× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Wahai Orangtua, Anak Celah Bibir Bisa Sembuh Total dan Gratis!

By Redaksi
Edukasi Media Oleh Smile Train Terkait Terapi Anak Penderita Celah Bibir dan Langit-Langit Mulut. Foto : Istimewa

Diperkirakan 10.000 anak lahir dengan ketidaksempurnaan celah bibir dan/atau langit-langit mulut (CBLM) di Indonesia per tahunnya. Kondisi ini diperparah dengan penanganan pada penderitanya yang sering abai. Bahkan tak jarang para orang tua yang seharusnya mendukung, malah memperburuk psikis penderita dengan mengganggapnya aib. Padahal, anak dengan kelainan CBLM bisa sembuh total layaknya anak normal.

Smile Train, lembaga nirlaba terbesar di dunia, mendukung upaya penyembuhan anak-anak dengan kelainan celah bibir dan langit-langit mulut (CBLM). Smile Train Indonesia dalam setahun mampu menangani 9.000 operasi untuk anak-anak CBLM di Indonesia. Penanganan dilakukan mulai dari operasi fungsional maupun etikal sampai terapi wicara. Semuanya gratis. Masih banyak anak-anak CBLM yang perlu bantuan penanganan. Sama halnya dengan anak lain, anak CBLM berhak untuk bisa berkembang secara normal.

Hal tersebut disampaikan pada kegiatan edukasi media yang diselenggarakan SmileTrain Indonesia bekerjasama dengan Hotel Merecure di Jakarta, Kamis (30/1/2020). Pada acara temu media tersebut hadir sejumlah pakar di bidangnya yang merupakan bagian dari Smile Train. Mereka adalah Andi Raharja, dokter spesialis bedah mulut, Rita Rahmawati, ahli terapis wicara, Deasy Larasati, Program Director and Country Manager Smile Train Indonesia. Smile Train adalah badan amal Internasional yang berkeinginan mebantu para penderita celah bibir.

Harus Komprehensif

“Penanganan pasien kelainan celah bibir dan langit-langit mulut harus ditangani secara komprehensif,” kata Andi. Menurut dokter ahli yang sudah 14 tahun bekerja sama dengan Smile Train ini, dari 600 kelahiran di Indonesia, rata-rata satu bayi diantaranya mengalami kelainan CBLM. Banyak penyebab seorang bayi mengalami kelainan CBLM, diantaranya kekurangan asam folat, gizi buruk, paparan bahan kimia, radiasi minuman makanan yang tercemar limbah, Ibu yang stress saat kehamilan, trauma jatuh saat kehamilan, dan faktir turunan.

Edukasi Media Oleh Smile Train Terkait Terapi Anak Penderita Celah Bibir dan Langit-Langit Mulut. Foto : Istimewa

“Kelainan CBLM mulai terbentuk pada triwulan awal kehamilan,” cetus Andi. Dampak dari kelainan ini juga sangat kompleks, mulai dari faktor estetik, yang akhirnya membuat orang tua stress dan juga anaknya (si anak juga mendapat perundungan dari lingkungan). Kelainan ini juga menyebabkan anak kesulitan untuk minum susu dan juga menelan makanan. Alhasil si anak juga berpotensi kekurangan gizi, bahkan membahayakan karena bisa tersedak, dan iar masuk paru-paru. Anak yang menjadi kesulitan bicara juga pada akhirnya menimbulkan masalah lain.

“Tujuan terapi yang dilakukan adalah mengembalikan fungsi estetik, fungsi bicara, fungsi tumbuh kembang (secara fisik rahang dan gigi), fungsi psikososial (agar tidak terjadi stress, depresi karena malu yang mengakibatkan perkembangan sosialnya terganggu),”lanjut Andi.

Penanganan anak dengan kelainan CBLM harus komprehensif, karena sangat multi dampak. Mulai dari penanganan fisik oleh dokter gigi, spesialis bedah mulut, melibatkan psikiater untuk perkembangan mentalnya, hingga perlunya terapis wicara agar melatih anak CBLM dapat bicara normal (tidak sengau). Perawatan yang dilakukan pun memakan waktu yang tak sebentar.

“Mulai dari 0 tahun sampai 21 tahun,”ungkap Andi. Menurutnya ada beberapa tahapan yang dilakukan sampai benar-benar anak tersebut pada tahap normal. Para orang tua yang memiliki anak dengan kelainan CBLM tak perlu khawatir karena terapi tersebut gratis melalui pendaftaran di Smile Train. Untuk kawasan Jakarta, bisa dilakukan di Rumah sakit Siloam Karawaci, setiap saat.

