× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Seni yang Mencahayakan

By Redaksi

Ekspresi seni boleh beragam. Sebutlah seni tari, syair, teater, film, lukis, yang terlahir dari kekayaan kearifan budaya lokal. Yang menakjubkan, seni tak cuma dinikmati sebagai ekpresi keindahan. Dengan beraktivis seni, dampaknya ternyata bisa mengubah sesuatu ke arah yang lebih baik.

Dua seniman perempuan ini terbukti mampu memberi solusi masalah di tengah masyarakatnya. Mereka adalah Bunga Siagian seorang  penulis, kurator, pendiri badan kajian pertanahan, dan Erni Aladjai, seorang penulis dan pendiri Bois Pustaka.

Mereka hadir membagikan kisah mereka dalam diskusi seni Aktivisme Seni 101 yang diselenggarakan oleh yayasan Kelola di Aksara Bookstore, Kemang, Sabtu (23/02) akhir pekan lalu.

Jatiwangi Art Factory

Bunga, perempuan berambut pendek ini adalah inisiator di balik  berdirinya komunitas seni “Jatiwangi Art Factory” di kota Majalengka, Jawa Barat. Profesi anggotanya beragam, mulai dari buruh industri genting sampai petani. Dengan kata lain, anggotanya berasal dari kelompok masyarakat biasa yang awam seni. Bermacam kegiatan seni dan budaya yang dilakukan di komunitas ini: festival, pertunjukan, seni rupa, music, video, keramik, pameran, dan lain-lain.

Ada salah satu aktivitas seni yang disebut  tradisi “ritual farming”. Bunga merasa terpanggil untuk turut menginisiasi kounitas seni ini, salah satunya dengan mengedepankan media tanah. Keterikatan tanah dengan masyarakat Jatiwangi, Majalengka, adalah bagai sedarah. Mereka mengenali tanah selain karena bagian dari tradisi juga  berdimensi ekonomis. Jatiwangi sejak turun temurun sudah dikenal sebagai sentra terbesar genting (atap) rumah nomor satu di Indonesia.

Konflik atau sengketa lahan juga disebut salah satu alasan dibalik kemunculan (lagi) festival seni tersebut. Salah satunya ritual sebelum bercocok tanam (ritual farming). Para sesepuh adat di daerah tersebut memulai upacara pembacaan doa kepada Yang Maha Kuasa sebelum penanaman benih. Tak cuma tradisi upacara pembacaan doa, biasanya pula diisi kegiatan festival seni lainnya. Perlahan tapi pasti, ungkap Bunga, konflik lahan antara masyarakat dengan pihak lain, mulai mencair. Kedua belah pihak turut aktif terlibat dalam penyelenggaraan festival seni lokal tersebut. Uniknya festival seni dilakukan di sebuah lapangan yang selama ini menjadi lahan konflik dua pihak yang bersebrangan.

Paupe Syair Damai dari Banggai

Lain lagi cerita Erni. Novelis berkacamata ini tinggal di sebuah pulau terpencil tanpa sinyal internet di daerah Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah. Bila konflik masyarakat biasanya bernuansa lahan atau SARA, berbeda dengan Erni. Konflik di daerahnya lebih ke sentimen kewilayahan seperti pemindahan kota kecamatan karena kepala daerah yang terpilih berasal dari wilayah tersebut. Padahal dalam konteks SARA masyarakatnya justru berakar sama.  Perseteruan kedua belah pihak – sesama suku Banggai – dikatakan Erni terjadi sejak lama. Sudah ada kala dirinya masih bersekolah. Sehingga, sempat ada keraguan jika upayanya mempersatukan, berakhir tanpa harapan.

Erni lantas menemukan sebuah buku cerita sejarah tentang raja-raja leluhur Banggai yang mampu hidup damai.  Ternyata ada syair tua yang menurut cerita mampu menyelaraskan kehidupan masyarakat Banggai dulu. Syair yang disebut “paupe” ini sempat hilang karena hadirnya televisi. “Dulu hiburan masyarakat kami adalah seni, termasuk syair perdamaian paupe,”ungkap Erni.

Hiburan yang berupa seni itulah yang dulu sering mempertemukan masyarakat. Kini, seni ini tergantikan televisi. Bahkan menjadikan hubungan antar warga kian berjarak yang sebelumnya terpicu konflik kewilayahan.  Erni perlahan mulai menggalakan kembali berkesenian di tengah warga. Salah satunya menghangatkan kembali festival syair paupe yang sempat terlupa. Meskipun di awal begitu sulit untuk mengajak masyarakat dua desa yang telah canggung bertemu lewat kesenian. Namun perlahan mereka mulai bisa melupakan konflik horisontal tersebut dengan beraktivitas seni. Syukurlah, kata  Erni, ada satu seniman yang dituakan akhirnya bisa menjadi pendamai warga lewat syair-syair paupe yang mereka ciptakan sendiri. Selain kesenian, Erni pun berupaya mengkampanyekan budaya baca kepada warga. Dengan membaca diharapkan wawasan dan pola pikir warga jadi luas dan lebih terbuka menerima perbedaan.

 

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]