× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Tiga Perempuan di Indonesia, China, dan Vietnam Giatkan Gerakan Tanpa-Sampah

By Redaksi

Tiga sosok perempuan peduli lingkungan tengah beredar viral di media sosial. Mereka, tiga perempuan di Indonesia, China, dan Vietnam ini berbicara kepada BBC terkait langkah mereka dalam mengurangi sampah.

Berdasar laporan Ocean Conservancy 2015, Indonesia, China, dan Vietnam merupakan negara penghasil sampah plastik terburuk dunia. Pemberitaan dan foto yang menunjukkan penumpukan sampah di perairan, hingga matinya mamalia laut dengan beratus kilo sampah plastik di perutnya, menjadi pembicaraan dunia. Atas alasan tersebut, ketiga perempuan ini memulai gerakan tanpa-sampah. Mereka berbicara kepada BBC terkait dengan langkah mereka mengurangi sampah.

Astri Puji Lestari, Indonesia

Dalam 8 tahun terakhir, Astri berusaha hidup tanpa-sampah.  Arsitek berusia 30 tahun ini memanfaatkan akun Instagram-nya untuk menyebarkan gaya hidup tanpa-sampah kepada para pengikutnya.

Hal besar yang menyadarkannya adalah peristiwa longsornya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah, Kota Cimahi,  pada 21 Februari 2005 yang menewaskan ratusan manusia. “Saya pikir, bagaimana jika sampah di TPA berasal dari diri saya. Ini menjadi pendorong utama bagi diri saya untuk lebih bertanggung jawab terkait cara saya membuang sampah,” katanya.

Astri tidak memandang dirinya sebagai seorang ‚Äėpahlawan-lingkungan‚Äô, karena ia meyakini perjalanannya untuk mengurangi plastik akan berlangsung seumur hidup. Tapi ia pun menyadari, kesadaran tersebut tak boleh berhenti pada diri sendiri melainkan perlu ditularkan untuk melakukan gerakan bersama. Pemerintah Indonesia telah menetapkan sasaran untuk mengurangi sampah plastik di laut sampai 70% pada tahun 2025. Dan menurut Astri, media sosial memainkan peran besar dalam menghimpun gerakan tanpa-sampah di Indonesia. Di akunnya, Astri di antaranya berbagi tentang membuat sabun cuci pakaian sendiri. Ia sebutkan, dengan sebuah langkah sederhana yang hanya memerlukan empat hal yakni soda kue, soda cuci, sabun batangan, dan minyak, kita sudah memilih produk yang lebih ramah lingkungan.

“Kadang saat memberikan tips di internet, saya menemukan orang lain yang memecahkan masalah yang berbeda terkait dengan sampah dan konsumsi dan kita dapat belajar satu sama lain,” kata perempuan yang tinggal di Bandung ini.

Menurut Astri, ada tiga tantangan terbesar dalam menerapkan gaya hidup ramah lingkungan, yakni kemalasan, apatisme, dan ego dalam mengonsumsi berbagai hal. ‚ÄúIni adalah perjalanan panjang. Tetapi hal yang mendorong saya untuk tetap melakukan hal ini adalah dorongan untuk menyaksikan lingkungan kita menjadi bersih dan sehat. Ini adalah sebuah hak yang istimewa,” tandasnya.

Carrie (šĹôŚÖÉ Yu Yuan), China

Carrie adalah satu dari sejumlah perempuan China yang bergabung dalam gerakan tanpa-sampah dunia. Gerakan ini yakni melakukan pengurangan konsumsi, meminimalkan jumlah limbah, mendukung pengkomposan dan daur ulang, serta memastikan produk yang dipakai ramah lingkungan dan dapat didaur ulang.

Awalnya Carrie mengenal gerakan ini saat menonton pidato Bea Johnson, salah satu pendukung gerakan ini di Amerika Serikat. Namun baru saat pindah ke flat tahun 2016, ia mulai benar-benar memikirkan kebiasaan konsumsinya. “Saat mengemas barang-barang, saya menyadari banyak barang yang tidak pernah saya pakai atau sebenarnya tidak saya perlukan dari permulaan,” katanya kepada BBC.

Carrie mengajak berusaha hidup tanpa-sampah dengan memulai dari hal kecil dan mencari alternatif yang berkelanjutan terkait dengan barang sehari-hari. Misalnya ia mengganti sikat gigi plastik dengan yang dapat didaur ulang secara alamiah. Ia juga membuat sendiri pasta gigi dan minyak wajah, sehingga mengurangi produksi sampah.

Tahun lalu, bersama rekannya, Joe Harvey, Carrie membuka toko tanpa-sampah pertama di ibu kota China, Beijing.

Thao Hoang, Vietnam

Thao Hoang mengalami ketertarikan terhadap persoalan sampah adalah saat belajar di Jepang. Ia melihat sejumlah pengecer Jepang memberikan potongan harga bagi tiap konsumen yang berbelanja dengan membawa tas mereka sendiri. Hoang berpikir pola tersebut bisa diterapkan di Vietnam.

Kembali ke Vietnam, Hoang menjadikan dirinya sebagai contoh. Ia menunjukkan kepada orang lain, menjalankan hidup tanpa-sampah itu mudah. Lewat tindakannya, ia berharap  dapat mendidik sesama warga terkait betapa pentingnya masalah polusi plastik. Karena ia merasa, banyak warga Vietnam yang ingin menerapkan cara hidup lebih lebih ramah-lingkungan, namun tidak mengetahui caranya.

Hoang mulai menjalankan sebuah toko tanpa sampah di Vietnam bernama Go Eco Hanoi. 

“Saya ingin menciptakan sebuah tempat di mana orang dapat datang dan berbelanja kebutuhan sehari-hari sehingga jika Anda ingin membeli makanan dari penjual atau di toko serba ada, maka Anda dapat membawa wadah Anda sendiri dan meminta mereka untuk menaruh daging atau makanan ke dalamnya,” kata Hong.

Hong juga menciptakan halaman Facebook N√≥i Kh√īng VŠĽõi T√ļi Nylon yang artinya ‚ÄėKatakan Tidak Terhadap Tas Plastik‚Äô pada tahun 2016. Kini ia memiliki lebih dari 70.000 pengikut yang mendukungnya dan terlibat dalam lokakarya yang Hoang selenggarakan.

Hoang juga bekerja dengan para pebisnis di Hanoi untuk memastikan mereka menerapkan biaya tambahan atas penggunaan tas plastik. Pun sebaliknya, memberikan insentif atau poin ramah lingkungan jika mereka tidak memakai tas plastik.

Keywords:

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]