× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Rimping dan Pemanfaatan Kemasan Alami

By Redaksi

Beberapa waktu lalu Rimping Supermaket menuai pujian pasca beredar viralnya foto-foto sayuran dalam kemasan daun pisang yang dibagikan oleh konsumen mereka. Rimping adalah sebuah supermarket di Chiangmai, Thailand, yang memang menerapkan kebijakan pengurangan sampah plastik, dan menggantinya dengan bahan-bahan organik. Tak ada styrofoam dalam kemasan mereka. Sebaliknya, wadah-wadah yang ramah lingkungan seperti keranjang anyaman bambu dan kardus kertas mudah terurai dan bersifat tidak sekali pakai bisa ditemukan di berbagai sudut supermaket.

Demi mendukung kelestarian lingkungan, Rimping mengemas produk makanan laut dan produk daging dengan bahan yang 100% biodegradable. Supermaket yang berlokasi di Thailand utara ini juga menggunakan kantong plastik ramah lingkungan yang akan hancur dalam waktu delapan bulan. Selain itu, mereka membuat program unik berupa uang donasi bagi yang belanja dengan tas belanja sendiri.

“Kami mendorong pelanggan untuk menghindari penggunaan kantong plastik, dan kami membuat sumbangan amal sebesar 0,5 baht setiap kali mereka melakukannya,” kata presiden perusahaan, Phairoj Phatsorpinyosakul kepada media lokal.

Rimping sendiri bukan ‘pemain’ baru dalam hal program ramah lingkungan. Sejak 2005, Rimping telah menerapkan sistem penerangan yang hemat energi. Desain ruangan dibuat sedemikian rupa sehingga memungkinkan pencahayaan dan sirkulasi udara dapat menghemat penggunaan listrik. Upaya ini berhasil memangkas 25-30 persen konsumsi energi.

Tahun 2007, dengan slogan “Make Chiang Mai a Better Place to Live”, Rimping menerapkan kebijakan 3R, reduce-reuse-recycle, dan mengajak konsumen untuk terlibat.

Kembali ke soal kemasan alami, bukankah Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang juga dapat dimanfaatkan? Beberapa jenis daun bahkan tercatat banyak digunakan untuk berbagai keperluan. Ada yang masih dipertahankan, ada pula yang nyaris tak digunakan lagi.

Daun Jati

Pemanfaatan daun jati di perkampungan Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta cukup mudah ditemukan. Sebelum kertas berlapis plastik digunakan sebagai pembungkus nasi, daun jati sudah terlebih dulu digunakan dengan menambahkan daun pisang sebagai alasnya. Aneka jenis penganan dapat dibungkus menggunakan daun ini. Selain sebagai wadah makanan matang, daun jati juga dimanfaatkan untuk membungkus daging mentah. Daun ini dipercaya bisa mengurangi aroma amis dan membuatnya lebih empuk. Biasanya yang diambil bagian daun muda, karena teksturnya yang liat.

Di Jawa Barat, khususnya Cirebon, masih menggunakan daun jati sebagai pembungkus makanas khasnya, nasi jamblang.  

Daun Mangkok

Daun mangkok berbentuk bulat, dengan cekungan pada bagian tengahnya menyerupai mangkok. Ada beberapa julukan untuk daun ini. Di tanah Sunda, orang menyebutnya daun mamanukan. Orang Jawa Timur menyebutnya godong mangkokan. Di Indonesia timur seperti Ambon dan Papua, mereka dinamai daun papeda. 

Meski tak sepopuler daun pisang, daun mangkokan juga dimanfaatkan sebagai pembungkus seperti bubur sagu, pecel, dan pepes. Daun mangkok juga banyak dimanfaatkan sebagai penghilang bau amis pada ikan.

Pelepah Jagung

Para perokok di masa lalu banyak memanfaatkan pelepah jagung sebagai pelapis tembakau dan menjadikannya batang rokok. Seratnya yang panjang, kuat, dan rapat juga dianggap kuat sebagai pembungkus makanan. Karena bentuknya yang tak terlalu besar, pelepah jagung lebih banyak dimanfaatkan untuk pembungkus jajanan seperti wajit Bandung dan dodol ayas Gresik.

Daun Kelapa

Daun kelapa lebih banyak dimanfaatkan untuk pengganti atap. Namun tak sedikit yang memanfaatkannya untuk kemasan makanan, terutama kue. Yang digunakan adalah daun yang masih muda atau janur. Makanan yang biasa dibungkus dengan janur misalnya ketupat, clorot, dumbeg, legondo, lapet ketan, dll.

Daun Bambu

Bambu dikenal sebagai tanaman yang dapat dimanfaatkan seluruh bagian tubuhnya. Mulai dari tunas, batang, hingga daunnya. Namun dibutuhkan proses yang agak lama untuk pemanfaatan daun bambu ini. Daun harus dibersihkan terlebih dahulu dari bulu-bulu halusnya, lalu direbus hingga sedikit layu.

Makanan yang memanfaatkan daun bambu yang masih bertahan hingga sekarang di antaranya adalah bacang dan kue gambir.

Daun Nyangku

Dibandingkan yang lainnya, daun yang satu ini relatif tak cukup dikenal. Tapi sesungguhnya warga lereng Gunung Slamet sudah jauh-jauh hari memanfaatkannya sebagai pembungkus makanan, sebelum ada plastik atau kertas. Bentuknya lebar memanjang dengan serat kuat. Daun nyangku dapat dijumpai pada kuliner khas masyarakat lereng Gunung Slamet.  

Siapkah kita kembali memanfaatkan produk-produk alami ini?

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]