× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Upaya Lembaga Filantropi Dalam Ketahanan Pangan di Indonesia

By Redaksi
Peter Holtsberg, Deputy Country Director, World Food Programme (WFP) Indonesia. Foto : FI

Pangan adalah kebutuhan dasar setiap mahluk hidup. Kelangkaan pangan bisa menjadi sumber konflik pemicu timbulnya perang. Ketahanan pangan bukan hanya soal mengisi perut masyarakat tapi juga terkait sistem untuk pemenuhan pasokkan pangan dalam jangka panjang dan berkelanjutan.

Masih jelas dalam ingatan ketika Indonesia mengalami masa krisis ekonomi antara tahun 1997 – 2000, Pemerintah Indonesia pernah mengambil kebijakan menukar pesawat buatan PT Dirgantara Indonesia (DI) dengan beras dari Thailand. Pemerintah telah dua kali mengambil kebijakan tersebut. Jika pasokan beras sebagai bahan makanan pokok sering bermasalah, bagaimana dengan bahan pangan lain?

Dari data The Economist Intelligence Unit (EIU), capaian indeks ketahanan pangan Indonesia telah membaik. Pada 2018 indeksnya naik menjadi 54,8. Angka ini mengerek peringkat ketahanan pangan RI naik cukup signifikan dari 72 pada 2014 menjadi 65 di 2018 dari total 113 negara. Namun, sebagai negara kepulauan, Indonesia perlu memikirkan pemerataan ketahanan pangan di setiap daerah. Juga perlu dipikirkan keberlanjutan ketahanan pangan tanpa bergantung dari impor.

Pada Selasa (23/11/2019), Filantropi Indonesia klaster ketahanan pangan dan gizi menggelar diskusi soal ketahanan pangan di Menara Karya Jakarta. Hadir dalam pertemuan itu sejumlah perwakilan dari World Food Programme, JAPFA Foundation, Yayasan William dan Lily, serta dari Filantropi Indonesia.  

Diskusi Ketahanan Pangan dan Gizi Filantropi Indonesia, Selasa (26/11/2019). Foto : FI

“Perlu dapat diciptakan kemitraan multi pihak termasuk keterlibatan lembaga filantropi untuk menciptakan keberlanjutan ketahanan pangan di Indonesia” ungkap Peter Holtsberg, Deputy Country Director, World Food Programme (WFP) Indonesia. “Pemerintah, lembaga filantropi dan masyarakat harus dapat bekerjasama dalam menghadapi tantangan – tantangan ketahanan pangan dan gizi di Indonesia,” tambahnya.

Terkait ini, Wahono Kolopaking, Head of Program Department JAPFA Foundation, mengatakan, “Upaya peningkatan kesehatan melalui ketahanan pangan dan gizi sejalan dengan poin 2 tujuan global pembangunan berkelanjutan (SDGs) yakni mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan gizi yang lebih baik. Kompleksitas dan keterkaitan permasalahan pangan dan gizi membutuhkan kemitraan bersama.”  Salah satunya, ujar Wahono, melalui kehadiran Klaster Filantropi Ketahanan Pangan dan Gizi (KFKPG) yang diinisiasi oleh Filantropi Indonesia dan JAPFA Foundation.

Sementara, Michele Soeryadjaya, Direktur Eksekutif Yayasan William dan Lily, mengungkapkan, “Daerah Indonesia Timur menjadi kawasan angka kelaparan tertinggi di Indonesia. Banyak anak mengalami busung lapar dan gizi buruk di sana.” Hal ini yang mendorong program Yayasan William dan Lily berfokus di Indonesia Timur, khususnya Sumba. Menurut Michele, ragam penyebab tingginya kelaparan di sana, mulai faktor ekonomi, ketersediaan bahan pangan yang terbatas, hingga keterbatasan informasi masyarakat terkait makanan sehat.”

Terakhir, Timotheus Lesmana, Ketua Badan Pengurus Filantropi Indonesia menegaskan, “Klaster Filantropi Ketahanan Pangan dan Gizi bisa memiliki posisi strategis untuk memberikan intervensi kepada pemerintah soal keberlanjutan ketahanan pangan di Indonesia.” Caranya, Timotheus melanjutkan, dari menyusun data pelaporan yang dibutuhkan kebijakan pemerintah untuk ketahanan pangan, serta menginisiasi program bersama untuk mengsolusikan ketahanan pangan dan gizi.

“Beberapa pihak menganggap (perubahan iklim) sepele. Aku tidak.” Kalimat tegas itu keluar dari mulut gadis remaja 16 tahun asal Swedia bernama Greta Thunberg. Greta adalah representasi dari sedikit remaja yang sangat peduli dengan lingkungan, terutama perubahan iklim. Suatu hari di musim panas lalu, Greta membolos dari sekolah. Greta tak sembarang membolos. Ia duduk manis di […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]