Menghadapi Pasien dan Orang Tua

“Dalam penanganan pasien CBLM selain menghadapi pasien, juga menghadapi orang tuanya,” ujar terapis wicara, Rita Rahmawati.  Karena tak hanya si anak, orang tuanya juga sering mengalami keguncangan psikologis, lanjut Rita. Menurut Rita, perlu kesabaran dalam menghadapi pasien. Di pihak lain, pasien juga butuh dukungan dari orang tua.

Rita mengisahkan, tak jarang orang tua sama sekali tidak ingin “menyentuh”anak mereka.  Sehingga si anak tak hanya ada gangguan secara psikis, namun muncul gangguan perkembangan lingual, disebabkan orangtuanya abai. Kebanyakan alasan orang tua seperti itu, menurut Rita, mereka merasa malu dan terus menerus menyalahkan dirinya sendiri.

Dibanding anak umumnya, pasien CBL karena keterbatasan fisik, Dengan stimulasi yang optimal, anak yang sembuh dari CBLM bisa mengejar kosa kata yang awalnya tertinggal dari anak normal.

                         Jumlah Perbendaharaan Kata Anak Menurut Usia

Usia Perbendaharaan Kata
12 Bulan 1 – 20
18 Bulan 20 – 100
24 Bulan 200 – 300
36 Bulan 900
48 Bulan ≥ 1500

                         Kemampuan Kosa Kata Menurut Usia Anak

Usia Kemampuan
1,6 – 2 Tahun p, b, m, h, m, w
2 – 3,5 Tahun t, d, k, g, n, ng, f
3,5 – 4 Tahun r, l, s, ch, sh, z
4,5 – 5 Tahun j, v

Rita menegaskan, perkembangan kosa kata pada anak sangat perlu karena berkaitan dengan kemampuan bahasa yang mempengaruhi perkembangan kognisi anak. Perkembangan bahasa yang baik, akan baik pula perkembangan kognisinya. Ada hal yang menarik, seorang anak CBLM pasca operasi satu bulan sensor belum bekerja sehingga si anak belum merasakan pahit, asin, manis, asam. Seiring waktu, sensor si anak mulai berkembang pada 3 bulan pasca operasi. Sensor ini penting karena sensor rasa berkaitan titik artikulasi (sinergi lidah dan langit-langit mulut).  

Rita melanjutkan, pihaknya sebagai terapis wicara, selalu bekerjasama dengan dokter. Pernah terjadi, usai terapi 3 – 4 bulan hingga 6 bulan, si anak belum maksimal pelafalannya. Saat dicek, ternyata langit-langit mulutnya kurang panjang, sehingga perlu ada pembedahan kembali. Yang paling penting adalah dukungan orang tua saat anak menjalani terapi. Usai terapi pun diharapkan orang tua mengulangi materi terapi di rumah pada anak.

Sementara itu, Deasy Larasati, Program Director dan Country Manager Smile Train mengatakan, hingga saat ini sudah ada 110 negara di dunia yang bekerjasama dengan Smile Train untuk penanganan anak dengan kelainan CBLM. Sejak hadir pada 2002 di Indonesia, Smile Train sudah melakukan 85 ribu operasi. Tidak hanya dibantu di operasinya, tapi juga terapi wicara hingga anak tumbuh kembang menjadi normal.

“Smile Train sudah bermitra dengan 85 rumah sakit di seluruh Indonesia,”ujar Deasy, sehingga diharapkan program kemanusiaan yang dilakukan bisa menjangkau seluruh negeri.

Meskipun baru ada di 22 propinsi, namun di luar itu, Smile Train melakukan bakti sosial agar bisa menjangkau semua propinsi. Seperti untuk Papua, Smile Train secara khusus memberangkatkan tim agar tetap bisa menangani pasien di sana. Hal ini dikarenakan belum ada dokter bedah mulut dan estetik di propinsi tersebut. Sementara untuk lokasi operasi yang harus steril dilakukan di rumah sakit setempat.

Untuk mendata pasien terutama dari kalangan tak mampu, Smile Train punya social worker di masing-masing daerah/propinsi yang khusus menginformasikan hal tersebut. Pihak rumah sakit mitra pun sering mensosialisasikan pelaksanaan operasi kepada masyarakat sekitar. Yang menarik untuk bisa mendaftar di Smile Train, tak perlu surat rujukan tak mampu dari pemerintah setempat.

Untuk informasi yang lebih lengkap di Smile Train Indonesia di social media baik facebook maupun instagram. Smile Train juga menyediakan akses ke berbagai layanan perawatan celah seperti nutrisi, ortodontik, terapi wicara dan dukungan sosial-emosional.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]