× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Sesimpul Kisah dari Fifest 2018

By Redaksi

Fifest 2018 yang beberapa waktu lalu digelar, ternyata meninggalkan sejumlah “epilog” menarik. Beragam cerita kedermawanan yang menggerus simpati, mengharukan, menguar dari sana. Seperti kisah pemberdayaan sekelompok masyarakat, semangat kaum milenial berbagi makanan, tentang anak muda yang membantu para ibu rumah tangga memasarkan masakan rumahannya, dan masih banyak lagi.

Kisah-kisah tersebut berebut membuka mata hati siapapun yang berkunjung ke sana. Bahwa di tengah berbagai kesulitan yang dihadapi bangsa ini, masih ada harap yang terus menerangi. Berikut beberapa cuplikan kisah itu.

 

Koran yang Bersalin Rupa dan Harga

Saat melihat koran bekas, yang terlintas di benak biasanya menjualnya ke pengepul koran atau menjadikannya bungkus apapun. Ataupun yang dianggap cukup dermawan adalah memberikannya kepada yang membutuhkan. Cukup sampai di situ. Tapi di mata sekelompok ibu rumah tangga di Kelurahan Gelora, Palmerah, Jakarta Pusat, koran bekas itu adalah ajang kreasi sekaligus rejeki.

Nama komunitas perajin koran bekas ini cukup unik; Kampung Koran. Beranggotakan para ibu-ibu rumah tangga yang mendapat binaan langsung dari perusahaan media nasional, Kompas Gramedia Group. mereka berkumpul di sebuah tempat yang dinamakan Rumah Kreasi.

Setiap hari para Ibu tersebut dengan bantuan perekat khusus, memilin koran bekas sehingga serupa tali temali yang berukuran lebih kurang 60 cm sampai satu meter.  Tali yang mirip pita tersebut kemudian dianyam menyerupai anyaman rotan atau bambu membentuk beragam benda-benda fungsional mulai dari pot bunga, keranjang baju kotor, tempat pensil, asesoris hiasan rumah, dudukan lampu, tikar, dompet, sampul buku agenda, bahkan laci pakaian, dan masih banyak produk lainnya.

Bekerjasama dengan komunitas Salam Rancage di Bogor, ibu-ibu kreatif ini mampu memasarkan produknya (yang bahkan tergolong produk premium) ke berbagai konsumen di tanah air, sampai ke mancanegara. Salam Rancage yang berperan sebagai pemasar, membantu komunitas ibu-ibu tadi menjual kreasinya secara online. Dan tak main-main, barang-barang ini dijual memakai mata uang dolar di web online Salam Rancage tersebut.

Menurut Ibu Aling dari Salam Rancage, pihaknya sudah berkolaborasi dengan para ibu binaan Kompas Gramedia dalam memasarkan produk. “Äwal idenya adalah bagaimana sampah koran bekas yang ada di kantor Kompas Gramedia ini bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat yang bisa menggerakan ekonomi masayarakat sekitar (kantor Kompas Gramedia),” kata wanita berkacamata ini.

“Di kampung koran tidak hanya ada nilai ekonomis tapi juga ada value lain, yaitu dampak sosial dan lingkungan,” tambah Aling. Tiga hal ini saling menyelaraskan satu sama lain. Mengapa yang terlibat justru para perempuan? Aling beralasan bahwa untuk mengubah suatu bangsa (menuju yang lebih baik) dapat lebih mudah dilakukan mulai dari perempuan. Peran sebagai ibu rumah tangga yang lebih bisa mempengaruhi nilai pada anak dalam keluarga turut jadi pertimbangan soal pemilihan perempuan sebagai penggiat komunitas kampung koran. Kepada para srikandi ini ditanamkan 3 hal, yaitu belajar bermimpi, berkarya, dan berkontribusi pda penyelesaian masalah di lingkungan sekitar.

Sejauh ini produk yang dipasarkan sudah sampai ke Amerika, Kanada, Denmark dan menyusul 9 negara lainnya. Yang menggembirakan pada tahun 2017 kemarin, salah satu produk  hasil kreasi ibu-ibu ini mampu memenangkan InaCraft Award. Beberapa bulan sebelumnya, sebut Aling, salah satu desain produk terbaru, buku notebook, yang di-launching di Boston, Amerika, meraih penghargaan sebagai “The Most Ethical Notebook”.

