× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Sejarah Penulisan Kode Identifikasi Resin Plastik dalam Proses Daur Ulang

By Redaksi
Ilustrasi Kode Resin Plastik. Foto : Shutterstock

MajalahCSR.id – Pada saat Resin Identification Code (RICs) dibuat pada 1988, poling sebuah opini publik memperlihatkan, kenaikan persentase warga yang percaya bahwa plastik adalah ancaman bagi kesehatan masyarakat dan lingkungan. Industri plastik dipaksa untuk melakukan daur ulang – termasuk membuat RICs – dengan melobi pemerintah untuk mengadopsi kode ini.

Menghadapi opini publik yang skeptis saat itu, industri plastik menggelontorkan dana $ 50 juta per tahun  untuk menggelar kampanye memperbaiki citra plastik. Greenbiz melaporkan, salah satu pesan kampanye tersebut adalah “daur ulang adalah jawaban”. Lambat laun mulai terungkap, di industri plastik, di tengah keragu-raguan masyarakat yang meluas, daur ulang plastik dinilai lebih ekonomis dari sisi biaya.   

Sedari awal, terdapat upaya menahan terhadap kode RICs oleh pendaur ulang lokal dan kelompok lingkungan. Masalahnya (yang masih terjadi) rata-rata orang melihat simbol  kode lalu percaya bahwa kemasan yang mereka pegang adalah hasil daur ulang. Sayangnya, banyak juga dari plastik itu ternyata bukan hasil proses daur ulang. Masyarakat mempercayai daur ulang, meskipun kepercayaan itu juga tak mendapat jaminan. Lembaga Komisi Perdagangan Amerika (The Federal Trade Commission) saat itu lantas mengembangkan panduan soal kapan dan bagaimana simbol RICs bisa digunakan. 

Tipe bahan yang terbuat dari resin plastik

Jadi, mengapa kita memiliki banyak jenis plastik? Resin plastik masing-masing punya keunikkan tersendiri, beberapa bertekstur lebih kaku, yang lain ada yang lebih tahan panas. Kita di sini membicarakan sekurang-kurangnya 6 jenis resin plastik yang punya kode berbeda, namun banyak juga plastik terbuat dari leburan beberapa resin dan material tambahan. Adanya leburan dan zat tambahan menjadikan plastik jutru lebih sulit terurai.

Bahkan dalam satu kategori resin terdapat beberapa subkategori resin lain (sebagai contoh PET G) merujuk sejumlah jenis material (contohnya film, kaku, tahan panas, dapat dilebarkan). Tentunya ada zat tambahan lain, termasuk pewarna, bahan penstabil yang boleh jadi beracun yang sulit terurai dan didaur ulang. Sementara di sisi lain, terdapat juga plastik yang mudah didaur ulang. Contohnya, PET.

PET dapat dijadikan produk lain sebagai wadah makanan atau minuman, termasuk lembaran plastik film, untuk keperluan fabrikasi, hingga karpet. Sementara wadah makanan dan dan minuman dari PET bisa berupa botol, kotak makanan, termasuk teko. Proses pembuatannya melalui mesin pencetak dan proses pembentukkan termal (atau membentuk cetakkan melalui panas).

Perbedaan yang kentara dari jenis plastik adalah melalui apa yang disebut dengan “berat molekul”. Berat molekul ini akan berkurang karena reaksi kelembaban pada PET. Hasilnya, material dengan berat molekul yang lebih tinggi (botol dan teko, wadah makanan) lebih bernilai. Sementara bahan dengan berat molekul yang lebih ringan (proses thermoform) kualitasnya lebih rendah.

Salah satu cara untuk menambah berat moklekul adalah melalui proses pemadatan. Namun proses ini berbiaya sangat mahal. Sehingga limbah PET melalui proses thermoform tak bisa diubah menjadi botol, melainkan produk lain, seperti karpet sintetis.     

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]