× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Save The Tiger

By Redaksi
Dok. WWF.or.id

 

 Jakarta – Majalahcsr. Tahukah Anda? Menyelamatkan harimau itu sama dengan menyelamatkan diri sendiri. Bagaimana bisa? Hidup manusia tergantung pada ekosistem yang sehat, artinya ada ketersediaan air bersih, udara, obat-obatan, dan makanan.

Adanya harimau menandakan bahwa ekosistem masih sehat. Menyelamatkan harimau juga bukan semata-mata menyelamatkan harimau, dengan membiarkan mereka hidup di habitat aslinya, yaitu di hutan, berarti juga menyelamatkan satwa lain yang tinggal di habitat yang sama. Jadi menyelamatkan harimau berarti juga berupaya menyelamatkan hutan yang menjadi tempat tinggalnya dan sungai sumber kehidupan di habitatnya.

Dok. Gosumatera.com

Namun, kenyataanya seperti yang dilansir oleh WWF.or.id, populasi Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) kini hanya tersisa 371 individu yang tersebar dari Aceh hingga Lampung. Semenjak 2010-2014 WWF Indonesia menghitung ada 19 kematian individu disebabkan perburuan dan perdagangan liar, pengalihan fungsi hutan lindung menjadi hutan produksi, serta konflik dengan manusia.

Awalnya, ada sembilan subspesies harimau (Panthera tigris) yang tersebar di Asia, mulai dari daratan Turki hingga ke Rusia dan Indonesia. Namun saat ini hanya tersisa enam subspesies harimau saja di dunia. Tiga subspesies harimau lainnya telah punah. Dan di Indonesia, Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) adalah satu-satunya harimau yang tersisa. Saudaranya, Harimau Bali (Panthera tigris balica) dan Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) telah punah.

WWF-Indonesia telah melakukan upaya melindungi hewan belang tersebut, yang terbaru adalah mensensus ulang harimau dengan memasang kamera jebak (trap camera) di wilayah tempat diperkirakannya habitat Harimau Sumatera hidup. Salah satu wilayah habitat yang menjadi fokus utama WWF Indonesia adalah Suaka Marga Satwa Bukit Rimbang Bukit Baling (atau lebih dikenal Rimbang Baling).

Rimbang Baling merupakan kawasan dilindungi pun tak luput dari ancaman pengalihan fungsi lahan hutan. Oleh karena itu, WWF Indonesia bersama dengan  YAPEKA dan INDECON, dengan dukungan dari IUCN dan KFW mengadakan upaya penyelamatan Integrated Tiger Habitat Conservation Program (ITHCP): “Communities for tiger recovery in Rimbang Baling: the Beating Heart of the Central Sumatran Tiger Landscape”.

Tidak hanya itu, sebelumnya pun WWF-Indonesia juga telah menjalin kerja sama dengan berbagai pihak seperti pemerintah lokal, swasta, organisasi konservasi lain, serta masyarakat setempat untuk mengupayakan kelangsungan hidup harimau sumatera.  Selain itu, WWF-Indonesia juga telah menurunkan tim-patroli anti perburuan liar.

Serangkaian upaya penyelamatan tersebut tentu perlu dukungan dari seluruh pihak untuk mewujudkan target dari Tiger Recovery Program untuk menggandakan jumlah harimau pada tahun 2022 di seluruh dunia jika spesies ini mau selamat di dunia. Bagi yang hidup di kota, jangan khawatir, bisa membantu pelestarian Harimau Sumatera dengan cara mudah, misalnya bergaya hidup hijau, hemat sumber daya seperti listrik, air bersih, tidak mengkonsumsi bagian tubuh harimau dan paling penting hemat penggunaan tisu dan kertas.

Dok. Antaranews.com

Pasalnya industri tisu dan kertas merupakan kegiatan yang paling berdampak pada hilangnya habitat alami Harimau Sumatera. Mulai sekarang hematlah tisu dan kertas untuk selamatkan Harimau Sumatera, atau menggantinya dengan produk yang bersertifikat.

Dunia pun menyoroti hal ini, tak hanya Indonesia, secara global penurunan harimau dunia makin memprihatinkan, maka tahun 2010 diadakan Tiger Summit di Saint Petersburg, Jerman, yang kemudian ditetapkan Hari Harimau Sedunia (Global Tiger Day) setiap tanggal 29 Juli. Tujuannya adalah menyerukan perlindungan harimau dengan menjaga habitat alaminya dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap konservasi harimau. Perayaan Global Tiger Day ini juga mengingatkan pada kritisnya jumlah populasi harimau di alam dan kontribusi semua pihak untuk melindunginya.

Avatar

Redaksi

“Beberapa pihak menganggap (perubahan iklim) sepele. Aku tidak.” Kalimat tegas itu keluar dari mulut gadis remaja 16 tahun asal Swedia bernama Greta Thunberg. Greta adalah representasi dari sedikit remaja yang sangat peduli dengan lingkungan, terutama perubahan iklim. Suatu hari di musim panas lalu, Greta membolos dari sekolah. Greta tak sembarang membolos. Ia duduk manis di […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]