× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Riset Terbaru Mengungkap COVID-19 Salah Satu Penyakit Autoimun

By Redaksi
Ilustrasi Virus Corona (COVID-19). Foto : Wikipedia

MajalahCSR.id – Sakitnya seseorang oleh virus COVID-19 bergantung pada reaksi imunitas yang dimiliki. Namun, hingga kini para ilmuwan masih belum sepenuhnya paham mengapa sebagian orang demikian parah dan yang lainnya cuma menunjukkan gejala ringan saat terpapar virus. Sebuah studi dari Universitas Yale sedikit mengungkap alasan di balik semua itu.

Dilansir dari sciencealert, riset yang sudah dipulikasikan dalam jurnal, mengungkap, pasien COVID-19 ternyata memproduksi autoantiodi dalam tubuhnya. Antibodi ini alih-alih menghadang dan menyerang virus, malah menyerang imun dan organ si pasien.

Riset juga menemukan, mereka yang terkena virus memiliki autoantibodi yang mengunci protein penting untuk mengenali, mengingatkan, dan membersihkan sel yang terinfeksi virus.

Protein dimaksud termasuk cytokines dan chemokines, yang merupakan pengirim pesan penting ke sistem imun. Adanya gangguan pada fungsi normal sistem imun, menyebabkan tubuh gagal membentuk pertahanan antivirus, sehingga berpotensi memperparah penyakit.

Hubungannya dengan gangguan autoimun

Sejak bertahun-tahun, autoantibodi disebut biang kerok penyakit autoimun, seperti radang sendi dan lupus. Masih belum terungkap mengapa sebagian orang memiliki antibodi ini, namun diperkirakan akibat kombinasi gangguan genetis dan lingkungan. Infeksi virus juga dihubungkan dengan sejumlah penyakit autoimun.

Awal 2020 lalu, para ahli melaporkan adanya pasien yang tak punya riwayat penyakit autoimun, memperlihatkan gejala autoantiodi ketika terserang COVID. Dalam kasus ini, autoantibodi pasien ditemukan memiliki kesamaan dengan penyakit autoimun tak dikenal lainnya, selumrah protein normal yang ditemukan pada setiap inti sel.

Studi selanjutnya menemukan bahwa pasien COVID dapat mengembangkan autoantibodi untuk mementuk interferon, senyawa protein yang berperan melawan infeksi virus.

Ilmuwan dari Universitas Yale yang melanjutkan riset, menggunakan teknik baru dalam menyeleksi kasus autoantibodi yang melawan ribuan protein tubuh. Mereka mencari autoantibodi dari pasien di 170 rumah sakit. Setelah itu membandingkan masing-masing kondisi autoantibodi tersebut dengan pasien COVID lain yang kondisinya tak parah serta orang-orang yang tak terpapar.

Dalam darah pasien yang dirawat di rumah sakit, para ahli menemukan autoantibodi yang bisa menyerang interferon, seperti halnya autoantibodi yang mengganggu sel lain terkait sistem imun, yaitu sel T. Penemuan ini memperlihatkan autoantibodi selalu ditemukan pada pasien COVID-19. Para ilmuwan tersebut masih terus menguji hasil penemuan tersebut. Memahami bagaimana autoantibodi ini terbentuk akan memudahkan upaya terapi baru yang lebih baik pada pasien.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]