× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Sejumlah CEO Desak G7 Akhiri Subsidi Minyak Fosil

By Redaksi
Ilustrasi Menandatangani Surat Kesepahaman. Foto : Bigstock

MajalahCSR.id – Aliansi Pemimpin CEO Climate Leaders, merupakan forum Inisiatif Ekonomi Dunia (World Economic Forum) yang mewakili 90 perusahaan multinasional. Aliansi ini sudah menghabiskan 6 tahun berjalan untuk fokus pada upaya mengurangi emisi gas rumah kaca dan strategi perusahaan lain dalam mengatasi perubahan iklim.

Pada mingggu kemarin, melansir Greenbiz, aliansi ini untuk kedua kalinya menyuarakan kebijakan, mengingatkan anggota G7 dan pemimpin dunia lain untuk bertindak lebih cerdas mengadopsi kebijakan untuk membantu mengatasi emisi pada 2030 dan mencapai “net zero state” emisi pada 2050.

Dalam surat terbuka yang dipublikasikan dan bertepatan dengan pertemuan negara G7 (Kanada, Perancis, Jerman, Itali, Jepang, Inggris, dan Amerika Serikat) – aliansi terus mendorong komitmen G7 untuk “mengubah kebijakan transformasi” yang akan menguatkan transisi menuju ekonomi yang lebih hijau/bersih.   

“Tidak mengambil kebijakan melawan perubahan iklim akan menurunkan Gross Domestic Product (GDP) secara global hingga 18% dalam 30 tahun ke depan,” demikian bunyi salah satu bagian surat. Surat terbuka itu ditandatangani oleh 79 anggota aliansi termasuk CEO perusahaan dunia yaitu BASF, Bayer, Enel, Engie, ING, IKEA, JLL, Salesforce, Swiss RE, Unilever, dan Zurich Insurance Company.

“Sebaliknya, produksi ramah lingkungan dan pengunaan energi hijau dapat menciptakan 18 juta pekerjaan pada 2030, sambil melindungi 1,2 miliar pekerjaan saat ini yang terpengaruh langsung pada lingkungan yang sehat dan stabil,” lanjut surat tersebut, merujuk pada hasil studi yang dilakukan United Nations Climate Action for Jobs Initiative.  

Menurut data yang dipublikasikan salah satu anggota aliansi, Spanish Bank BBVA, perusahaan yang tergabung dalam aliansi mempekerjakan 7 juta orang di 21 negara, dengan kapitalisasi market mencapai US$ 6 triliun dan US$ 2,4 triliun dalam penjualan tahunan. Nilai tersebut sama dengan total GDP di Perancis. Bahkan, tak semua CEO dapat bergabung karena perusahaan harus sudah membuat komitmen dan langkah pada target “net zero emission” yang berkesesuaian dengan sains.

Terdapat sejumlah permintaan secara spesifik dalam surat terbuka tersebut diantaranya:

  • Mendorong semua lini bisnis untuk mewujudkan target dekarbonisasi yang kredibel serta mengungkapkan risiko dan peluang dalam penanganan iklim.
  • Menghilangkan subsidi bahan bakar fosil
  • Memotong tarif terhadap barang-barang ramah lingkungan
  • Meningkatkan riset dan pengembangan teknologi yang dapat mengatasi karbon, terutama pada sektor industri penghasil karbon yang intensif
  • Berinvestasi pada upaya adaptasi iklim, termasuk sektor yang lebih spesifik seperti infrastruktur dan gedung
  • Mendukung kerja sama dalam mengatasi deforestasi sekaligus mendorong pembaharuan praktik pertanian
  • Hentikan penggunaan batu bara
  • Mempromosikan tansportasi rendah karbon, seperti yang berdaya listrik
  • Meningkatkan peran pembiayaan hijau (green finance)

Ide-ide ini tentunya sangat familiar bagi sejumlah petinggi perusahaan keberlanjutan. Mereka telah puluhan tahun (mungkin lebih) dalam mencapai target d strategi yang kredibel, ilmiah, untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan konsumsi air, atau mempromosikan pemulihan alam dan keberagaman hayati.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]