× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Tahun Politik: Produktivitas, Transparansi dan Pergantian Karyawan Ancaman Perusahaan secara Internal

By Redaksi

Berlangsungnya ajang politik terbesar tahun ini, pemilihan umum serentak: Pemilihan Presiden dan Pemilihan Legislatif, berdampak besar pada berbagai bidang kemasyarakatan. Mulai ranah politik itu sendiri, hukum, sosial, tak terkecuali ekonomi/bisnis. Ditambah lagi, pertumbuhan ekonomi global yang diprediksi lebih rendah ketimbang 2018, semakin berimbas pada dunia usaha di Indonesia.[1] Keduanya berpotensi menimbulkan ketidakstabilan, atau kondisi VUCA: penuh gejolak (volatility), ketidakpastian (uncertainty), rumit (complexity), dan serba kabur (ambiguity). Mengantisipasi tantangan VUCA, budaya perusahaan yang kuat yakni kultur yang mengedepankan keterlibatan karyawan, menjadi krusial. Untuk membangun itu, perusahaan harus terlebih dahulu mengatasi tiga ancaman utama secara internal, yaitu: 1) tekanan produktivitas, 2) tranparansi, dan 3) retensi karyawan. Pemimpin yang menginspirasi tumbuhnya emosi positif menjadi faktor penting untuk mewujudkan budaya kuat perusahaan. Memahami dan menjawab kondisi tersebut, Dale Carnegie Indonesia akan mengadakan Seri Seminar “Is Your Corporate Culture Engaging Employees in VUCA World?” di Surabaya, Bandung dan Jakarta pada tanggal 12, 14 dan 19 Februari 2019 mendatang.

Survei terbaru Dale Carnegie & Associates di lima negara (Jerman, Polandia, India, Amerika Serikat dan Indonesia) mengungkap bahwa 45% pemimpin perusahaan merasa tekanan untuk meningkatkan produktivitas menjadi tantangan utama membangun budaya perusahaan yang demikian. Sementara, 39% pemimpin menganggap transparansi di tempat kerja dan meningkatnya mobilitas (keluar-masuk) karyawan menjadi penyebab lain sulitnya tercipta budaya kuat sebuah perusahaan. Dale Carnegie sebagai thought leader menggagas survei ini untuk memahami persepsi para pemimpin tentang kekuatan budaya perusahaan dan tindakan yang tepat untuk memperbaikinya.

“Dalam guncangan VUCA, budaya perusahaan sangatlah penting utamanya menggalang kekuatan internal, satu-satunya yang bisa diandalkan menghadapi lingkungan bisnis yang berubah. Sebab, lewat budaya di lingkungan kerjalah karyawan bisa melihat bagaimana mereka berandil dalam organisasi, berhubungan dengan atasan, memecahkan masalah, serta memahami tujuan perusahaan,” tutur Paul J. Siregar, MSc.C.Eng. selaku CEO Dale Carnegie Indonesia. “Budaya perusahaan yang kuat, atau culture champion, bisa tercapai jika para pemimpin perusahaan menyadari pentingnya keterlibatan karyawan. Di sinilah pemimpin yang mampu mengembangkan emosi positif berpengaruh besar. Bagaimana membangun budaya yang melibatkan merupakan tema sentral dari seminar yang akan kami adakan ini,” imbuhnya.

Survei terbaru lain dari Dale Carnegie & Associates yang bertajuk ‘Pendorong Emosional Keterlibatan Karyawan: Bagaimana Organisasi dan Pemimpin Dapat Mengembangkan Emosi Positif’ menyatakan bahwa sebagian besar keputusan sangat dipengaruhi oleh emosi. Survei terhadap 3.300 responden di 10 negara ini (Amerika Serikat, Canada, Mexico, Inggris, Brazil, China, Germany, France, India dan Taiwan) memperlihatkan bahwa perasaan dihargai (valued), percaya diri (confidence), terhubung (connected) dan diberdayakan (empowerment) merupakan emosi-emosi positif yang perlu diperhatikan seorang pemimpin guna menciptakan keterlibatan karyawan.

Sebesar 55% dari responden mengaku tidak terlibat (disengaged) terhadap perusahaan apabila pemimpin mereka tidak mengasosiasikan emosi positif. Sebaliknya, 40% dari responden menjawab terlibat penuh (fully engaged) terhadap tempatnya bekerja jika pemimpin mereka menerapkan 3 sampai 4 emosi positif tersebut. Tak hanya emosi positif, di dalam sebuah perusahaan tentu sangat umum karyawan merasakan emosi negatif terkait hubungan dengan pemimpin mereka. Riset di atas menyebut, 1) cemas (14%), 2) tidak tertarik (11%), dan 3) terganggu (10%) merupakan ragam emosi negatif karyawan perusahaan yang sering dipicu oleh atasan langsung mereka.

“Menghadapi tantangan VUCA, manajemen perusahaan mau tidak mau harus berbenah diri untuk menguatkan budaya di lingkungan kerja demi kelangsungan bisnis. Tak berhenti di situ, mereka juga hendaknya membuka mata untuk melihat seberapa mampu para pemimpin bisa memberi inspirasi emosi positif kepada karyawan. Tanpa kapabilitas tersebut, culture champion tak bisa tercapai dan masa depan perusahaan pun terancam,” tegas Paul. Lebih lanjut, “Hasil survey kami menunjukkan besarnya peran para pemimpin dan atasan langsung dalam menguatkan – atau bahkan melemahkan – keterlibatan karyawan. Seri seminar kami pada Februari 2019 mendatang akan mendalami hal-hal praktis yang dapat dilakukan para atasan untuk meningkatkan keterlibatan bawahannya. Salah satunya adalah bagaimana menciptakan emosi-emosi positif bagi bawahan dan lingkungan kerjanya agar menumbuhkan budaya perusahaan yang tangguh dalam menghadapi kondisi VUCA ini.”

[1] IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi global tahun ini sebesar 3,5 persen, lebih rendah daripada 2018 yang mencapai 3,7 persen | https://www.imf.org/en/Publications/WEO/Issues/2019/01/11/weo-update-january-2019

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]