× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Taman Bambu Karangsalam, Berwisata Sambil Belajar

By Redaksi

Ada yang sudah pernah berkunjung ke Taman Bambu Karangsalam, Baturraden? Saat ini namanya memang belum populer. Namun, lokasi yang awalnya adalah kebun bambu untuk konservasi mata air ini berpotensi menarik wisatawan untuk berkunjung.

Banyak studi menyebutkan kemampuan bambu dalam menyimpan air. Philip Mahalu dari CIFOR, misalnya, menyebutkan kalau bambu menyerap 90% air hujan, 10% menguap. Riset dari ahli bambu LIPI Prof Elizabeth A Widjaja menunjukkan jika bambu memiliki peran penting bagi lingkungan.

Penelitian di China menyebutkan kalau hutan bambu mampu meningkatkan penyerapan air ke dalam tanah hingga 240% jika dibandingkan hutan pinus. Dedaunan bambu yang berguguran di hutan terbuka paling efisien dalam menjaga kelembaban tanah dan memiliki indeks erosi paling rendah dibanding 14 jenis hutan yang lain. Di India, penghijauan dengan bambu pada bekas tambang batu bara mampu meningkatkan muka air tanah 6,3 meter hanya dalam 4 tahun.

Demikian juga dengan penelitian Prof Koichi Ueda dari Kyoto University menyebutkan, kalau sistem perakaran bambu monopodial sangat efektif di dalam mencegah bahaya tanah longsor. Hutan bambu dapat menyerap CO2 sebanyak 62 ton/ha/tahun, sementara hutan tanaman lain yang masih baru hanya menyerap 15 ton/ha/tahun.

Bambu juga melepaskan oksigen sebagai hasil fotosintesis 355 lebih banyak dari pohon lain. Bambu memiliki keunggulan, di antaranya adalah tumbuhnya yang cepat, lebih fleksibel dibanding kayu, dan multiguna. Bambu mampu menghindari erosi, memperbaiki kandungan air tanah, dan renewable-sustainable. Peneliti Walter Liese menyebutkan produksi biomassa tujuh kali lipat dari pohon lainnya dengan prodikso 50-100 ton setiap ha.

Di Indonesia sendiri, tanaman bambu telah banyak dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Diyakini pula dapat menyokong pasokan air dalam tanah. Hal itulah yang melatari warga Baturraden untuk menjadikan bambu sebagai tanaman pelindung.

Adalah Narsim (50), warga Desa Karangsalam, Kecamatan Baturraden, Banyumas, Jawa Tengah (Jateng) yang mendapat tugas untuk menanam bambu. Tahun 1996, saat ia masih menjadi tukang kebun. Ia ditugasi menanam 90 rumpun bambu di salah satu areal dekat air terjun, tepatnya di sisi utara desa setempat. Areal secara keseluruhan sekitar 5 hektare (ha) dengan kontur tanah naik turun. Penanaman mulai dilakukan dari atas menuju ke bawah, mengikuti aliran sungai. Alhasil, 13 tahun kemudian, daerah yang awalnya semak belukar tersebut berubah menjadi hutan bambu berbagai jenis.

Dari 90 rumpun bambu yang ditanam, tak seluruhnya bertahan. Mati atau terbawa hanyut sungai. Menurut Narsim, ada 38 rumpun tersisa, dengan jenis beragam, baik bambu lokal Banyumas maupun dari Lampung dan wilayah lain di Sumatera. Seperti dikutip Mongabay, Narsim menerangkan, beberapa jenis bambu cukup unik, di antaranya bambu merak, bambu kuda, dangkil, dan bambu duri.

“Kalau bambu merak, tumbuhnya tidak ke atas saja, sebagian besar malah ke samping. Sedangkan untuk bambu kuda, ada pola garis pada ruas-ruas batang bambu. Sementara kalau jenis dangkil, batangnya tak lurus, karena setiap ruas berbeda. Kalau bambu berduri, hampir seluruh batangnya ada durinya. Masing-masing bambu memang memiliki karakteristik. Hanya saja, sampai sekarang nama-nama untuk bambu belum dilengkapi,” jelasnya.

Kini kebun bambu tersebut telah dibuka sebagai kawasan wisata. “Kami menamakannya Taman Bambu, dilengkapi dengan air terjun atau curug dan dinamai Green Waterfall. Karena di kanan kirinya hijau dan airnya jernih,” jelas Pengelola Wisata Taman Bambu Karangsalam, Baturraden, Mei Sarwono yang juga Ketua II Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Karangsalam tersebut.

Menurut Mei, pihaknya mengembangkan wisata edukasi di Taman Bambu dengan mengenalkan berbagai jenis bambu dan manfaatnya. Bahkan mereka berencana membuat buku yang menyajikan informasi mengenai masing-masing spesies bambu. Diharapkan para pengunjung bukan hanya berwisata, namun sekaligus mengetahui seluk beluk spesies bambu.

Foto : Mongabay

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]