× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

SCG Gandeng 180 Mitra Bangun Konsep Ekonomi Sirkular

By Redaksi
SCG Berkolaborasi dengan 180 Mitra Gagas Ekonomi Sirkular. Foto : Istimewa/SCG

MajalahCSR.id  – Beragam tantangan dan persoalan yang dihadapi dunia hendaknya melahirkan harapan dan keyakinan dalam melewatinya. Beragam masalah mulai kekeringan, banjir, isu menipisnya sumber daya alam, darurat iklim, melonjaknya sampah plastik akibat pandemi COVID-19, kemiskinan, dan rendahnya kualitas hidup, dan masih banyak lagi mesti dihadapi dengan keoptimisisan.

Dalam kaitan ini, Siam Cement Group (SCG) beserta 180 mitra berupaya melewati semua tantangan. Caranya dengan mengadopsi prinsip ekonomi sirkular melalui empat solusi. Solusi ini adalah 1.Mengatasi kekeringan dengan sistem manajemen penggunaan kembali sumber daya air; 2.Meminimalisasi debu PM 2.5 dengan 100% pertanian tanpa proses pembakaran serta memungkinkan akses mesin pertanian pada petani untuk menciptakan pendapatan tetap; 3.Mengusulkan pengelolaan sampah plastik menjadi agenda nasional; dan 4.Mengupayakan pemerintah untuk mendukung konstruksi berkonsep Hijau dan Bersih. 

Solusi tersebut mendorong kolaborasi multisektoral untuk memperluas jaringan guna mewujudkan kehidupan yang lebih baik, mengatasi krisis global, dan memulihkan keseimbangan sesuai dengan prinsip-prinsip ekonomi sirkular.

Roongrote Rangsiyopash, President and CEO of SCG dan Tanawong Areeratchaku, Chairman of SCG Sustainable Development Committee, didukung 180 mitra menyampaikan upaya  mendorong ekonomi sirkular di tengah masyarakat pada SD Symposium 2020 “Circular Economy: Actions for Sustainable Future”. Acara ini digelar secara virtual pada Senin (9/11/2020).

Simposium ini bertujuan untuk saling bertukar pikiran dalam menyelesaikan persoalan yang terjadi di masyarakat. Kolaborasi secara multisektoral ini telah berkembang dari awalnya 45 mitra pada tahun lalu menjadi 180 mitra pada tahun ini. Maksud kerja sama ini mengajak berbagai organisasi untuk memberi solusi tepat  yang melibatkan kolaborasi dari empat faktor fundamental mendukung terwujudnya ekonomi sirkular. Empat faktor itu adalah

 

  1. Membangun sistem manajemen penggunaan kembali sumber daya Air

Kerja sama ini bertujuan untuk mendorong petani menjadi mandiri dalam belajar mengadopsi metode penyesuaian kembali lahan sejalan dengan penggunaan teknologi dan untuk mendidik para petani termasuk petani baru dari dampak ekonomi COVID-19. Sementara tujuan dari proyek ini adalah untuk mengurangi ketimpangan sosial, menghidupkan kembali ekonomi masyarakat, dan meningkatkan hasil pertanian.

 

  1. Mempromosikan 100% pertanian tanpa proses pembakaran di tahun 2022

Hal ini dilakukan dengan mengadopsi prinsip ekonomi sirkular melalui penggunaan kembali bahan limbah seperti tunggul padi, daun tebu, dan jerami untuk diubah menjadi energi alternatif, biomassa, pakan ternak, dan kemasan nabati. Hal ini akan mengurangi debu PM 2.5 serta menghasilkan pendapatan sebesar 25.000 juta Baht per tahun di Thailand. Selain itu, pengenalan ide “ekonomi berbagi” dalam membentuk dana pada komunitas memungkinkan petani untuk mengakses mesin pertanian guna meningkatkan proses penanaman dan panen serta meningkatkan hasil tanpa harus berinvestasi mesin apa pun.

 

  1. Mendorong pemerintah untuk menjadikan pengelolaan sampah plastik sebagai agenda nasional

Mengubah atau menambah undang-undang tentang pengelolaan sampah dan menegakkannya dengan serius. Roadmap sistem pengelolaan sampah plastik membutuhkan kerangka kerja yang konkrit, target, dan proses kerja yang jelas serta memungkinkan semua pihak terkait untuk bekerja sama. Upaya tersebut juga termasuk mempromosikan produk daur ulang dan memberikan hak istimewa pajak untuk pengelolaan limbah dan bisnis daur ulang.

 

  1. Mempromosikan ekonomi sirkular dalam industri konstruksi

Untuk mendorong industri menuju Pembangunan Hijau dan Bersih, diperlukan campur tangan pemerintah. Pihak yang berwenang harus membuat pedoman pengadaan baru untuk proyek-proyek mega infrastruktur. Proses adopsi teknologi untuk mengelola sumber daya untuk efisiensi maksimum serta meminimalkan limbah material juga perlu dilakukan. Sebagai alternatif, dapat dilakukan pemberian insentif kepada kontraktor dengan hak istimewa pajak untuk mendorong mereka beralih ke bahan ramah lingkungan atau mendaur ulang dalam konstruksi.

 

Sementara itu, SCG berprinsip untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan memimpin perusahaan ke arah Net Zero Emission pada 2050 dengan mendukung Paris Agreement.   Lebih dari itu, SCG menyadari dampak signifikan dari perubahan iklim dan masalah limbah. Oleh karena itu, perusahaan telah mengadopsi ekonomi sirkular ke dalam operasi bisnis. Untuk mencapai tujuan keberlanjutan, SCG telah menetapkan strategi sebagai berikut:

 

Bisnis Packaging menerapkan prinsip Ekonomi Sirkular dalam berbagai aspek operasi bisnis. Dalam kaitannya dengan solusi desain produk, fokus SCG merancang produk yang butuh sumber daya lebih kecil. Produk tersebut dapat digunakan kembali atau didaur ulang. Terkait dengan manajemen rantai pasokan, terdapat program pengembalian produk untuk memastikan pengendalian sumber daya yang efisien dan praktik pengelolaan limbah serta untuk meningkatkan proporsi daur ulang dalam proses produksi.

 

Bisnis Chemicals telah menerapkan teknologi untuk mempraktikkan ekonomi sirkular di seluruh rantai pasokan, mulai dari pengembangan produk (meningkatkan kemampuan daur ulang seperti mono-materials), pengembangan teknologi daur ulang plastik (meningkatkan proporsi limbah sebagai bahan baku), hingga penggunaan platform digital sebagai alat untuk memilah dan mengumpulkan sampah (menciptakan komunitas bebas sampah dan mendukung operasional bank sampah).

 

Bisnis Cement-Building Materials menekankan pada teknologi dengan integrasi inovasi untuk mengembangkan produk dan layanan dalam memenuhi kebutuhan pelanggan dan lingkungan di bawah “SCG Green Choice”. Label tersebut menawarkan produk yang terbuat dari bahan daur ulang, produk jadi yang dapat mengurangi limbah dalam proses pemasangan.

Selain itu, terdapat produk serta layanan yang membantu pengurangan konsumsi energi atau penggunaan energi yang dapat diperbaharui seperti solar energy. Upaya ini dilakukan untuk mencapai “Green Living and Green Society” yang mencakup bahan limbah untuk digunakan kembali (reuse) dalam kampanye “Turn Waste to Wealth” guna memberi manfaat bagi masyarakat.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]