× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Salman Aristo : Cerita Bisa Gerakkan Peradaban

By Redaksi

Coba saja tanya soal film, obrolan pria berkacamata ini sulit berhenti. Sudah puluhan karya berkualitas ia hasilkan demi kemajuan industri perfilman nasional. Peran yang digelutinya pun bermacam, mulai dari penulis skenario, sutradara, hingga produser. Beragam penghargaan film sudah digenggam hasil dari kerja keras, dan pengakuan atas prestasi serta dedikasi.

Pria yang akrab disebut Aris lahir dari keluarga penyuka film. Lingkungan inilah yang cukup mempengaruhi perjalanan karier pria kelahiran 21 April 1976 ini. Film-film seperti Brownies, Jomblo, Laskar Pelangi, Garuda di Dadaku, Kambing Jantan, Sang Pemimpi, Ayat-Ayat Cinta, sampai Mencari Hilal adalah hasil tangan dingin kreativitasnya dan tim.

Tentang Pasang Surut Film Indonesia

Film termasuk bagian sejarah panjang perjalanan budaya bangsa ini.  Era awal perfilman Indonesia ini diawali dengan berdirinya bioskop pertama di Indonesia pada 5 Desember 1900 di daerah Tanah Abang, Batavia dengan nama Gambar Idoep yang menayangkan berbagai film bisu.(1)

Menurut informasi, film pertama kali dibawa masuk oleh para pedagang Tionghoa pada tahun 1924. Para pedagang tersebut membawa film asal negara mereka untuk dipertontonkan ke masyarakat lokal. (2)

Sementara film produksi pertama Indonesia dibuat tahun 1926. Film yang diangkat dari legenda Sunda Loetoeng Kasarung adalah film bioskop pertama. Adalah dua orang Belanda, L. Heuveldorp dan G. Kruger yang memproduksi film tersebut. Tak lama film kedua pun dirilis berjudul Eulis Atjih yang menceritakan kisah seorang istri yang disia-siakan suaminya dan tayang di  tahun berikutnya yaitu 1927. Kedua film dibuat setelah Heuveldorp dan Kruger membuat perusahaan film yang diberi nama Java Film Coy di Bandung, Jawa Barat.

Pada perkembangan selanjutnya, film-film terus diproduksi yang diimbangi dengan pembangunan gedung bioskop di berbagai tempat. Mulai 1926 hingga 1932 tercatat ada 21 judul film yang diproduksi dan 227 gedung bioskop dibangun di seluruh Indonesia.  Perkembangan pesat perfilman itulah yang melahirkan  Festival Film Indonesia. Adalah tokoh perfilman  Djamaludin Malik yang berada di balik pembentukan festival tersebut.

Festival ini merupakan bentuk apresiasi terhadap insan perfilman dan sinematografi Indonesia. Festival ini pula yang kian mempopulerkan film-film produksi dalam negeri. Festival Film Indonesia (FFI) kali pertama digelar pada 30 Maret sampai 5 April 1955. FFI adalah hasil pembentukan Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI) pada 30 Agustus 1954. “Jam Malam” karya Usmar Ismail menyabet penghargaan terbaik di FFI pertama tersebut. Film ini bermuatan kritik sosial tentang mantan pejuang pasca kemerdekaan Indonesia.

Pada dasawarsa 1960-an industri film sempat mengalami kemunduran akibat kondisi perpolitikan. Dekade selanjutnya, 1970-an film Indonesia kembali produktif menelurkan sejumlah film happening di masanya. Bintang-bintang seperti Widyawati, Sophan Sopian, Roy Marten, Yenni Rachman, Lenny Marlina, Suzanna sampai komedian Benyamin Syueb adalah pesohor film di kala itu.

Beranjak ke tahun 1980-an  produksi film Indonesia sedikit menurun. Meskipun tercatat ada beberapa karya fenomal seperti Nagabonar, Kejarlah Daku Kau Kutangkap, Arini: Masih Ada Kereta yang Akan Lewat, Tjoet Nyak Dien, sampai film remaja seperti Catatan si Boy. Dekade 90 an adalah saat kemunduran industri film bioskop. Selain masyarakat dihujani oleh sinetron televisi, saat itu layar perak dipenuhi film underrated yang mengedepankan sisi sensual tanpa kekuatan cerita. Film Indonesia kembali menggeliat  di dekade 2000-an salah satunya lewat film remaja berkelas karya sineas Rudi Soedjarwo, Ada Apa Dengan Cinta.

