× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Saatnya Kurangi Konsumsi Daging Demi Kurangi Emisi

By Redaksi
Ilustrasi Sajian Daging. Foto : Pixabay

MajalahCSR.id – Sebuah studi terbaru menyimpulkan fakta yang cukup mengejutkan: jika pun seluruh negara di dunia berhenti memakai bahan bakar fosil dimulai pada hari ini, itu tidak cukup menghentikan dampak emisi gas rumah kaca.  Emisi gas rumah kaca (GRK) atau Greenhouse gas (GHG) yang dihasilkan dari produksi dan konsumsi pangan ternyata mempercepat terjadinya peningkatan suhu hingga 1,5°C (seperti disebutkan dalam Kesepakatan Iklim Paris) yang bahkan lebih awal terjadi pada pertengahan abad ini.  

Penelitian tersebut menyarankan untuk melawan perubahan iklim, kita tak cukup hanya menurunkan emisi karbon dari energi yang dipakai termasuk menghentikan kendaraan berenergi fosil, melainkan juga harus membatasi bahkan mengurangi konsumsi daging.

Pangan adalah salah satu pemicu GRK terbesar hasil kegiatan manusia, diikuti transportasi, dan listrik (yang memakai tenaga batubara).  Merujuk pada riset yang dipublikasikan pada 6 November dalam jurnal Science, pangan yang kita produksi, konsumsi, dan buang menjadi pemicu terjadinya pemanasanglobal hingga 30%. Penyebabnya produksi dan pengggunaan pupuk, penggunaan lahan pertanian, sampai sendawa dan – maaf – kentut sapi.  

Tak seperti GRK yag disebabkan energi pembangkit dan transportasi, yang dapat diganti dengan tenaga surya, dan kendaraan listrik, solusi emisi dari produksi pangan sangat kurang mendapat perhatian. Tim studi tersebut sudah mengevaluasi dampak potensial dari berbagai strategi dan kebijakan terhadap jejak karbon pangan. Yang paling efektif adalah mengurangi konsumsi daging.  

Para periset seperti ditulis intelligentliving menggunakan menggunakan pedoman diet EAT-Lancet Commission yang fokus pada tujuan keberlanjutan dan kesehatan seseorang untuk menghitung estimasinya. Studi tersebut juga tidak bermaksud menyarankan masyarakat menjadi vegetarian 100%. Setiap orang masih bisa menikmati beef burger sekali seminggu, atau lebih jika anda menggantinya dengan daging ayam, kalkun, atau ikan.

Plihan lain adalah diet serangga. Beberapa perusahaan sudah mulai mengenalkan makanan ringan terbuat dari jangkrik, tepung protein jangkrik, dan bahkan yang menawarkan sarang untuk mengembangkan ulat hongkong yang bisa dikonsumsi di rumah.

Jika kita mengurangi konsumsi daging yang diintegrasikan dengan strategi lain, seperti penggunaan lahan yang efisien, pertanian yang strategis, intensitas panen, dan mengurangi limbah pangan – yang dilakukan sesegera mungkin – kita dapat mengatasi emisi akibat pangan pada kondisi wajar pada tahun 2100. Merujuk pada laporan PBB, populasi dunia diperkirakan menyentuh angka 11 miliar orang pada akhir abad ini.  

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]