× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Satu Dekade doctorSHARE Layani Kesehatan Masyarakat 3T

By Redaksi
Founder doctorSHARE dr. Lie Dharmawan (kanan) saat memberi pemaparan bersama Wakil Ketua Pelaksana Harian doctorSHARE Tutuk Utomo Nuradhy (kiri) dan Project Officer Rumah Sakit Apung (RSA) Nusa Waluya II dr Stephanie pada peringatan 10 Tahun doctorSHARE di Baywalk Mall Pluit, Sabtu (23/11/2019). Foto: Istimewa

Dalam tujuan pembangunan berkelanjutan, atau Sustainable Development Goals (SDGs), kesehatan ada di poin ketiga; Good Health and Well Being. Karena itu, kesehatan adalah hak bagi siapapun. Tak memandang kaya dan miskin. Namun pada praktiknya, “golongan bawah” seringkali kesulitan mendapat akses pengobatan.  Pelayanan kesehatan pun akan lebih sulit juga bila dikaitkan konteks geografis. Daerah tertinggal, terdepan, terluar (3T) adalah contohnya.

Melihat hal ini, dr. Lie Dharmawan, seorang dokter senior Indonesia, tergerak hatinya untuk tetap bisa melayani masyarakat yang masuk 3 kategori tersebut. Melalui doctorSHARE yang didirikannya, sebuah organisasi pelayanan kesehatan nirlaba, dr. Lie berusaha membuka akses kesehatan yang layak bagi masyakarat yang kurang beruntung.

Sudah sepuluh tahun, doctorSHARE berkembang dengan program kesehatan inovatifnya, seperti Rumah Sakit Apung (RSA) dan Dokter Terbang. Untuk Rumah Sakit Apung menggunakan kapal yang singgah untuk melayani warga di berbagai wilayah 3T. Sementara untuk Dokter Terbang, pelayanan dilakukan dengan pesawat terbang kecil yang membawa para dokter ke pelosok 3T.

Founder doctorSHARE dr. Lie Dharmawan (kiri) saat memberikan layanan kesehatan kepada pasien di Rumah Sakit Apung (RSA) Nusa Waluya II yang sedang disandarkan di Baywalk Mall Pluit Sabtu (23/11/2019). Foto : Istimewa

 “Sudah selayaknya setiap masyarakat di Indonesia mendapatkan layanan kesehatan yang sama. Masyarakat di kota maupun di pedesaaan harus mendapat layanan kesehatan yang layak. Ini bukan hanya menjadi tugas pemerintah saja, melainkan tugas kita bersama untuk mewujudkannya,” kata dr. Lie.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, hampir 63% masyarakat menyatakan akses untuk mendapatkan layanan kesehatan di Rumah Sakit masuk dalam kategori sulit dan sangat sulit. Angka lain menyebutkan masih ada 60,8% masyarakat di Indonesia yang kesulitan mengakses layanan kesehatan primer seperti Puskesmas atau Klinik.

Definisi sulit dalam Riskesdas dilihat berdasarkan jenis moda transportasi yang digunakan, waktu tempuh dari dan menuju lokasi akses kesehatan, serta biaya yang harus dikeluarkan untuk menuju fasilitas kesehatan terdekat.

“Pemerintah pusat melalui Dinas Kesehatan di daerah telah berusaha untuk mengurangi masalah kesehatan. Penguatan sisi promotif dan preventif di Puskesmas menjadi hal utama yang diupayakan pemerintah saat ini,” ucap Direktur Pelayanan Kesehatan Primer, Kementerian Kesehatan, drg. Saraswati.

Saraswati menambahkan, pemerintah melakukan perumusan hingga mengevaluasi kebijakan di bidang pelayanan kesehatan untuk masyarakat di semua wilayah termasuk daerah terpencil, perbatasan, dan kepulauan. Tenaga kesehatan di daerah dibimbing agar selaras dengan kebijakan pusat.

Rumah Sakit Apung (RSA) Nusa Waluya II merupakan rumah sakit pertama di dunia yang didirikan di atas sebuah tongkang (barge) yang mulai Sabtu (23/11/2019) disandarkan di Baywalk Mall Pluit dan dibuka untuk dikunjungi oleh masyarakat umum hingga Minggu (1/12/2019). Foto : Istimewa

Indonesia menjadi salah satu dari 193 negara yang berkomitmen untuk membawa perubahan dunia di tahun 2030. Komitmen tersebut tertuang dalam Sustainable Development Goals (SDGs) dimana kesehatan menjadi salah satu poinnya. Pada butir ketiga SDGs disebutkan membentuk kehidupan yang sehat dan mendukung kesejaheraan bagi seluruh masyarakat.

Sementara Direktur Program Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI), Egi Abdul Wahid memaparkan, sebelumnya ada Millennium Development Goals (MDGs) yang juga memiliki target dalam kesehatan. Namun, MGDs masih meninggalkan pekerjaan rumah yang belum selesai pada 2015 lalu. Saat ditransformasikan menjadi SDGs, ada beberapa target tambahan yang komprehensif dan lintas sektoral.

“Kesehatan menjadi input sekaligus output dari pencapaian SDGs, inovasi diperlukan dari para ahli kesehatan masyarakat melalui pendekatan akademik maupun intervensi kesehatan langsung,” ujar Egi.

Berdasarkan Perpres No. 59 tahun 2017, kesempatan untuk mengembangkan daerah sesuai dengan SDGs bisa dilakukan melalui koordinasi antara pemerintah daerah, akademisi, pihak swasta, filantropi, masyarakat sipil, dan media.

Kondisi ini yang turut menjadi dasar doctorSHARE dalam mengembangkan program layanan kesehatan. “Keberadaan doctorSHARE menempatkan diri sebagai mitra pemerintah dalam upaya pemerataan akses kesehatan. Ini selaras dengan salah satu Nawa Cita pemerintah yaitu membangun Indonesia dari pinggiran,” tutup dr. Lie yang ditemui pada Peringatan 10 Tahun doctorSHARE di Baywalk Mall Pluit, Jakarta, Sabtu (23/11/2019).

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]