banner
Ilustrasi Permasalahan Kesehatan Gigi. Foto : freepik.com
Wawasan

Survei : Abai Kesehatan Gigi dan Mulut Berisiko Pada Kesehatan Jangka Panjang

752 views

MajalahCSR.id – Di masa pandemi Covid-19, konsumsi camilan manis dan asam untuk menemani aktivitas di rumah cenderung meningkat. Sayangnya, hal ini tidak diiringi dengan peningkatan kebiasaan merawat gigi dan mulut, bahkan kebiasaan mengunjungi dokter gigi juga semakin menurun.

Survei terbaru yang dirilis hari ini oleh GSK Consumer Healthcare bekerjasama dengan perusahaan riset IPSOS, menunjukkan, pandemi Covid-19 berdampak terhadap kebiasaan menjaga kesehatan gigi dan mulut. Survei dilakukan kepada 4.500 partisipan yang berusia diatas 18 tahun dan berasal dari 5 Negara Eropa (Perancis, Jerman, Britania Raya, Spanyol, dan Rusia) dan 4 Negara Asia Tenggara (Indonesia, Filipina, Singapura, dan Thailand). Berikut adalah beberapa temuan utama dari penelitian untuk konsumen Indonesia:

  • Konsumen Indonesia menyadari akan pentingnya kesehatan gigi dan mulut serta dampaknya bagi kesehatan mental serta tubuh. Namun hal tersebut tidak diiringi dengan upaya yang cukup dalam menjaga dan memperbaiki kesehatan gigi dan mulut
  • 9 dari 10 konsumen di Indonesia atau setara dengan 89% percaya bahwa kesehatan gigi dan mulut yang baik bermanfaat bagi kesehatan tubuh dan memiliki dampak positif bagi kesehatan mental dan kebahagiaan seseorang (81%).
  • Konsumen di Indonesia yang saat ini setidaknya memiliki satu masalah kesehatan gigi dan mulut, ternyata tidak cukup menjaga atau memperbaiki kesehatan mulut mereka. Hasil survei menunjukkan hanya 6% konsumen yang secara rutin memeriksa atau membersihkan gigi guna secara aktif menjaga kesehatan gigi dan mulut mereka.
  • Pandemi Covid-19 dan penerapan PSBB menyebabkan perubahan perilaku berpengaruh terhadap kesehatan gigi dan mulut konsumen Indonesia

Meskipun setidaknya memiliki 1 masalah gigi; kebiasaan ngemil, konsumsi kopi/teh, makanan dingin, jus kemasan, dan minuman ringan semakin meningkat di kalangan konsumen Indonesia selama masa pandemi.

Sementara itu, 7 dari 10 konsumen mengaku khawatir atau cukup khawatir mengunjungi dokter gigi karena takut terpapar virus Covid-19. Bagi mereka, situasi pandemi dan kemungkinan terpapar Covid-19 menjadi alasan utama mengurangi atau berhenti mengunjungi dokter gigi.

Hampir semua konsumen Indonesia menyadari rendahnya kesehatan gigi dan mulut berpengaruh pada kesehatan fisik dan mental, tetapi mereka belum melakukan upaya yang maksimal untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut.

Sembilan dari 10 konsumen Indonesia percaya bahwa perawatan kesehatan mulut dapat memberikan manfaat bagi kesehatan tubuh. Ketika ditanyakan lebih lanjut, 68% responden percaya bahwa kesehatan mulut dapat mengurangi resiko pengembangan penyakit kardiovaskular, 81% meyakini ada dampak positif bagi kesehatan mental dan kebahagiaan seseorang, dan 55% juga percaya bahwa perawatan kesehatan mulut yang baik memiliki dampak yang positif yakni mengontrol kadar gula darah dan mencegah diabetes.

Meskipun mayoritas konsumen Indonesia telah menyadari dampak langsung dari kurangnya perawatan gigi dan mulut, survei menyarankan bahwa para konsumen belum secara maksimal merawat kesehatan gigi dan mulut mereka sehingga justru dapat menimbulkan bahaya bagi kesehatan fisik dan mental. 

Pandemi telah mengubah gaya hidup konsumen di seluruh dunia termasuk Indonesia. Penerapan PSBB membuat masyarakat menjadi lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, apalagi dengan digalakkannya rutinitas work from home. Oleh karena itu, survei ini berusaha mengamati perubahan rutinitas konsumen yang berpengaruh terhadap kesehatan gigi dan mulut mereka.

Survei menunjukkan bahwa selama pandemi ada peningkatan konsumsi makanan ringan sebanyak 28%, diikuti oleh 26% kopi/teh, 14% makanan dingin, 22% jus kemasan, dan 10% minuman ringan. Padahal, peningkatan konsumsi jenis makanan dan minuman ini berdampak buruk bagi kesehatan gigi dan mulut, terutama  dapat merusak enamel gigi yang tidak dapat dipulihkan secara alami oleh tubuh manusia.

Keith Choy, Region Head, Asia Pacific, GSK Consumer Healthcare mengatakan, “Pandemi Covid-19 telah mengubah cara kita beraktivitas sehari-hari dan merawat diri. Kami senang melihat semakin banyak masyarakat yang sudah sadar tentang dampak berkepanjangan dari tidak menjaga kesehatan gigi dan mulut.  Namun, masih banyak yang harus kita lakukan. Perawatan gigi dan mulut dan yang baik dan teratur sangat penting untuk kesehatan dalam jangka panjang.”

Chiquita Prahasanti, Guru Besar Departemen Periodonsia, Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Airlangga-Surabaya, dan Ketua Kolegium Periodonsia Indonesia menegaskan,  sekalipun di tengah pandemi dengan pembatasan aktivitas tatap muka di Indonesia, peran dokter gigi dan pentingnya mengunjungi dokter gigi secara teratur tidak boleh diabaikan.

“Masyarakat dapat menggunakan pelayanan dokter gigi jarak jauh atau tele-dentistry untuk mendapatkan perawatan dari para ahli,” kata Chiquita.

banner