× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Produsen Busana Sutra Mewah ini Mengukuhkan sebagai Fesyen Keberlanjutan

By Redaksi
Salah Satu Busana Koleksi niLuu yang Berbahan Sutra Nabati. Foto : niLuu

MajalahCSR.id – Barang mewah dalam bentuk apapun biasanya membawa ongkos lingkungan yang mahal bagi planet bumi. Tapi sebuah perusahaan berbasis di AS mampu mengawinkan konsep mewah dengan ramah lingkungan. Produknya berbahan dasar sutra “nabati”, yang menaruh perhatian pada seleksi bahan keberlanjutan, praktik produksi, dan limbah pasca konsumsi.

Perusahaan dengan brand niLuu ini punya koleksi ragam model busana. Ada baju santai untuk liburan, dan bisa dipakai sebagai luaran busana renang. Selain itu ada koleksi kimono pendek, celana panjang, penutup mata, seprei, hingga sarung bantal. Melansir Inhabitat, seluruh koleksi terbuat dari sutra nabati yang diijinkan PETA (organisasi anti kekerasan pada satwa). Tak ada sutra yang berasal dari ulat sutra, termasuk juga protein hewani.

Merujuk keterangan perusahaan, “Dalam proses pembuatan sutra konvensional, sebanyak 1.000 ulat sutra direbus demi mendapatkan benang yang hanya cukup untuk satu sarung bantal.  Selain itu anda mungkin tidak tahu bahwa perlu tambahan sumsum tulang dan kuning telur sebagai pelembut saat proses pembuatannya di pabrik konvensional, bahkan sekalipun untuk kain katun.”

Untuk tampilan busana “capsule wardobe” atau pakaian lengkap niLuu, seluruh koleksi dapat dipadupadankan secara pas, sementara perusahaan fokus pada kualitas durabilitas (sehingga usia busana menjadi lama). Jika benar-benar sudah tak terpakai, bahan sutra nabati ini bisa terurai di alam bebas. Disebutkan, dalam waktu 2 bulan, setengah beratnya sudah hilang terserap alam. 

Material ini disebut Cupro, merupakan hasil kerja sama antara pengembang bahan asal Jepang, Asahi Kasei, dan pabrik garmen di Turki, negara asal pemilik dan desainer niLuu, Nilufer Bracco. Bracco bahkan langsung turun tangan untuk memilih pihak penyuplai material, yaitu Ipeker Tesktil. Supplier ini sudah lama berpengalaman dan dikenal sebagai pabrik material tekstil yang punya misi keberlanjutan.

“Ipeker punya sejarah 150 tahun dalam dalam industri sutra tradisional. Ipeker artinya sutra pria, dan juga nama belakang dari pemilik. Menariknya, dalam sejarahnya tersebut pabrik ini sudah punya pemahaman bahwa sutra (konvensional) bukanlah produk keberlanjutan, sehingga mereka mengembangkan sutra dari bahan alternatif nabati,” tutur Bracco.

Mengetahui tak ada bisnis yang benar-benar bisa 100% keberlanjutan, niLuu turut mendukung penanaman kembali pohon untuk mengatasi deforestasi. Selain itu, perusahaan juga mendonasikan 10% dari pendapatannya kepada organisasi lingkungan Sustainable Ocean Alliance. Sebagai perusahaan baru, dan penuh semangat, niLuu berusaha menghasilkan produk busana mewah tanpa meninggalkan kompromi untuk melindungi planet dan pekerja.

Untuk merealisasikan pesan perusahaan secara jelas, Bracco mengatakan, ambisi keberlanjutan adalah alasan utama dalam bisnisnya. “Kami sama sekali tidak berpikir untuk menjadi perusahaan yang tidak berkelanjutan yaitu (1) mengabaikan dampak lingkungan, (2) kondisi pekerja yang tak berkeadilan, atau (3) melakukan kekejaman pada satwa. Ini adalah prinsip kami. Kami menyadari bahwa kita tidak hidup dalam dunia yang sempurna, jadi kami berpikir keberlanjutan adalah proses perjalanan, bukan sebuah hasil yang seluruhnya pasti sempurna.”  

Redaksi

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]