× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Sering Makan Ikan? Hati-hati Ikannya Punah

By Redaksi
Dok. Mongabay

Bali – Majalahcsr. Sebanyak 72,2 persen dari 11 Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) mengalami kekurangan pasokan ikan. Data Badan PBB untuk Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) juga mengatakan bahwa 50 persen perikanan global sudah mengalami over fishing.

Seiring berkurangnya sumber daya perikanan muncul kesadaran di kalangan konsumen maupun perusahaan perikanan untuk menyediakan ikan yang dihasilkan dari praktik ramah lingkungan. Salah satunya, konsumen mulai meminta adanya label lingkungan (ecolabel) baik melalui MSC maupun ASC pada produk perikanan.

Namun, ini bukan pekerjaan mudah. Karena label lingkungan memang hal baru bagi para pelaku bisnis perikanan, mereka tak memiliki cukup pengetahuan maupun keterampilan dalam hal ini.

“Animo perusahaan di Indonesia sangat besar untuk mendapatkan label ASC dan MSC tetapi tidak gampang untuk mendapatkannya,” ujar Pemimpin Program Bentang Sunda dan Perikanan WWF Indonesia, Imam Mustofa dalam pertemuan tahunan Seafood Savers yang diadakan Senin-Selasa (7-8 Mei 2018) lalu di Kuta, Kabupaten Badung, Bali, seperti yang dikutip oleh Mongabay, Jumát (18/5).

Tingginya animo perusahaan untuk mendapatkan label ASC atau MSC itu bisa tergambar dari banyaknya perusahaan perikanan yang ikut dalam program Seafood Savers. Saat ini sudah ada 17 perusahaan bergabung dalam program ini, terdiri dari sembilan perusahaan tangkap, enam perikanan budi daya, dan dua pembeli.

Tahun lalu, dua perusahaan anggota Seafood Savers sudah mendapatkan ekolabel ASC. Pertama, tambak udang windu binaan PT Mustika Minanusa Aurora (MMA) seluas 115 hektar di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. PT MMA menghasilkan sekitar 20 ton udang per tahun. Tujuan utama mereka ekspor ke Jepang.

Usaha kedua yang mendapatkan ekolabel ASC adalah tambak udang vaname seluas 9 hektar binaan PT Tiwandi Sempana di Probolinggo, Jawa Timur. Tambak ini memasok udang vaname ke PT Bumi Menara Internusa yang mengirim produknya pasar Amerika Serikat.

“Capaian ini membuktikan bahwa praktik budi daya Indonesia mampu menembus dan bersaing dengan industri budi daya yang intensif dalam memenuhi standar sertifikasi berkelanjutan yang diakui pasar global,” Jelas Manajer Program Peningkatan Budi Daya dan Perikanan WWF Indonesia, Abdullah Habibi.

Dok. Mongabay

Habibi menambahkan, peningkatan kebutuhan produk perikanan ramah lingkungan itu juga terjadi di pasar domestik. Menurut survei WWF Indonesia dan Nielsen pada 2017, sebanyak 26 persen dari total responden mengetahui produk perikanan yang diproduksi secara ramah lingkungan, namun hanya 17 persen yang pernah mengonsumsinya.

“Peningkatan kesadaran konsumen terhadap produk perikanan ramah lingkungan dapat mendorong kesiapan pasar domestik menyerap produk-produk yang diproduksi secara berkelanjutan,” tambahnya.

 

“Beberapa pihak menganggap (perubahan iklim) sepele. Aku tidak.” Kalimat tegas itu keluar dari mulut gadis remaja 16 tahun asal Swedia bernama Greta Thunberg. Greta adalah representasi dari sedikit remaja yang sangat peduli dengan lingkungan, terutama perubahan iklim. Suatu hari di musim panas lalu, Greta membolos dari sekolah. Greta tak sembarang membolos. Ia duduk manis di […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]