× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Universitas Pancasila Luncurkan Sekretariat SDG  

By Redaksi
Dok. Rukmi/Majalahcsr.id

Jakarta – Majalahcsr. Universitas Pancasila (UP) yang telah berdiri lebih dari setengah abad (51 tahun) membuktikan dukungan kuatnya kepada pemerintah. Dukungan tersebut terlihat dengan diluncurkannya sekretariat Sustainability Development Program (SDG) oleh UP pada selasa (12/12).

Peluncuran sekretariat SDGs ini merupakan langkah maju, mengingat seringkali lembaga hanya membuat komitmen tanpa tindak lanjut. Dengan adanya sekretariat ini menunjukkan keseriusan dalam turut mensukseskan SDGs.

Di Indonesia sendiri, selain di UP terlebih dahulu sudah diluncurkan di Universitas Padjadjaran. Ketuanya adalah mantan Menteri Bapenas, Armida Alisjahbana. Sedangkan di UP sendiri keberadaan sekretariat berada dibawah fakultas tehnik.

Salah satu kegiatan yang akan direncanakan dalam konteks SDG adalah akses air bersih untuk pulau terluar. Namun menurut Dekan Fakultas Tehnik, Dr.Ir.Budhi M Suyitno, IPM, UP akan membuat prototype dahulu sebelum ditawarkan keluar.

”Hal ini sejalan dengan program Indonesia Global Compact Network (IGCN) untuk memberikan akses air bersih di pulau Pari,” ujarnya saat konferensi pers Peran Perguruan Tinggi Dalam Rangka Mendukung Program Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 2013 di Kampus UP Jakarta, Selasa (12/12).

Menanggapi hal tersebut, Pengembangan Produksi Bersih (PPBN ) Timotheous Lesmana menyarankan agar melakukan asesment teknologi bersih untuk produksi yang akan dibuat di Universitas Pancasila.

“Pusat produksi bersih nasional (ppbn), siap memfasilitasi dan melakukan asesment tersebut mengunakan sisa anggaran 2017,” ujar Timo.

 

Inkubator

Selama ini satu-satunya skema partisipasi dunia usaha, yang paling populer antara perguruan tinggi dan dunia usaha adalah Corporate Social Responsibility (CSR). Baik dalam bentuk sumbangan pendidikan, penyediaan sarana dan prasarana maupun beasiswa.

Menurut Pengurus Forum CSR Kessos, Salman Bachtiar patut disayangkan karena banyak skema lain yang lebih berkelanjutan dan bermanfaat bagi perusahaan. Sehingga penerima manfaatnya tidak hanya perguruan tinggi tapi juga perusahaan.

Ia mencontohkan pengembangan pusat-pusat penelitian terapan kampus yang didirikan di area industri. Misalnya kerjasama antar universitas di New Zealand dengan peternakan sapi.

Universitas disana membuat tempat penelitian langsung di tempat industri, dengan memanfatkan sumber daya industri yang ada. Hal ini selain membuat para penelitinya megetahui teknologi terbaru yang digunakan, perusahaan juga mendapatkan dukungan riset dari para peneliti tersebut.

Berbeda dengan di Indonesia, umumnya industri memberikan bantuan berupa fasilitas di universitas atau lembaga pendidikan. Sayangnya riset yang dilakukan tidak sinkron dan tidak selalu sejalan dengan kebutuhan perusahaan.

Bentuk-bentuk kerjasama yang menguntungkan kedua belah pihak seperti ini seharusnya lebih banyak dikembangkan oleh perguruan tinggi. Perguruan tinggi bisa saja menjadi inkubator bagi terciptanya kerjasama komersial antar dunia usaha dan perguruan tinggi.

 

 

 

“Yang minum obat setiap hari itu tidak hanya kamu. Yang sakit diabetes juga minum obat. Yang hipertensi juga rajin minum obat.” Itulah kata-kata yang Tice sampaikan kepada Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang ia dampingi agar mau rajin terapi dan minum obat. Tice adalah seorang ibu rumah tangga yang berkomitmen menjadi pendamping ODGJ, bukan perawat […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]