Jumlah penonton film bioskop sebenarnya mengalami pasang surut. Hal ini diakui oleh tokoh kita minggu ini, sineas Salman Aristo. Saat menyambangi kantornya di bilangan Kemang, Jakarta Selatan, ayah dari dua orang putra putri ini antusias berkisah soal industri film nasional.

“Apresiasi penonton bioskop terhadap perfilman Indonesia sempat memuncak di tahun 2008-2009,” ungkapnya membuka obrolan. Saat itu jumlah penonton yang datang ke bioskop mencapai 30 juta orang.

Di tahun 2011, terjadi bencana perfilman. Aris mengisahkan, penonton bioskop anjlok sampai setengahnya. Banyak pihak yang masing-masing berargumen soal penyebabnya. Ada yang bilang, film-film Indonesia di masa itu skenarionya buruk, akting pemainnya mengecewakan, dan lain-lain. Namun kuat dugaan Aris, “Situasi saat itu, para hitmaker film di tahun sebelumnya, sedang dalam masa produksi panjang”.

Selain itu, peristiwa pemboikotan dari asosiasi film Amerika atau Motion Picture Association of America (MPAA) karena soal pajak, turut menurunkan animo masyarakat ke bioskop. Seperti diketahui, MPAA mendistribusikan film-film besar besutan Hollywood yang selalu dipadati penonton. Banyak rumah produksi kala itu, menurut Aris, merasa rugi karena hanya setengah margin yang kembali dari yang diperkirakan.

Pada tahun 2010 – 2014 jumlah penonton stagnan di kisaran 15 juta sampai 16 juta. Namun pada 2013 dengan dimotori film Ainun dan Habibie serta Tenggelamnya Kapal Van der Wijk, angka penonton bioskop sempat menyentuh 18 juta. “Sampai akhirnya di tahun 2015, penonton bisokop kembali nyaris berjumlah 30 juta orang,”papar suami Ginatri S Noer yang juga penggiat film.

Trend kenaikan jumlah penonton ini berlanjut di tahun setelahnya. Pada 2016 angka penonton film beranjak ke 30 juta, lalu di 2017 ke 40 juta penonton dan tahun kemarin, 2018, melewati angka 52 juta penonton.

Aris mengaku senang dengan tren positif tersebut. Tapi di lain sisi memicu situasi kontradiktif. “Sekarang kreator film kian bergiat ke produksi layar lebar. Namun sebaliknya, banyak orang yang berencana bikin film, tapi kru produksinya tak ada, karena sedang terlibat proyek film lainnya. Kekurangan kru berpengalaman itu, tambah Aris, disebabkan berbagai hal. Yang perlu diakui adalah, sejak era reformasi, perkembangan perfilman Indonesia tidak terlalu pesat. Sehingga seolah ketinggalan gerbong dengan kebutuhan masyarakat.

Ketidakseimbangan proses produksi dan demand pasar sangat mengusik pikiran seorang Salman Aristo. Dia menyesalkan ekosistem film Indonesia yang tidak kondusif. “Dari jaman reformasi sampai sekarang, film Indonesia (bisa dibilang) kehilangan gerbong,” tambahnya. Banyak hal yang menyebabkannya begitu. Menurut Aris, Undang-Undang perfilman yang masih buruk (suprastruktur ketinggalan jaman), infrastruktur, studi dan riset di bidang perfilman, (seperti kenapa film Indonesia bisa naik atau turun), hal itu tidak terjadi di industri film sendiri.

“(Industri) Film hanya sibuk di dalam.(Hanya memikirkan)) Produksi dan produksi. Padahal industri gak sekedar hanya produksi tapi juga harus punya ekosistem yang sehat,”kritik Aris. Selain itu ada satu fakta menarik yang terjadi di Indonesia. Seorang produser film di Indonesia, juga dituntut jago dalam soal marketing.

