× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Untuk Kali Pertama Mikroplastik Ditemukan di Lautan Es Antartika

By Redaksi
Perahu Boat Melintasi Laut Antartika Menuju Bongkahan Es. Foto : Robert German / Alamy Stock Photo.

MajalahCSR.id – Meski dunia tengah dilanda pandemi COVID-19, tapi laporan terbaru menyebut, ancaman limbah plastik masih terus berlanjut. Sebuah temuan yang diterbitkan dalam Marine Pollution Bulletin, lebih dari satu dekade lalu, mengungkapkan, untuk kali pertama partikel mikroplastik ditemukan di lautan es Antartika. Diperkirakan keberadaan materi plastik tersebut saat ini sudah dalam jumlah yang cukup besar.

Dilasir dari ecowatch, pada 2009, para ilmuwan sudah menemukan 96 partikel mikroplastik yang berasal dari 14 jenis polimer (plastik) di kawasan Casey Station di Timur Antartika. Para ilmuwan percaya, kondisi perairan yang beku masih menyimpan banyak pecahan mikroplastik yang terperangkap. Ibaratnya, kawasan ini seperti bendungan sampah mikroplastik yang akan pecah ketika esnya mencair.

“Kondisi wilayah Laut Selatan yang terpencil menyebabkannya sulit terlindungi dari polusi limbah plastik, yang pencemarannya kini ke banyak perairan,”keluh Anna Kelly, salah satu ilmuwan yang melaporkan di jurnal Marine Pollution Bulletin.

Partikel plastik berukuran kurang dari 5 milimeter kian banyak terlihat di habitat laut terpencil. Sejak ilmuwan melacak keberadaan mikroplasti 6 tahun lalu, mereka menemukan fakta adanya pecemaran plastik di permukaan air hingga dasar perairan laut Arctic. Meskipun posisinya sangat terpencil, namun tetap saja tak luput dari pencemaran.

“Terbentuk dari air garam, sekitar 80% laut Antartika meleleh dan kembali menjadi es tip tahunnya. Situasi ini memberikan kesempatan bagi mikroplastik untuk kembali tertahan dalam bongkahan es,”ucap Anna. Anna Kelly adalah anggota tim ilmuwan dari Institut Studi Kelautan dan Antartika Divisi Kelautan Antartika Australia.

Para ilmuwan dalam proses penelitiannya, memakai pakaian khusus yang disebut Tyvek (mirip hazmat) dalam memproses sampel bongkahan es untuk diteliti. Hal ini agar mereka terhindari dari potensi kontaminasi silang.  

Menurut Polar Science Center, lembaga studi kutub bumi, rerata dari 12 partikel mikroplastik yang ditemukan di perairan tersebut seolah ada kaitannya dengan pantai. Jumlah partikel tersebut diketahui lebih sedikit, namun berukuran lebih besar. Ini artinya, pencemaran diduga kuat berasal dari sumber lokal atau wilayah yang tak jauh.

“Sumber lokal ini bisa berarti peralatan dan pakaian yang dipakai turis dan para ilmuwan sendiri. Selain itu juga kami mengidentifikasi serat dari plastik yang biasanya digunakan industri penangkapan ikan,”jelas Anna.

Mikroplastik yang terperangkap di bongkahan es permukaan, tidak tenggelam ke dasar laut, menyebabkan keberadaannya yang lebih lama di permukaan. Hal ini juga menyebabkannya terkonsumsi oleh hewan laut kecil seperti udang kecil yang menyangkanya makanan. Keberadaan mikroplastik ini juga menimbulkan konsekuensi biogeokimia (reaksi biologi, geologi, kimia, dan fisika).

Para ahli berupaya untuk menemukan cara yang bisa memulihkan kondisi di sana sekaligus mengukur kebradaan mikroplastik di wilayah kutub bumi.  

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]