× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

YPKP Harm Reduction Forum untuk Tekan Dampak Buruk Rokok

By Redaksi
Dok. AHRF

Jakarta – Majalahcsr. Saat ini, hampir separuh konsumen rokok dunia berada di Asia, termasuk Indonesia. Berdasarkan riset Atlas Tobacco, jumlah perokok di Indonesia pada 2016 telah mencapai lebih dari 90 juta jiwa dan diperkirakan akan terus naik setiap tahunnya.

Kendatipun secara klinis, rokok atau produk tembakau yang dikonsumsi dengan dibakar memicu berbagai macam masalah kesehatan seperti jantung dan kanker, upaya untuk menghentikan konsumsi produk ini bukanlah perkara mudah. “Kondisi ini membuat kami para pemerhati kesehatan publik di Asia merasa terdorong untuk segera mencari solusi paling efisien untuk menekan risiko produk tembakau yang dibakar. Negara-negara di Asia harus segera bergerak,” ujar Ketua Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) Indonesia Prof Dr. Achmad Syawqie Yazid dalam acara Harm Reduction Forum (AHRF) 2017 di Jakarta, kamis (91/11).

YPKP Indonesia mengadakan Asia Harm Reduction Forum (AHRF) 2017 pertama di Asia. AHRF 2017 merupakan wadah bagi pemerhati kesehatan publik di Asia, akademisi, konsumen, dan pembuat kebijakan untuk berkumpul dan mendiskusikan solusi mereduksi dampak buruk dari produk tembakau yang dibakar atau lazim disebut rokok.

Syawqie menyebutkan inovasi dari produk tembakau alternatif dapat menjadi solusi efisien untuk mengatasi masalah adiksi rokok. Konsep pengurangan risiko atau bahaya (harm reduction) merupakan strategi ilmu kesehatan masyarakat yang bertujuan mengurangi konsekuensi negatif kesehatan dari sebuah produk atau perilaku.

Dok. AHRF

“Tidak mudah mengatasi adiksi masyarakat terhadap rokok, sehingga perlu solusi strategis untuk menekan dampak buruknya. Salah satu cara paling efisien adalah dengan memperkenalkan produk tembakau alternatif yang memiliki risiko kesehatan lebih rendah melalui penelitian ilmiah dan pengembangan teknologi,” jelasnya.

Saat ini masih banyak penafsiran yang salah terkait produk tembakau alternatif seperti nikotin tempel, snus, rokok elektrik atau vape, dan produk tembakau yang dipanaskan bukan dibakar, padahal, produk-produk tersebut telah terbukti secara klinis dapat menjadi alternatif untuk menekan dampak buruk dari pembakaran akibat dari mengonsumsi rokok.

Pada 2016, YPKP Indonesia secara independen melakukan penelitian terhadap salah satu produk tembakau alternatif yaitu rokok elektrik. Hasilnya, produk alternatif ini memiliki risiko kesehatan yang jauh lebih rendah dibanding rokok yang dikonsumsi dengan dibakar. Hal ini terjadi karena produk yang tidak dibakar dapat mengeliminasi tar, racun berbahaya yang dihasilkan dari pembakaran tembakau dan sebagian bersifat karsinogenik.

Senada dengan YPKP Indonesia, Kardiolog dunia asal Yunani Konstantinos Farsalinos yang telah melakukan penelitian tentang rokok elektrik sejak 2011 juga mengatakan produk tembakau alternatif berpotensi menyelamatkan jutaan jiwa. ”Kami telah melakukan penelitian tentang efek sitotoksik uap rokok elektronik pada sel otak dan efek langsung dari rokok elektronik yang digunakan pada fungsi jantung dan sirkulasi koroner. Hasilnya, efek yang ditumbulkan uap rokok elektrik jiyauh lebih rendah risiko dibandingkan efek dari asap rokok,” ungkapnya.

Penelitian terbaru dari Georgetown University Medical Center Amerika juga mengungkapkan hal serupa, dimana lebih dari 6.6 juta nyawa bisa diselamatkan dari kematian dini melalui terapi rokok elektrik.

Dalam AHRF 2017, diskusi mengenai produk tembakau alternatif bukan hanya dari sisi ilmiah namun juga dari sisi konsumen dan pembuat kebijakan. Dimas Jeremia, Ketua Ministry of Vape Indonesia (MOVI) mengatakan, Tren konsumsi produk tembakau alternatif seperti rokok elektrik atau vape di Asia terus naik. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya komunitas vape yang ada di Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, serta negara Asia lainnya.

“Kini semakin banyak konsumen rokok yang sadar mengenai dampak buruk tar. Karenanya, minat masyarakat untuk beralih ke produk tembakau alternatif yang memiliki risiko jauh lebih rendah, kini meningkat. Ini adalah sinyal positif dari masyarakat yang ingin gaya hidupnya makin rendah risiko,” ujar Dimas. Dalam hal ini, pemerintah harus benar-benar peka dalam menyediakan aturan yang mampu menjembatani kebutuhan konsumen terhadap pilihan produk tembakau yang lebih rendah risiko.

AHRF 2017 memiliki tiga tema diskusi utama, yaitu mengenai konsumen, pembuatan kebijakan, serta bukti-bukti ilmiah. Forum ini juga mendorong pemerintah negara-negara di Asia untuk terus melakukan penelitian yang relevan dengan produk tembakau alternatif, dan bukan melarang peredarannya tanpa dasar yang jelas.

“Beberapa pihak menganggap (perubahan iklim) sepele. Aku tidak.” Kalimat tegas itu keluar dari mulut gadis remaja 16 tahun asal Swedia bernama Greta Thunberg. Greta adalah representasi dari sedikit remaja yang sangat peduli dengan lingkungan, terutama perubahan iklim. Suatu hari di musim panas lalu, Greta membolos dari sekolah. Greta tak sembarang membolos. Ia duduk manis di […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]