× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Workshop JAMPIRO 2018: Dari Ilmu sampai Relasi

Dari JAMPIRO 2018

By Redaksi

Hari kedua acara Jambore PR Indonesia (JAMPIRO) 2018 di Aston Semarang Hotel and Convention, (8/11)  peserta berkesempatan mengupgrade ilmu. Dan tak hanya ilmu, peserta sekaligus bisa memanen relasi.

Ada beragam kelas workshop pada hari kedua JAMPIRO 2018, yang bisa diikuti peserta sesuai minatnya masing-masing. Sebut saja “PR under 30” kelas khusus bagi praktisi PR di bawah usia 30 tahun. Selain itu ada pula kelas Corporate Social Responsibilities (CSR), dan Protokoler yang erat dengan tugas-tugas ke PR an.

 

Mengukur Reputasi

Kata reputasi pastinya sangat akrab dalam kehidupan keseharian. Namun apa sebenarnya definisi dari kata ini? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), reputasi diartikan perbuatan dan sebagainya sebagai sebab mendapatkan nama baik, ataupun nama baik itu sendiri. Sementara itu Cambridge Dictionary memaknainya sebagai orang yang secara umum memiliki sesuatu sehingga dengannya mendapatkan respek dari pihak lain sesuai sikap dan perilakunya.

Bagi anggapan umum – tidak seperti ilmu pasti – reputasi merupakan “benda sosial” yang abstrak. Namun di mata pakar kehumasan, reputasi adalah sesuatu yang bisa diukur. Hal ini yang terungkap dalam salah satu kelas workshop JAMPIRO 2018.

Sebuah reputasi yang baik penting karena mempengaruhi: etos karyawan lebih elok, konsumen makin loyal, kerjasama dengan vendor yang makin baik, dan marjin (keuntungan) yang makin besar dari produk barang dan atau jasa korporasi. Namun sebelum bisa mengukur sebuah reputasi, sebaiknya mengenal dulu salah satu elemen yang mempengaruhi, Corporate Social Responsibilities (CSR). Dari laporan Reputation Institute (2017) menyebut dimensi CSR memiliki lebih dari 40% keseluruhan reputasi karena terkait citizenship, governance, dan kualitas workplace.

Menurut Salman N Bachtiar, salah satu instruktur workshop, saat membicarakan reputasi apalagi terkait korporasi, hal yang perlu diperhatikan adalah CSR. Saat CSR sebuah korporasi berjalan dengan baik, maka berdampak positif pada reputasi perusahaan. Bagaimana cara mengukurnya? Ada beberapa pendekatan yang bisa diterapkan, yaitu: pendekatan penghitungan nilai manfaat, pendekatan pengelolaan stakeholders, dan pendekatan resiko reputasi. Masing-masing punya metodologi dalam proses pengukurannya.

Lantas apakah CSR juga dapat diukur parameter keberhasilannya? Menurut Semerdanta Pusaka, salah satu tutor di kelas workshop CSR, jawabannya adalah bisa. Salah satu caranya dengan metode Outcome Mapping (OM). Metode ini digunakan untuk merencanakan, memonitor, dan mengevaluasi inisiatif program tertentu khususnya yang terkait perubahan sosial berkelanjutan. Ada 3 faktor penting dalam OM yaitu perubahan perilaku, batasan mitra/pemangku kepentingan (stakeholders), dan kontribusi yang diberikan.

Monitoring dan evaluasi dari program CSR dapat mengundang beragam manfaat bagi korporasi, yaitu: efektivitas dan efisiensi program, mendeteksi adanya perubahan, analisis situasi, identifikasi masalah dan solusi, pembelajaran sekaligus perbaikan, untuk mencapai tujuan tertentu contohnya PROPER, sampai melakukan strategi komunikasi yang tepat. Dalam prakteknya, CSR memiliki standar internasional yaitu ISO 26000.

 

Kemampuan Mutlak PR: Protokoler

Di sebagian benak masyarakat, profesi PR masih identik dengan angkat koper atasan, ataupun menyediakan segala kebutuhan bos. Kenyataannya, seorang PR dituntut lebih dari sekedar itu. Ia harus mampu mengartikulasikan pesan – sesuai visi misi korporasi – secara internal maupun eksternal untuk reputasi perusahaan.

Salah satu kemampuan yang mutlak dimiliki adalah keprotokoleran. Hal ini pun dibahas dalam salah satu kelas workshop di JAMPIRO 2018. Salah satu fungsi protokoler adalah kemampuan untuk merencanakan, memonitoring, dan mengevaluasi sebuah event.

Poppy Sri Dharmayanti Riyanto, praktisi event management, owner PT Kitalu Media Komunika, mengungkapkan, dalam event dan hospitality management, seorang PR harus bisa menangani seluruh persiapan dan koordinasi event. Termasuk perencanaan budget, penjadwalan, pemilihan lokasi, rundown acara, pengurusan ijin, pembicara/talent, dekorasi event, keamanan, kebutuhan katering, dan lainnya.

Sebelum itu semua dilakukan, menurut Poppy, seorang PR harus memperhatikan 4P; Person (ini event siapa), Purpose (tujuan acara event), Place (pemilihan tempat yang tepat), dan People (siapa saja yang terlibat). Dengan merunut poin-poin di atas, langkah awal kesuksesan event sudah bisa diprediksikan. Dalam pemilihan pengisi acara/talents pun, wanita berhijab ini menjelaskan, harus disesuaikan dengan  target pengunjung, daftar kebutuhan talents, perlengkapan pertunjukan, pengamanan acara, sampai publisitas.

Kesuksesan sebuah event dapat diukur dengan memonitor aktivitas media sosial, survey pasca event, hasil yang didapat versus biaya pengeluaran, jumlah penjualan atau media yg memberitakan, sampai kepuasan sponsor acara.

Workshop  diakhiri dengan workshop assignment yang seru. Nila (38) asal PT Pupuk Kujang mengaku dapat banyak manfaat. Selain menambah ilmu juga relasinya bertambah luas. Namun ada hal yang menjadi masukan bagi penyelenggara, yaitu durasi materi yang dirasa Nila kurang. Menurutnya,  minimal dibutuhkan 2 hari untuk pembahasan materi. Soal keterbatasan waktu juga disampaikan Risdianto (38) peserta dari PT PLN wilayah Batam. Ia mengusulkan, tema protokoler sebaiknya disampaikan selama 2 hari penuh agar tak hanya sekedar materi perkenalan saja.

Alhasil, workshop yang dilakukan berjalan lancar. Salman N Bachtiar, salah seorang pemateri mensyukuri animo peserta yang cukup tinggi, dan munculnya respon yang positif seperti keinginan peserta untuk kembali mengikuti event serupa di tahun depan, sampai munculnya ide paguyuban peserta JAMPIRO di pelaksanaan kali ke empat ini. Event ini, tambah Salmaan, memperlihatkan kian dibutuhkannya peran strategis PR di lembaga atau korporasi.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]