“Hal ini berbeda dengan kiblat industri dunia di Amerika,”imbuh Aris. Di Amerika seorang produser hanya bertugas sesuai jobdesknya. Karena peran pendistribusian dan marketing film sudah ada bagiannya. Seorang produser seperti Mira Lesmana, di Amerika cukup menyerahkan karyanya ke pihak distributor. Distributor biasanya bakal minta margin besar sampai 30%, namun peran distribusi dan marketing mereka ambil alih.  Urusan poster, trailer, teaser, launching, akan diurus.

“Makanya di Hollywood ada istilah studio (enam studio film terbesar) yang awalnya distributor tapi akhirnya mampu menghasilkan film,”papar Aris. Kepemilikan modal yang amat besar menyebabkan mereka bisa seperti itu. Banyak studio film yang kekuatan distribusinya tidak sekuat keenam studio tadi. Studio-studio kecil seperti Miramax, Focus, dan sejenisnya dalam mendistribusikan filmnya selalu bekerja sama dengan studio besar.

Berkaca di Indonesia, peran distributor belum diperlukan. Karena baru ada satu distributor yang menguasai sampai 80 % – 90 % layar bioskop, yaitu 21Cineplex. Ini menyebabkan peran jasa distributor film di Indonesia belum diperlukan. Karena produser bisa membawa sendiri hasil karyanya ke 21 cineplex. Tapi justru dari situasi ini, tugas produser jadi bertambah. Dia juga harus menguasai ilmu marketing.

“Dari mulai tahun 1998 sampai 2015, belum ada produser film Indonesia yang ‘jago’ marketing,”ungkap Aris. Maksud jago marketing ini, lanjut Aris, produser paham pola marketing; harus seperti apa tugas marketing di industri film. Akibatnya, industri Indonesia tidak ajeg, kadang laku, kadang sebaliknya. Tambah lagi, belum ada studi keilmuan terkait standard film yang laku di Indonesia.  Semuanya masih memakai insting dari si produser. Aris menyebutnya “kerja berdasarkan keimanan”. Padahal ketika sudah ada di wilayah marketing, yang berperan bukan lagi soal insting melainkan angka.

“Namun di tengah ekosistem film yang pincang, karya sineas Indonesia masih bisa mengambil angka penonton yang besar,” senyum Aris mengembang. Padahal semua itu dilakukan produser dengan modal talent. Tanpa ada pengetahuan marketing yang mumpuni. Apalagi bila dikelola lebih professional, tentu hasilnya lebih mumpuni.

Nyaris 90 % film Indonesia, menurut Aris, datang dari produksi (creative side) bukan dari bisnisnya. Belum lagi investor film yang masih private sector, belum terlembaga. “Slamet Rahadjo bilang industri film Indonesia masih belum bankable sampai saat ini,” kutip Aris. Akibatnya, sering investor private sector yang keberatan nilai budget proyek film, dianggap terlalu mahal. Dari sinilah masuk sponsor-sponsor yang tidak jarang campur tangan dalam alur cerita film. Film pun jadi tambal sulam kehilangan visi ceritanya.

Sisi buruknya, tumbuhlah produser-produser film yang berpikiran “yang penting dapat duit dan filmnya jadi”. “Mereka pun tak memikirkan lagi cerita, tidak berpihak pada sisi kreatif,”sesalnya.  Banyak adegan penting dalam film yang bagian alur penting film, terpaksa hilang karena budget adegan nilainya besar.

“Garin Nugroho mengatakan situasi ini adalah penggampangan pada visi dan kreatifvitas cerita film,” cetus Aris. Situasi ini terus berlanjut sampai tahun 2015. Sampai akhirnya para produser termasuk Aris menyadari kurangnya pemahaman soal marketing film. Pemikiran karya bagus pasti laku, kini sudah bukannya lagi. Perlu pemahaman juga soal promo dan marketing film. Lambat laun bermunculanlah rumah produksi yang sadar pentingnya budget marketing. Dengan begitu, angka penonton film produksinya bisa dikalkulasi.

Kesadaran ini juga menimbulkan efek yang berantai. Film bagus mulai tayang di layar bioskop, penonton berdatangan, produksi film meningkat. Akibatnya, terjadi kekosongan kru film termasuk sutradara professional. Kekosongan ini berakibat masuknya kru film, pemain, yang kualitas dan profesionalitasnya di bawah standar. Kendati begitu, mereka tetap menuntut fee besar.

