× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Regenerasi Lingkungan di tengah Pencegahan Bencana Iklim

By Redaksi
Ilustrasi Lahan Hutan. Foto : jotily/Getty Images

MajalahCSR.id – Lebih dari 1000 perusahaan, menggapai target untuk pencegahan perubahan iklim berdasar sains.  Namun, Lembaga Science Based target Network (SBTN) mengatakan, perusahaan juga harus punya komitmen pada lingkungan yang berlandaskan sains tadi. Strategi ini sudah seharusnya dilakukan sejak awal. Situasi ini seakan menempatkan divisi keberlanjutan sebuah perusahaan besar membangun pesawat saat tengah berada di udara.

“Kita seharusnya sudah mengambil tindakan hari ini dan melangkah,” ungkap Heather Tansey, Direktur Keberlajutan Cargill dalam perhelatan Greenbiz 21 terkait Alam dan Regenerasi. “Kami percaya, kita tak bisa lagi menunda untuk mendefinisikan konsensus demi kemajuan. Kami melakukannya secara parallel.”

Demi membantu, SBTN menyusun pedoman soal petunjuk aksi untuk melindungi lingkungan yang sejalan dengan sains, karena banyak perusahaan yang sudah ingin melakukannya.

“Apa yang kami dengar dari perusahaan adalah: beritahu kami bagaimana cara mengukurnya? Berapa banyak manfaat yang kami dapatkan secara adil?” ungkap Erin Billman, Direktur Eksekutif SBTN.

Pedoman tersebut merupakan ‘best practice’ untuk konservasi dan meregenerasi lahan yang sehat, ketersediaan air alam, lautan, dan keragaman hayati. Dalam pertemuan Greenbiz 21, dua perusahaan besar perkebunan dan pangan, Cargill, dan Mars menjadi pemateri utama.

Tansey pada kesempatan itu mengungkap program Cargill yang memiliki 4 pilar: mengurangi sampah makanan, bersandar pada inovasi, menerapkan pertanian/perkebunan yang regenerative seperti rotasi tanaman untuk kesuburan tanah, dan metode peternakkan yang berkelanjutan.

“Kami, pada dasarnya mempercayai bahwa peternakkan dapat diarahkan pada hal yang benar ketika berurusan dengan perubahan iklim,” tambah Tansey. “Peternakkan  memiliki peran pentingg di Amerika Utara dalam konteks membantu melestarikan lingkungan dan ekosistem di Barat.”

Sementara itu, Kevin Rabinovitch, Direktur Utama Keberlanjutan Global di perusahaan perkebunan cokelat dan pangan, Mars, menyadari bahwa perkebunan/pertanian yang bisa diperbaharui (regeneratif) adalah kata kunci baru dalam keberlanjutan. Dia menegaskan bahwa perusahaan harus berhati-hati menerjemahkan makna perkebunan yang regeneratif yang di saat bersamaan merencanakan program perkebunan regeneratif yang mengikat karbon ke dalam tanah. Contohnya, no-till farming, rotasi tanaman dan keragaman hayati.

Tidak semua inisiatif/gagasan lingkungan, sosial, dan pemerintah atau environment, social dan government (ESG) dibuat secara seragam. Sehingga tanpa adanya pemahaman yang riil sebelum memulai, akan sulit mencapai keberhasilan.

“Deforestasi, atau memicu karbon dalam tanah, atau bahkan perkara sosial hak asasi manusia seperti eksploitasi buruh bukanlah atribut produk,” jelas Rabinovitch. “Anda tidak bisa begitu saja memakai satu instrumen untuk mengukur sejumlah perusahaan minyak sawit melakukan deforestasi atau eksploitasi buruh dalam rantai pasoknya. Jadi itu bukan atribut produk melainkan atribut proses. Sejujurnya, itu bukan cara yang benar dalam industri pasar komoditas.”   

Solusinya adalah fokus pada pengetatan lumbung di tengah perubahan iklim, regenerasi alam, penyelesaian ketidakadilan sosial, dan mencari manfaat lainnya selain mengantisipasi soal iklim.

Tanpa kesepahaman dalam definisi, bakal semakin menyulitkan perusahaan untuk membuktikan mereka punya komitmen yang baik. Merujuk pada panelis di pertemuan tersebut, cara terbaik untuk mendapatkan dampak dari program yang dijalankan adalah menciptakan target dan “timelines” yang spesifik. Bakal muncul visi-visi dalam jangka panjang, namun perusahaan butuh bukti nyata, target yang terukur berjangka dekat.  

 

Tulisan ini merupakan alih bahasa artikel dari penulis Jesse Klein berjudul “Mars, Cargill put nature regeneration goals alongside avoiding climate catastrophe” di Greenbiz

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]