× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Public Relations Versus Post Truth

Dari JAMPIRO 2018

By Redaksi

Berurusan dengan banyak orang adalah tugas yang lazim dilakukan profesi Public Relations (PR). Dulu, seorang PR menjalin relasi secara normatif dengan institusi media yang berperan dalam menentukan opini massa. Namun jaman telah bergeser, teknologi berkembang, dan perilaku khalayak bertransformasi. Faktanya, kemunculan media sosial sejak dua dekade lalu hasil perkawinan jaman dan teknologi mengubah semua itu.

Tantangan profesi PR makin kompleks, dampak rahim teknologi yang melahirkan media komunikasi dan informasi tak berbatas.  Era disrupsi pun dimulai. Kebenaran tak lagi bisa diklaim absolut sepihak. Setiap orang bisa mengklaim kebenaran. Dan efeknya munculah istilah yang disebut “Post-Truth”.

Post Truth?

Apa sebenarnya arti “post-truth”? Kamus Oxford mendefinisikan maknanya lebih kurang kondisi seseorang yang lebih mengedepankan keyakinan dan perasaan pribadinya dibandingkan fakta yang obyektif dalam menanggapi opini ataupun informasi. Pada tahun 2016, kamus Oxford bahkan menasbihkan kata “post-truth” sebagai kata tahun ini.

“Post-truth” bisa menyerang kebenaran yang sudah mapan sehingga muncullah “pseudo-truth” di tengah masyarakat. “Post-truth” pula yang melahirkan berita palsu yang populer dengan istilah hoax. Lalu bagaimana seorang PR bisa mengatasi situasi ini? Untuk menjawab pertanyaan itu, haruslah diurai satu persatu.

Ismail Cawidu, Kepala Pusat Informasi dan Humas Kesekjenan Kominfo RI, mengungkap fakta yang menggelitik. Dalam paparannya di depan peserta Jambore PR Indonesia (JAMPIRO) 2018, Rabu (07/11), Ismail menemukan fakta bahwa masyarakat Indonesia ternyata sangat menyukai hoax. Cuplikan video berita yang menampilkan dialog Presiden Jokowi dengan seorang anak SD menunjukkan, video yang sudah “dipelintir” lebih banyak ditonton di saluran YouTube.

Memasuki tahun politik, Ismail mengingatkan para praktisi PR terhadap kemunculan ragam informasi “post-truth” yang lebih mendominasi. Solusi untuk menghadapi semua itu, Ismail menyarankan para praktisi melakukan literasi digital. Yaitu kemampuan individu menggunakan teknologi digital dan alat komunikasi untuk mengakses, mengelola, menganalisis,  dan mengevaluasi informasi.

Lain halnya dengan pembicara dari Ogilvy, Aries Nugroho. Menurutnya, fenomena post-truth memberikan tantangan kepada pemerintah dan masyarakat bahwa media sosial dapat digunakan dengan bijak, tapi juga bisa menjadi masalah baru.

Saat dikaitkan dengan brand, Aries dengan lugas menjelaskan, era post-truth adalah sebuah peluang. Kebenaran kadang sulit diutarakan, karena berbagai pertimbangan seperti kerahasiaan.  Tapi saat yakin menyampaikannya, siapapun bakal terkejut dengan respon positifnya. “Truth ia the best branding,” tegas Aries. Penyampaian pesan yang mengombinasikan fakta data (rasional) dengan cerita yang berkembang di masyarakat (emosional) juga resep ampuh menerjang lautan post-truth. Namun resep ini tetap tak berlaku bagi pihak yang bersebrangan, karena bagaimanapun trust is not rational.

Seringkali hoax menyerang sisi emosional khalayaknya. Dan hal ini memang dipahami betul oleh si penyebar hoax. Rahmadin Ismail, wakil Pemimpin Redaksi situs berita Kumparan mengamini realitas tersebut. Dari riset internal yang dilakukan Kumparan, berita berkonten emosional lebih timeless usia keterbacaannya dibanding konten lain.

Ada yang tak kalah penting, saat Ismail Cawidu menutup obrolannya dengan kutipan menarik: sampaikan yang benar jika itu benar, dan sampaikan yang salah dengan cara yang benar.

Public Affairs dan Reputasi Bisnis

Noke Kiroyan, Excecutive Chairman dan Chief Consultant Kiroyan Partners, mengingatkan pentingnya Public Affairs (PA) bagi reputasi perusahaan. Saat reputasi terjaga maka perusahaan dalam kondisi sustainable. Ada dua medan tempur menurut Noke dalam perusahaan, yaitu pasar dan bagian non market yang tak lain public affairs.

PA menurut Noke adalah fungsi korporat yang berperan dalam mengelola isu yang menyerang perusahaan. Dengan pengelolaan isu yang baik, bisa membantu perusahaan dari hal-hal yang merusak reputasi, operasional, maupun finansial.

Noke pun menambahkan, agar kebijakan terkait Corporate Social Responsibilities (CSR) masuk dalam isu pengelolaan perusahaan.  Peran CSR dapat membantu pengembangan fungsi PA unit bisnis. Diantaranya membangun reputasi dan menjalin hubungan sehat dengan para stakeholders. Dan terakhir Noke menggarisbawahi PA harus memperlakukan media sebagai mitra sejajar, tak lagi merupakan bawahan perusahaan.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]