke rekening masing-masing mitra sosial.

Untuk organisasi/yayasan sosial dan komunitas yang ingin bergabung dalam platform GoPay, ternyata ada syaratnya. Syarat administrasi seperti pembutian sebagai lembaga badan hukum, akta pendirian dan lain-lain. Satu hal lagi adalah soal akuntabilitas. Hamid menegaskan, untuk hal ini yayasan atau organisasi berikut komunitas harus terdaftar di Kementerian Sosial. Untuk komunitas biasanya pengumpulan donasinya diarahkan melalui crowdfunding seperti kitabisa.com, dompet dhuafa, berbagi berkah, sharing happiness, peduli sehat, mengejar impian, dan lain-lain. Di Filantropi Indonesia, ada sekitar 13 crowdfunding.

“Beberapa pihak menganggap (perubahan iklim) sepele. Aku tidak.” Kalimat tegas itu keluar dari mulut gadis remaja 16 tahun asal Swedia bernama Greta Thunberg. Greta adalah representasi dari sedikit remaja yang sangat peduli dengan lingkungan, terutama perubahan iklim. Suatu hari di musim panas lalu, Greta membolos dari sekolah. Greta tak sembarang membolos. Ia duduk manis di […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]