× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Tak Lama Lagi Pengadilan Kriminal Internasional Bisa Tuntut Pelaku Ecocide

By Redaksi
Ilustrasi Penggundulan Hutan. Foto : Istimewa/ Change.org

MajalahCSR.id – Tak ada lagi tempat bersembunyi bagi pelaku ecocide! Kelompok pengacara internasional sedang bekerja sama menyusun definisi kejahatan ecocide dalam aturan hukumyang diperbaharui. Tujuannya mengriminalisasikan perusak ekosistem. Mereka berharap bisa memberikan hukuman sepadan dalam aturan hukum yang lebih lengkap bagi pelaku yang menghalangi atau yang akibat tindakan cerobohnya merusak ekosistem bumi.

Parlemen Swedia sudah meminta organisasi Stop Ecocide Foundation untuk memulai proyek ini. Upaya ini bertepatan dengan peringatan 75 tahun perang Nuremberg – yang terjadi saat perang dunia kedua –    untuk mengadili para pelaku kejahatan perang NAZI. Pendukung gerakan anti ecocide menginginkan agar kejahatan lingkungan tersebut disamakan dengan aksi genosida dan kejahatan perang seperti yang dilakukan NAZI. Profesor Phillipe Sands dari University College London, dan Florence Mumba, hakim di Pengadilan Kriminal International atau International Criminal Court (ICC) memimpin panel untuk langkah koordinasi inisiatif.

Pengadilan Kriminal Internasional yang berkedudukan di Den Haag, Belanda, sudah sejak lama berusaha memprioritaskan kejahatan lingkungan seperti pengambilalihan lahan illegal, perusakkan lingkungan, dan eksploitasi sumber alam. “Ini saat yang tepat untuk menanggulangi kekuatan kriminal internasional demi melindungi ekosistem lingkungan kita,” kata Sands kepada The Guardian.

“Harapanku tim kerja ini dapat mendefinisikan (kejahatan lingkungan) secara praktis, efektif dan berkelanjutan, yang akhirnya bisa mendukung amandemen pembuatan undang-undang ICC,” harap Sands.  

Sejumlah negara kecil akan menjadi negara pertama diberlakukannya pengadila ecocide. Vanuatu di Laut Pasifik dan Maldives di Samudera India adalah dua negara yang sudah meminta secara serius tindakan pengadilan internasional atas kejahatan ecocide.

Saat ini para penegak hukum masih berdiskusi seputar kualifikasi ecocide secara hati-hati. Termasuk pelanggaran apa yang dikategorikan sebagai ecocide dan mana yang tidak termasuk. Pendefinisian ini disebut akan lebih jauh menyentuh pelanggaran yang terjadi.

“Ini akan menjerat pihak yang lebih besar, yang sistematis, dan kerusakkan yang meluas,” kata Jojo Meshta, pemimpin Stop Ecocide Foundation. “Kita di sini mungkin berbicara soal deforestasi hutan Amazon, penangkapan ikan di laut dalam, dan pelaku tumpahan minyak di lautan. Kami ingin hal-hal ini juga menjadi pembahasan dan bagian investigasi ICC,” tegasnya.

Menurut aktivis lingkungan, M. Ridha Saleh, ecocide merupakan kejahatan modern setara dengan kejahatan internasional lain yang disebut dalam Statuta Roma karena tindakan, pelibatan, dan dampaknya terhadap esensi damai dan perdamaian penduduk, hak hidup, dan hak untuk hidup serta tata kelangsungan kehidupan manusia dan lingkungan hidup masa kini dan masa yang akan datang.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]