banner
Ilustrasi Limbah Pangan. Foto : Getty Images
Wawasan

Strategi Perang Melawan Limbah Pangan ala Amerika Serikat

586 views

MajalahCSR.id – Pemerintah Amerika Serikat akan menerapkan aksi strategi dalam upaya memerangi limbah terutama limbah makanan. Apa dampak dari penerapan kebijakan strategi tersebut? Menurut Jim Giles, Analisis Pangan dan Karbon di Greenbiz, menulis, sejumlah manfaat bisa didapat, dari mulai penghematan ekonomi, dan mengurangi kelaparan selain menurunkan emisi gas rumah kaca.

Disebutkan rencana kebijakan ini dijabarkan dalam dokumen setebal delapan halaman. Namun disebutkan meskipun dokumen rencana tersebut terhitung tipis, tapi dinilai sebagai yang terbaik. Beberapa pihak yang menggarap rencana kebijakan ini juga sangat memahami kondisi di lapangan, sebut saja ReFED, lembaga nonprofit dalam bidang limbah makanan, WWF, Dewan Ketahanan Sumberdaya Alam, dan Klinik Kebijakan Hukum Pangan dari Universitas Harvard.

Apa saja poin dari rencana kebijakan itu yang boleh jadi bisa ditiru?

 

Jauhkan Limbah Organik dari Tempat Pembuangan Akhir dan Insinerator (Mesin Pembakar Sampah)

Mengapa? Kondisi saat ini sangatlah mengkhawatirkan: Limbah organik memiliki volume paling besar di tempat pembuangan sampah. Hal ini memicu gas metana sebagai sumber emisi gas rumah kaca saat mereka membusuk. Limbah ini seyogyanya dapat dimanfaatkan, salah satunya sebagai sumber kompos.

Bagaimana caranya? Kota dan negara bisa memberikan insentif donasi pangan dan tidak memberikan insentif pada upaya pembuangan pangan. Salah satu upayanya dengan menaikkan tagihan layanan jasa pengangkutan sampah atau larangan mencampurkan limbah organik dengan limbah lain.

Apa dampaknya?  Menurut data yang dikeluarkan ReFED, memperluas infrastruktur untuk mengurangi pangan terbuang dan menjadi limbah akan menciptakan 18.000 pekerjaan baru tiap tahun hingga 2030, menghindari 6 juta ton CO2 emisi ekuivalen, dan mengakselerasi  kesuburan tanah dan keuntungan bagi perkebunan dan peternakan (dalam hal ini yang dibahas kondisi di Amerika Serikat).   

 

Memperluas Infrastruktur Donasi Pangan dan Insentif

Mengapa? Masalah lainnya yang cukup mengkhawatirkan: Kurang dari 10 persen dari kondisi surplus pangan yang didonasikan, sisanya terbuang. Sementara di Amerika Serikat, satu dari 10 keluarga mengalami kekurangan bahan pangan untuk bisa memberi makan anggota keluarga selama 2019 (bahkan ini terjadi sebelum pandemi).  

Bagaimana? Kondisi di lapangan memperlihatkan, donor pangan hanya memperoleh bonus keringanan pajak saat mereka berdonasi pada organisasi amal. Rencana kebijakan merekomendasikan untuk menambah opsi keringanan pajak pada mereka yang memberikan donasinya di luar organisasi seperti supermarket sosial yang menjual bahan makanan dengan potongan harga yang tinggi. Solusi lain, memperluas program pandemi yang menciptakan rantai pasok baru antara petani dan konsumen.

Apa dampaknya? Mengurangi jumlah keluarga kelaparan dan menambah pendapatan petani.

Akhiri Ketidakpahaman Soal Label Kadaluarsa

Mengapa? Nyaris 85 persen dari warga Amerika (boleh jadi terjadi juga di Indonesia) membuang makanan yang masih layak karena ketidakpahaman mereka pada label kadaluarsa.

Bagaimana caranya? Asosiasi Industri Pangan (di Amerika), lembaga perdagangan pangan, menginginkan agar ketidakpahaman pada label kadaluarsa diatasi dengan menggunakan dua label. Setelah label “best by” yang biasanya merujuk pada kondisi makanan yang masih aman dikonsumsi meskipun cita rasa atau kandungan gizi berkurang, juga ditambahkan label “use by”, di mana saat makanan melewati tanggal ini, berarti pangan harus benar-benar dibuang karena alasan keamanan bagi kesehatan. 

Dampaknya? Lebih dari setengah juta ton pangan bisa terselamatkan dari pembuangan, yang berarti penghematan sebesar USD 2 miliar (lebih dari Rp 29 triliun) per tahun.

Menurut kabar, rencana aksi strategis ini sedang diajukan ke pihak Administratif Kongres di Amerika. Meskipun hal ini terjadi di Amerika Serikat, rencana aksi positif ini bisa ditiru untuk diterapkan di Indonesia.

banner