“Ada satu kejadian, seorang pemain yang baru main satu film dan satu series, terpilih jadi pemeran film gue. Dia menuntut fee sekelas Acha Septiarsa,” kisah Aris. Karena sulit mencari pemain sesuai karakter, Aris dengan berat hati mengiyakan.

“Apa yang terjadi? Lewat asistennya si artis mengabarkan batal main, karena ada jadwal lain,” mangkel Aris. Gilanya lagi, lanjut Aris, asisten tersebut membatalkan hanya melalui pesan aplikasi 2 minggu menjelang produksi.

“Situasi ini perlu adanya campur tangan pemerintah,”katanya sedikit “curhat”. Aris berharap, pemerintah perlu menyelenggarakan pendidikan perfilman yang menyentuh kebutuhan industri. Harus ada standardisasi di industri film. Bukan pengekangan kreativitas, jelas Aris, tapi bagaimanapun industri dimanapun termasuk film harus ada standardisasi. Salah satunya bisa melalui festival penghargaan.  Satu hal lagi, Aris mengharapkan adanya strategi budaya dari pemerintah, terutama terkait industri film. Ia mencontohkan Korea Selatan, yang kini sukses di industri film maupun budaya K Pop-nya. Pemerintah Korea Selatan sadar dengan potensi tersebut, dengan menempatkan sineas terkemuka Lee Chang Dong sebagai menteri kebudayaan.

Di tengah ekosistem sulit, Aris merasa cukup lega dengan kedatangan OTT Player seperti netflix, iflix, dan lain-lain. Ini menurutnya harapan baru bagi para sineas Indonesia. Jika mereka (Netflix, Iflix, dll) datang, “Habislah orang-orang yang tidak professional seperti itu,” tegas Ketua Asosiasi Penulis Indonesia untuk Layar Lebar (PILAR) ini. Para kreator film berkualitas pun bakal pilih sistem OTT daripada sistem free to air (televisi) karena karyanya lebih dihargai di sana.

Berbeda dengan film bioskop, film-film produksi Netflix, Iflix, adalah serial. Mereka tidak peduli dengan siapa kru film yang bakal terlibat. Tidak juga terlalu mempermasalahkan pemain, sutradara, penulis skenario, dan lain-lain. Mereka hanya melihat kreator dalam proyek film kerjasamanya. Sebab, mereka sudah punya mekanisme sistem sendiri dalam pembuatan film.  dengan layar bioskop yang berdasarkan talent. Tidak cukup diwakili oleh produser terkenal, karena investor akan bertanya, siapa pemainnya, siapa sutradaranya, dan lain-lain. Perbedaan lain, film bioskop bersifat investasi, film OTT Player adalah komisi seperti layaknya iklan.

“Faktanya, lebih banyak pemain film yang besar karena serialnya, bukan sebaliknya. Contohnya serial sukses Friends di Amerika,”Aris menerangkan. Awalnya tak banyak yang tahu para pemainnya. Tapi karena serialnya sukses dan syuting serial yang bertahun-tahun, pemainnya pun jadi populer.

Hal lain yang menjadi kelebihan serial adalah soal daya serap kru. Seorang kreator serial bisa memakai lebih dari satu sutradara, bahkan sesuai keinginan tergantung kebutuhan cerita. Demikian juga dengan kru lainnya. Bisa jadi dalam satu proyek serial bakal ada 5 penulis skenario sekaligus. Hal ini berbanding terbalik dengan film bioskop di Indonesia yang penggunaan kru nya sedikit.

Apakah akan saling bunuh antara film bioskop dengan film OTT? Aris menggeleng. “Karena nature nya beda. Film bioskop berdasarkan margin, sementara OTT lebih ke profit karena berdasar komisi”. Selain itu buktinya, banyak orang yang tetap menonton bioskop meski dirinya gemar film besutan Netflix dan sejenisnya.

 

Tentang Wahana Kreator Nusantara

Wahana Kreator Nusantara (WHN) awalnya bernama Wahana Penulis. Lahir tahun 2009 dari kegelisahan 13 penulis sineas melihat kualitas film di layar kaca. Salah satu yang ingin dilawan oleh ke 13 penulis ini adalah sinetron stripping yang menurut mereka berkualitas mengkhawatirkan. Bagaimana bisa menilai kualitas cerita kalau cara kerjanya malam ini bikin skenario, besok paginya langsung syuting. Kondisi sineas yang chaos inilah merahimi lahirnya WHN di awal.

