× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Tahun 2020 Disebut Sebagai Tahun Terpanas

By Redaksi
Kebakaran Hutan di Kalifornia, Amerika Serikat pada 2020. Foto : AP Photo/Ringo H.W. Chiu

MajalahCSR.id – Tahun 2020 disebut sebagai tahun terpanas melebihi 2016. Hal ini diumumkan lembaga monitoring iklim Uni Eropa, Jumat (8/1/2021). Pengumuman tersebut semakin menguatkan bahwa bumi sedang menuju era pemanasan global yang sangat mengkhawatirkan dan mengancam kehidupan.

Enam tahun sejak 2015 adalah enam kali bumi mengalami tren tahun-tahun ‘terhangat’, demikian disampaikan Copernicus Climate Change Service (C3S).

Tahun kemarin (2020) merupakan rekor tertinggi lonjakan kenaikan suhu hingga 1,25 derajat celcius di atas standar kenaikkan iklim yang biasa disebut pre-industrial level. Hal ini, menurut NASA, merupakan peringatan lain karena kenaikan itu tidak dibarengi kemunculan El Nino yang biasanya mempengaruhi kenaikan suhu rata-rata.

“Ini sangat jelas bahwa 2020 adalah tahun terhangat mengingat tanpa kemunculan El Nino atau La Nina,” kata Zeke Hausfather, direktur iklim dan energi di Breaktrough Institute di Oakland, Kalifornia, kepada AFP.

 Selama munculnya El Nino, yang terjadi setiap 2 hingga 7 tahun, hangat permukaan air di lautan Pasifik dapat memicu kenaikan suhu global. Sementara La Nina, berdampak sebaliknya menurunkan suhu.

 “2020 adalah pengecualian pada kebiasaan menghangatnya suhu iklim,” jelas direktur C3S, Carlo Buontempo. “Kejadian ini adalah pengingat pentingnya ambisi untuk mengurangi emisi demi mencegah dampak iklim yang makin parah di masa depan.”  

Pada 2015 lalu, negara-negara di dunia sepakat berupaya membatasi terjadinya kenaikan suhu akibat perubahan iklim di bawah 2 derajat Celsius. Setidaknya di angka 1,5°C. Bahkan IPCC atau badan iklim di PBB menyebut kenaikan 1,5°C adalah ambang yang paling aman.

Kenaikan yang hanya 1°C sejauh ini sudah mengundang banyak bencana kekeringan yang mematikan, gelombang panas, banjir akibat hujan, badai super yang makin menghancurkan akibat naiknya permukaan laut.   

2020 adalah saksi di mana terjadinya rekor fenomena alam yang buruk, sebagai contoh, kemunculan topan dahsyat di Atlantik.  

Sementara itu, level CO2 di atmosfir pun mengalami peningkatan. Saat ini konsentrasi CO2 mencapai 413 parts per juta, meningkat 50% dibanding awal abad 18, sebelum emisi bahan bakar fosil membebani langit dengan efek panas perangkap gas rumah kaca.

“Sejak CO2 berakumulasi di atmosfir bagaikan air di bak mandi, jika kita mampu menurunkan ‘keran’ hingga 7%, peningkatan kadar CO2 akan melambat,” cetus Stefan Rahmstorf, Kepala Analis Sistem Bumi di Institut Postdam untuk riset dampak iklim.

“Jika kita terus melakukan kegiatan ‘business as usual’ (tanpa ada upaya melakukan solusi), bisa dipastikan kenaikkan suhu melebihi 1,5°C akan terlampaui pada pertengahan 2030,” tegas  Zeke Hausfather. Menurutnya, peningkatan suhu secara stabil pada angka 0,2°C terjadi sejak 1970-an akibat emisi CO2 dan gas rumah kaca.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]