× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Susutnya Populasi Serangga, Ancaman untuk Masa Depan

By Redaksi
Spesies Kupu-Kupu Sebagai Serangga Penyerbuk Tanaman. Foto : Wes Koseki - UCI School of Biological Sciences

MajalahCSR.id – Bila anda masih menemukan rupa-rupa serangga seperti kupu-kupu, capung, lebah, dan kumbang ada di sekitaran, anda beruntung. Menurut sejumlah studi, kian hari jumlah serangga di dunia ternyata makin menyusut.

Saat para ahli sibuk berdiskusi dan mencari  tahu penyebabnya, mereka sepakat bahwa kehidupan manusia terhubung dengan keberadaan serangga. Bahkan, jika tak bertindak sesegera mungkin, kita kemungkinan bakal menghadapi bencana di masa depan.

Sejumlah karangan ilmiah yang dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS), sebuah jurnal  sains multidisiplin terkemuka, para ahli menyimpulkan jumlah serangga dalam konteks pengukuran biomassa, jumlah individu, dan spesies. Isu menyusutnya populasi ini sangat penting untuk menjadi perhatian semua pihak.

Saul Cunningham, Direktur Fenner School of Environment & Society, Universitas Nasional Australia, menegaskan pentingnya keberadaan serangga bagi kehidupan manusia.

“Serangga amat penting untuk proses ekologi yang dibutuhkan manusia, seperti ketentuan panen pangan dan pergantian nutrisi dalam tanah,” terang Cunningham. “Karena itulah serangga sering disebut sebagai mahluk kecil yang mempengaruhi dunia.”

Mahluk kecil ini sudah melakukan proses ekologi penting selama jutaan tahun, menjadikan jutaan spesies berkembang di bumi. Sehingga sangat sulit dibayangkan apabila mereka benar-benar hilang.

Memang tak dipungkiri, dalam beberapa dekade terakhir banyak spesies serangga berkurang populasinya. Penyebabnya pun bermacam-macam, mulai perubahan suhu, hujan  besar, kehilangan habitat, sampai penggunaan pestisida.

Secara statistik umum, hilangnya biomassa serangga diperkirakan pada angka 1 sampai 2% per tahun. Namun yang lebih mengejutkan, ada di beberapa wilayah hitungannya hingga 10% per tahun.

“Hal lainnya yang terungkap, penurunan populasi serangga ternyata tak universal. Ada kawasan yang jumlahnya tak menurun,” cetus Cunningham. “Sejumlah riset menegaskan pentingnya pengembangan pertanian praktis untuk mendukung kelangsungan populasi serangga yang sehat.”  

Selain penurunan populasi tidak terjadi secara universal, di sejumlah tempat malah terjadi ‘panen’ populasi. Terutama di kawasan bertemperatur sedang, terjadi ledakkan jumlah dari beberapa spesies. Penyebab terbesarnya diperkirakan naiknya suhu yang mengakibatkan bergesernya habitat menuju kutub.

Contohnya, spesies ngengat yang ada di selatan Inggris. Sementara itu, peraturan perlindungan hukum untuk aliran sungai agar tak tercemar di sejumlah wilayah juga mendongkrak populasi serangga air dan kumbang.   

Namun dengan alasan gambaran besarnya yang rumit, bukan berarti kita lantas tak perlu merasa peduli. Satu hal, kehilangan  satu spesies serangga saja di tengah era perubahan iklim, boleh jadi pertanda situasi buruk di masa akan datang. Bertambahnya jumlah ngengat, serangga air, bahkan kecoa tidak akan berarti apapun jika panen tanaman gagal karena kehilangan serangga penyerbuk.

“Kita dapat belajar dari kawasan yang tak mengalami penyusutan populasi serangga,” saran Cunningham. “Ingat, kita secara global belum punya sistem monitoring yang tepat terkait penyebaran populasi serangga, hal yang justru melemahkan respon antispasi kita (mencegah kepunahan serangga).”

Seorang entimologis atau ahli serangga asal Amerika Serikat, Akito Kawahara (salah satu penulis jurnal dalam PNAS), mendesak masyarakat untuk sungguh-sungguh menjaga keberadaan serangga di lingkungannya.

“Di AS sendiri, serangga liar berkontribusi pada sektor ekonomi sebesar lebih kurang US$ 70 miliar per tahun untuk jasa gratisnya dalam penyerbukkan dan penguraian sampah. Ini jumlah yang luar biasa, dan kebanyakan orang tak bakal menduga,” katanya.  

Akito dan rekannya mencontohkan aksi sederhana yang dapat dilakukan agar keragaman hayati termasuk spesies serangga tetap berkembang. Aksi itu diantaranya mematikan lampu di luar rumah saat malam, atau mengganti bola lampu yang tak memancing serangga keluar dari habitatnya untuk mendekat.

Hal lainnya, mencuci kendaraan dengan sabun yang ramah lingkungan. Serta sisakan halaman rumah untuk serangga, maksudnya dengan tak menggunakan pestisida dan menanam banyak tumbuhan.

 

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]