× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

The Miracle Effect dari Praktik Corporate Social Initiative di Indonesia

By Redaksi

Judul Buku :        Indonesia’s Best Practise of Corporate Social Initiative

Pengarang :        Lis Hendriani, Godo Tjahjono, PhD

Penerbit :            Swa

Tahun Terbit :    2018

Tebal Halaman: 205 halaman

Di era sebelumnya, entitas pelaku industri adalah badan profit yang mencoba mengeksploitasi keuntungan materil dan immaterial dengan sebesar-besarnya. Eksistensi dan aktivitas mereka seakan terpisah dari ekosistem sosial di lingkungan sekitar. Namun, kini jaman sudah bergeser. Industri tak bisa lagi mengandalkan eksklusivisme sebagai “budaya” perusahaan dalam menghadapi lingkungan sosial.

Era industri 4.0 kian menegaskan bahwa perusahaan dan lingkungan sosial adalah sisi mata uang yag tak terpisahkan. Perusahaan jelas membutuhkan suasana kondusif dalam operasional mereka. Masyarakat di sekitar lingkungan operasional perusahaan pun berhak mendapatkan lingkungan yang layak huni. Kedua kepentingan ini dipertemukan dalam program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan. Soal inilah yang dibahas secara lengkap dalam buku Indonesia’s Best Practise of Corporate Social Initiative.

Terdapat 11 perusahaan multinasional besar yang diulas penulis berkenaan pelaksanaan CSR mereka. Desain buku ini menarik karena dikemas colorful. Setiap perusahaan yang dibahas dibedakan berdasar warna halamannya. Sehingga, pembaca lebih mudah mengingat dan menandai bagian buku, selain tentunya secara visual enak dibaca.  

Pemerintah sudah mengeluarkan aturan dasar terkait program CSR. Dalam UU Nomor 22 Tahun 2001, pasal 3 ayat (11) huruf p, menyebutkan, program sosial yang harus dibuat perusahaan yang bergerak di bidang gas dan minyak bumi adalah mendukung pengembangan masyarakat di sekitarnya dan menjamin hak-hak masyarakat adat (hal. 11).

Namun, pengenaan istilah “pemberdayaan masyarakat” dalam program CSR baru hadir dalam UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. UU ini mendefinisikan pemberdayaan masyarakat sebagai “usaha untuk meningkatkan kemampuan masyarakat, baik secara individual maupun kolektif, agar menjadi lebih baik tingkat kehidupannya” (hal. 11).

Lalu apa bedanya CSR dengan Corporate Social Initiative (CRI) seperti judul buku? Corporate Social Initiative muncul dari penyempurnaan CSR. Philip Kotler dan Nancy Lee (2005) menyebutnya dengan Marketing & Corporate Social Initiative (M-CSI) (hal 14). Menurut keduanya perusahaan tak lagi cukup mengadopsi pemahaman sekedar berbuat baik agar terlihat baik. Perusahaan modern seharusnya melakukan bisnisnya dengan baik, berbuat baik, serta melakukan semua yang bisa dilakukannya dengan cara paling baik.

Marketing menjadi salah satu pilar CSR, karena menurut Kotler dan Lee, dengannya perusahaan dapat melibatkan pelanggan dalam perbuatan baik yang mereka lakukan. Melalui marketing, perusahaan tidak hanya baik di mata masyarakat yang menjadi target sosialnya, melainkan juga baik di mata konsumen,  investor, analisis keuangan, kolega bisnis, laporan keuangan tahunan, dan pemberitaan media.

Tidak hanya teori buku ini juga menjelaskan secara gamblang bagaimana 11 perusahaan melakukan M-CSI mereka dengan tepat. Diantaranya Medco E&P yang mendukung pengembangan kawasan wisata di Maratua, Kalimantan Utara; Nestlé Indonesia turut memberdayakan peternak sapi dan petani kopi pemasok bahan baku produknya; Tetra Pak Indonesia yang menerapkan praktik bisnis berwawasan lingkungan. Selain keempat perusahan tadi, ada 7 perusahan lain yang turut dibedah program M-CSI nya dalam buku ini. Ketujuh perusahaan itu adalah Campina, Citi Indonesia, GMF AeroAsia, Indosat Ooredoo, Konimex, Sharp, dan United Tractors.

Kotler dan Lee menyebut, terdapat 6 pilar M-CSI untuk merealisasikan komitmen perusahaan yaitu, Corporate Philanthropy, Social Responsible Business Practices, Community/Employee Volunteering, Corporate Cause Promotion, Caused-Related Marketing, dan Corporate Social Marketing. Semuanya didefiniskan melalui bahasa yang ringkas, cerdas, jelas dan sederhana. Hal ini tentunya tidak mengherankan, karena penulis buku ini Lis Hendriani merupakan senior editor di Majalah MixMarcom, sementara koleganya, Godo Tjahjono merupakan lulusan PhD bidang Consumer Behaviour dari Western Sydney University, Australia.

Avatar

Redaksi

“Beberapa pihak menganggap (perubahan iklim) sepele. Aku tidak.” Kalimat tegas itu keluar dari mulut gadis remaja 16 tahun asal Swedia bernama Greta Thunberg. Greta adalah representasi dari sedikit remaja yang sangat peduli dengan lingkungan, terutama perubahan iklim. Suatu hari di musim panas lalu, Greta membolos dari sekolah. Greta tak sembarang membolos. Ia duduk manis di […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]