Orang-orang yang tergabung di WHN ini percaya, bahwa cerita yang baik menggerakkan peradaban. Kenapa sedemikian berpengaruhnya sebuah cerita bagi peradaban?

“Cerita adalah tools yang dipakai manusia untuk belajar,”ungkap Aris. Sebagai cara untuk memahami dunia yang “chaos”. Cerita bisa menerjemahkan paradoks realitas seorang tukang becak yang mati-matian mendapatkan uang 30 ribu rupiah dengan seorang koruptor yang jadi ketua DPR. Ada bayi umur sebulan meninggal di sisi lain ada seorang junkies usia 60 tahun tetap hidup.

“Manusia menterjemahkan chaos itu melalui 3 tools, yaitu agama, ilmu, dan seni,” papar Aris. Posisi cerita yang paling menarik, karena ada di ketiganya. Cerita adalah alat manusia untuk survive, belajar, dan sebagainya. Bagaimana seorang manusia purba menceritakan kisahnya berburu melalui gambar di dinding gua.

“Kami menyampaikan argumen kegelisahan melalui cerita, sementara film adalah bentuk (media)nya,” papar Aris. WHN setidaknya menjadi bagian dari perubahan industri film yang lebih berkualitas. Bisa menghasilkan kreator-kreator film yang beranjak dari 3 hal, edukasi, development (pengembangan), dan produksi. Jadi tidak hanya menghasilkan penulis, sutradara, dan sebagainya. Seorang kreator harus memahami sisi cerita, produksi, dan lainnya. WHN bahkan sudah merilis buku berjudul “Kelas Skenario”, upaya mengkampanyekan gemar menulis cerita yang baik dan benar kepada masyarakat.

 

Tentang Kolaborasi Bersama Istri

Bekerja sesuai passion tentu menyenangkan. Terlebih bila pasangan kita menyenangi dan berprofesi di bidang yang sama. Salman Aristo beristrikan Gina S. Noer sejak 2005, yang juga awalnya berprofesi sebagai penulis skenario. Bahkan di tahun 2012, sang istri berhasil meraih penghargaan Piala Citra sebagai penulis skenario terbaik bersama Ifan Adriansyah Ismail lewat film Habibie & Ainun. Terbaru, Gina menjadi produser dan penulis naskah film Keluarga Cemara yang tengah tayang. Film keluarga ini menuai banyak pujian dan penghargaan.

Adakah idealisme yang harus dikompromikan saat berkolaborasi dengan istri? “Sebenarnya sama saja, karena tak cuma sekedar menulis, mengarahkan film berdua saja bisa. Yang dibutuhkan hanya tinggal menyatukan visi saja,” beber Aris. Yang sering disalahpahami, jelas Aris, bila ada 2 penulis atau sutradara  terkesan ada yang lebih dominan atau yang lain asisten, padahal porsinya sama aja.

“Biasanya kami melakukan ‘lempar-lemparan’ draft naskah,” kata Aris. Seperti draft pertama istri atau dirinya dulu yang bikin, draft selanjutnya tergantung kesepakatan. Sampai saat ini Aris mengaku masih punya banyak rencana berkolaborasi dengan istri untuk memproduksi sebuah film. Karena, setiap hari pun Aris selalu berdiskusi seputar cerita baru, dan apapun yang terkait dengan film.

“Mulai dari (film) drama, komedi, horror, sering mendiskusikannya dengan istri,” tutup Aris tanpa memberikan bocoran film yang dimaksud.

 

Sumber:

(1): Wikipedia

(2): https://pakarkomunikasi.com/sejarah-perfilman-indonesia

Foto: dokumen pribadi via Femina

“Beberapa pihak menganggap (perubahan iklim) sepele. Aku tidak.” Kalimat tegas itu keluar dari mulut gadis remaja 16 tahun asal Swedia bernama Greta Thunberg. Greta adalah representasi dari sedikit remaja yang sangat peduli dengan lingkungan, terutama perubahan iklim. Suatu hari di musim panas lalu, Greta membolos dari sekolah. Greta tak sembarang membolos. Ia duduk manis di […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]