× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Tanggung Jawab Sosial dari Industri Rokok

By Redaksi
sumber : Sejarahsemesta.blogspot.com

 

Indonesia Perokok Tertinggi

Tembakau merugikan kesehatan, keuangan, dan semangat Indonesia. Atlas Tobbaco melakukan riset yang menempatkan Indonesia dalam ranking pertama sebagai jumlah perokok tertinggi di dunia. Pada tahun 2016 jumlah perokok di Indonesia mencapai 90 juta jiwa. Indonesia sendiri menempati urutan tertinggi prevalensi merokok bagi laki-laki di ASEAN yakni sebesar 67,4 persen. Peringkat ini membuat setiap tahun lebih dari 217.400 orang meninggal oleh penyakit akibat tembakau. Di lain pihak pertumbuhannya sungguh mencengangkan, lebih dari 2.677.000 anak-anak dan lebih dari 53.767.000 orang dewasa terus menggunakan tembakau setiap hari.

 

Perokok remaja usia 15-19 tahun pada tahun 2001-2016 semakin bertumbuh.

Sumber : SURKESNAS (2001, 2004), RISKESDAS(2007, 2010, 2013), Hasil sementara Sirkesnas 2016- Balitbangkes.

 

Kecenderungan peningkatan jumlah perokok tersebut membawa konsekuensi jangka panjang. Semakin banyak generasi muda yang terpapar dengan asap rokok tanpa disadari terus menumpuk zat toksik dan karsinogenik yang bersifat fatal. Apalagi saat ini anak-anak dan kaum muda semakin dijejali dengan ajakan merokok oleh iklan, promosi dan sponsor rokok yang sangat gencar.

 

Perokok usia 10-14 tahun meningkat

Sumber : Survey Kesehatan Nasional 1995, 2001, 2004 and Riskesdas 2007,2010.

 

Grafik diatas menunjukkan perbandingan data pada Susenas tahun 1995 dengan Riskesdas tahun 2010. Pada grafik usia 10-14 tahun menunjukkan terjadi peningkatan tajam, grafik berwarna hijau (data tahun 1995) menunjukkan jumlah perokok sebesar 8,9% dan pada tahun 2010 meningkat menjadi 17,5%. Peningkatan ini kurang lebih sebesar 80%.

Hal nyata yang membuat miris, sebanyak 84,8 juta jiwa perokok di Indonesia berpenghasilan kurang dari Rp20 ribu per hari. Perokok di Indonesia 70% di antaranya berasal dari kalangan keluarga miskin. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis bahwa pada bulan September 2016, rokok adalah komoditas yang menyumbang kemiskinan sebesar 10,70 persen di perkotaan dan pedesaan.

Bisa disimpulkan bahwa orang lebih suka mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk membeli rokok, daripada untuk biaya peningkatan taraf hidup mereka, seperti pendidikan, kursus ketrampilan sampai investasi. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, konsumsi rokok tahun 2010 menyebabkan pengeluaran tak perlu sebesar Rp231,27 triliun. Dana sebesar itu dibuang sia-sia, tak ada manfaat. Justru menyebabkan kematian dan kemiskinan.

 

Rata-rata Pengeluaran Bulanan untuk Tembakau & Sirih, dari Kelompok Terkaya (Q5) dan Termiskin (Q1)

Sumber : Susenas 1995, 2004, SKRT 2001, Riskesdas 2007, 2010, 2013.

 

Redaksi

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]