Kini ibu-ibu tersebut bisa ikut membantu menambah penghasilan keluarga. Ketekunan mereka yang awalnya berpenghasilan pas-pasan dari suaminya, berbuah manis. Para ibu ini mampu menyekolahkan anaknya dengan uang yang tidak lagi bernagtung pada suaminya.

 

Foodbank of Indonesia

Anda punya makanan berlebih yang layak konsumsi di rumah? Foodbank of Indonesia (FOI) siap menyalurkan makanan anda kepada yang membutuhkan. Foodbank of Indonesia ini merupakan Lembaga Swadaya masyarakat  (LSM) memiliki misi untuk menciptakan akses pangan yang lebih adil bagi masyarakat fakir miskin, memerangi kurang gizi pada anak-anak, dan membantu meningkatkan produktivitas perempuan petani dan nelayan.

Pihak Foodbank of Indonesia menerima sumbangan donator makanan, baik makanan yang sudah diolah maupun bahan makanan – dengan catatan bukan makanan sisa – yang akan disalurkan kepada nasabah (sebutan bagi penerima donasi) yang masih kekurangan pangan. Mekanisme pemberian donasi ada 2 pilihan, diantarkan atau dijemput ke alamat donatur. Sementara untuk pengiriman donasi, bekerjasama dengan jasa pengiriman.

Donatur pun bisa memberikan bantuan mereka kapanpun mereka bisa. Tak ada kuota minimal ataupun maksimal dari makanan yang akan disumbangkan. Foodbank of Indonesia sejauh ini sudah banyak melakukan kegiatan penyaluran donasi ke berbagai wilayah di Indonesia. Seperti pemberian susu untuk anak di berbagai sekolah. Terkait ini FOI bekerjasama dengan perusahaan susu dalam penyediaan produk yang disumbangkan.

Selain perusaahaan susu, setiap hari Rabu, FOI juga bekerjasama dengan sebuah hypermarket terkenal untuk penyaluran makanan. FOI fokus menyalurkan bantuannya terutama untuk anak-anak, lansia, dan kaum dhuafa, yang membutuhkan asupan bergizi. Seperti pemberian makanan tambahan untuk anak-anak yang bisa sampai 3 kali seminggu. Bagi lansia mereka mendapatkan donasi setiap senin dan kamis.

Ke depannya, FOI rencananya bakal mengadakan Dapur Pangan Umat. Satu program donasi dimana FOI mengadakan dapur umum di satu lokasi terpilih yang makanannya akan dibagikan kepada masyarakat sekitar yang membutuhkan. Aksi ini merupakan bagian dari dukungan FOI terhadap program SDGs.

 

Masakan Rumahan Naik Kelas

Bagi orang kantoran, terutama perempuan, beban kesibukan menyelesaikan tugas di kantor membuat mereka sulit memasak sendiri di rumah. Akibatnya, mereka atau suami terpaksa membeli makanan di luar. Dan boleh jadi setiap hari membeli menu makan siang yang itu-itu saja bakal terasa membosankan. Kangen rasanya makanan ala rumahan.

Dari konsisi inilah seorang anak muda yang juga kebetulan anak dari pemimpin negeri ini, Kaesang Pangarep, mengenalkan sebuah aplikasi pesan makanan yang tak biasa. Aplikasi berbasis android ini dinamai Madhang. Menggandeng sesama anak muda dalam mengembangkan aplikasi, sudah banyak konsumen yang mengunduh di aplikasi Playstore.

Bukan semata tujuan komersial, aplikasi ini dibuat. Namun lebih dari itu. Dengan memanfatkan aplikasi ini, siapapun secara langsung bakal membantu para ibu rumah tangga jadi berpenghasilan melalui kreasi makanan dan minumannya.

Aplikasi ini memfasilitasi para ibu rumah tangga untuk berbisnis masakan dengan menjadi mitra/member aplikasi. Caranya, ibu tadi mendaftar pada aplikasi yang sudah disediakan dan juga tak lupa mengupload masakan yang akan dijual pada konsumen aplikasi.

Pihak Madhang hanya mengambil keuntungan seribu rupiah saja dari setiap menu makanan yang diupload oleh para ibu tersebut. Uniknya, harga dan biaya kirim ditentukan sendiri oleh member.

Jadi, membantu tidak selalu harus dengan uang. Para anak muda ini bisa berkiprah sebagai aktor filantropi dengan ide, gagasan, makanan, bahkan aplikasi yang sangat bisa membantu sesamanya.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]