× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Selain Pandemi COVID-19, Ada Ancaman Lain: Resistensi Antimikroba

By Redaksi
Ilustrasi Mikroba Menyerang Obat. FOto : iStockPhoto.com

MajalahCSR.id – Selain pandemi yang menyita banyak perhatian, sebenarnya ada ancaman kesehatan lain yang mengintai dan tak kalah bahaya: Resistensi Antimikroba (AMR). Suatu kondisi dimana kuman mikroba mengalami perubahan yang mengakibatkan dia tahan terhadap obat antimroba yang disebut antibiotik. Hal ini terjadi Ketika seseorang mengonsumsi antibiotic secara tidak bijak atau tidak pada peruntukannya. Selain itu faktor lainnya adalah mengonsumsi daging ternak yang mengandung antibiotik.

Begitu bahayanya resistensi antimikroba ini sehingga WHO, FAO, dan OIE merasa perlu menetapkan 18-24 November 2020 sebagai Pekan Kesadaran Antimikroba Sedunia atau World Antimicrobial Awareness Week (WAAW).

Bagaimana penggunaan antibiotik dapat mengakibatkan resisten antibiotik? Antibiotik adalah obat yang digunakan untuk melawan infeksi bakteri pada manusia maupun hewan. Antibiotik bekerja dengan cara membasmi bakteri yang ada atau mempersulit pengembangbiakan bakteri. Setiap kali kita minum antibiotik, beberapa bakteri akan mati, namun beberapa bakteri lain akan tetap bertahan (bermutasi menjadi kebal terhadapantibiotik).

Bakteri yang bertahan ini akan berkembang biak dan melipatgandakan diri. Penggunaan antibiotik yang berulang akan meningkatkan potensi resistensi antibiotik. Setiap kali antibiotik digunakan, timbul juga risiko adanya resistensi antibiotik. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat atau kurang bijak akan semakin memperparah situasi tersebut.

Lantas penyakit apakah yang tidak seharusnya diresepkan antibiotik? Antibiotik tidak efektif melawan infeksi virus. Penyakit selesma (batuk-pilek), influenza, dan diare tanpa darah adalah penyakit infeksi virus yang kerap diresepkan antibiotik. Penyakit infeksi virus umumnya bisa sembuh sendiri tanpa pengobatan (self limiting disease). Penggunaan antibiotik untuk penyakit tersebut merupakan penyalahgunaan antibiotik, dan meningkatkan risiko resistensi antibiotik.

Apakah resisten antibiotik masalah yang serius? Mengapa? Ya. Resistensi antibiotik adalah masalah sangat serius yang dihadapi seluruh dunia. Bakteri yang kebal terhadap berbagai jenis antibiotik disebut Superbugs. Orang yang terinfeksi Superbugs sangat sulit disembuhkan dan terapinya membutuhkan biaya yang sangat mahal.

Beberapa kasus berakhir menyebabkan cacat permanen, bahkan kematian. Penyakit infeksi bakteri, seperti pneumonia, TBC, gonorrhoea, salmonellosis, dan keracunan darah dari tahun ke tahun semakin sulit diobati dengan antibiotik. Bahkan beberapa kasus sudah kebal terhadap berbagai antibiotik. Setiap tahunnya kurang lebih 25 ribu nyawa melayang di Eropa, 23 ribu nyawa melayang di Amerika Serikat, 38 ribu nyawa melayang di Thailand, dan 58 ribu nyawa bayi melayang di India. Semua itu akibat terinfeksi Superbugs.

Bagaimana penggunaan antibiotik di peternakan dapat mengakibatkan resistensi antibiotik? Penggunaan antibiotik umum digunakan untuk membesarkan dan memelihara hewan ternak. Ketika antibiotik digunakan pada hewan, akan menghasilkan bakteri yang resisten pada tubuh hewan (contohnya dalam pencernaannya). Secara ilmiah dikatakan bahwa antibiotik menciptakan bakteri resisten pada hewan. Bakteri-bakteri ini kemudian dapat mencemari daging saat hewan dipotong, atau di perjalanan, dan sebagainya.

Jika seseorang mengonsumsi daging ini dalam kondisi kurang matang atau tidak mengolah dagingnya dengan benar (misalnya karena menggunakan talenan yang sama untuk daging dan sayuran yang dimakan mentah), maka orang bisa jatuh sakit. Contoh umum kuman penyakit yang ditularkan melalui makanan adalah Salmonella, Campylobacter dan E. coli.

Apakah residu antibiotik pada daging dan produk makanan lainnya mengakibatkan resistensi antibiotik? Aspek lain lagi adalah residu antibiotik pada daging. Ketika memberikan antibiotik pada ternak, penggunaannya harus dihentikan dalam jangka waktu tertentu sebelum ternak dipotong atau susunya diperah. Jika “masa henti obat” ini tidak dipenuhi, maka residu antibiotik akan mengendap pada daging dan susu.

Hal ini sebenarnya tidak jadi masalah dalam perspektif resistensi antibiotik, tetapi lebih pada masalah keamanan pangan. Dalam beberapa kasus, antibiotik digunakan tidak sesuai aturan sebagai pengawet, contohnya dalam pengawetan susu dan makanan hasil laut. Praktik seperti ini dapat mengakibatkan tingginya kandungan antibiotik pada produk makanan melebihi yang diperbolehkan.

Beberapa kajian mengidentifikasi kaitan antara antibiotik pada makanan, air dan sumber lainnya dengan berkembangnya resistensi antibiotik pada tubuh manusia. Jadi gambaran besarnya, penggunaan antibiotik pada industri peternakanlah yang menjadi penyebab terbesar dalam terbentuknya resistensi antibiotik.

Apa yang dapat dilakukan untuk mencegah resisten antibiotik?

  • Jangan minum antibiotik untuk mengobati infeksi virus, seperti batuk-pilek dan diare tanpa darah
  • Hindari memaksa dokter meresepkan antibiotic
  • Minum antibiotik sesuai diagnosis, dengan dosis yang tepat, habiskan hingga tuntas
  • Tidak menggunakan resep antibiotik orang lain
  • HIndari membeli antibiotik tanpa resep dokter-
  • Jangan menyimpan antibiotik untuk berjaga-jaga jika suatu saat jatuh sakit
  • Lakukan imunisasi sesuai jadwal untuk mencegah penyakit infeksi bakteri
  • Cegah infeksi dengan kebiasaan cuci tangan pakai sabun, cuci bahan makanan mentah di bawah air mengalir dan masak daging hingga matang, serta jaga kebersihan lingkungan sekitar

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]