× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Produsen Retail Kian Peduli Isu Keberlanjutan di 2020

By Redaksi
Levi's adalah Pemimpin dalam Pengurangan Zat Kimia dan Air dalam Proses Produksi. Foto: Gary Hershorn/Corbis - Getty Images

Tahun 2020, ternyata membawa berkah terkait isu keberlanjutan. Ada banyak perubahan ke arah yang lebih baik di bidang industri. Hal ini ditandai dengan kian seriusnya perusahaan retail untuk menerapkan kebijakan pro keberlanjutan.

Jen Hyman, CEO dari Rent of Runway menyatakan, cepatnya perkembangan industri retail dan isu keberlanjutan bukan alasan untuk membenturkan keduanya menjadi konflik. Perusahan retail hanya cukup melihat IBM’s recent study, in association with the NRF, untuk memahami prioritas konsumen yang mengalami perubahan kebiasaan.

Para konsumen kini menuntut segalanya cepat (pengiriman di hari yang sama, pengirimaan, dan lain-lain). Belum lagi konsumen membandingkan harga secara realtime. Hal-hal ini  yang membuat sebagian retailers sedikit ragu apakah isu keberlanjutan mempengaruhi keputusan konsumen dalam membeli. Dilihat dari studi terbaru yang dilakukan raksasa teknologi IBM terhadap 19 ribu responden di 28 negara, jawabannya adalah iya.

Menurut studi tersebut, nyaris 60% konsumen yang di survey setuju mengubah kebiasaan belanja untuk meminimalisir dampak buruk pada lingkungan. Sementara hampir 80% diantaranya isu keberlanjutan sangat penting bagi mereka, 70% bahkan bersedia membayar lebih mahal 35% jika produk tersebut mendukung program keberlanjutan. Yang mengejutkan dari statistiknya, ternyata dorongan konsumen terbagi menjadi empat: nilai, tujuan, dan sebagian kecil karena merek (brand) dan produk.

Nilai vs. Motivasi Tujuan dari Studi Konsumen IBM. Grafik : IBM INSTITUTE FOR BUSINESS VALUE

Saat menganalisa keputusan pembelian dari kategori itu, sektor makanan dan minuman yang paling terkena dampak (44% berbanding 35% industri apparel). Fakta ini cukup beralasan di tengah isu sumber makanan dan juga isu lain yang terkait pangan organik, dan sumber yang bisa dipertanggungjawabkan. Konsumen saat ini bisa cukup mudah menelusuri di mana kaos yang mereka beli dibuat, dan  dari perairan mana salmon yang tersedia di meja makan. Ini kekuatan informasi yang membuat perusahaan retailers mau tidak mau sejalan dengan isu keberlanjutan.

Untuk pemegang brand dan sejumlah retailers yang berpikir hanya generasi milenial dan setelahnya (generasi Z) yang memandang isu keberlanjutan penting, ternyata itu bukan kondisi anomali sikap konsumen. Setiap rentang usia yang disurvey sangat konsisten sikapnya terhadap pentingnya isu keberlanjutan dan kesehatan.

Pentingnya Keberlanjutan Menurut Golongan Usia. Grafik: IBM INSTITUTE FOR BUSINESS VALUE

Di bawah ini ada beberapa retailers yang sudah menerapkan konsep keberlanjutan.

1. Levi’s adalah pionir dalam pengurangan zat kimia dan air dalam proses produksinya (tahukah anda dibutuhkan 90 galon air untuk membuat sepasang celana jeans). Perusahaan membuat 20 tahap teknik proses yang masing-masing bisa mengurangi kebutuhan air. Teknik ini pun mereka informasikan ke perusahaan lainnya.  

2. American Eagle: perusahaan ini berambisi untuk menjadi penghasil nol karbon di 2030. Termasuk didalamnya pengurangan pengunaan air dalam proses pemuatan busana jeans-nya hingga 30% dan memanfaatkan air daur ulang hingga 50% di fasilitas pencuciannya.  

3. Groupe Casino: memberitahukan dan memberi insentif pada konsumen yang berbelanja dengan pendekatan masa kadaluarsa pproduk makanannya.

4. Brand busana Stella McCartney diketahui adalah perintis keberlanjutan dalam desain busana flagships-nya.  Di gerainya di London, terdapat busa(foam) dan kertas daur ulang, selain itu njadikannya manekuin yang ada di toko tersebut juga terbuat dari bahan yang mudah terurai.

5. Lush: merupakan produsen kosmetik yang tak menggunakan plastik. Hal ini merupakan kebijakan perusahaan yang meninggalkan kemasan plastik.  

6. H&M: satu lagi produsen busana global yang sadar terhadap lingkungan dengan merilis produknya yang 50% bahannya terbuat dari material daur ulang.

7. Allbirds: Didirikan pada 2014, brand sepatu ini sangat fokus pada material alami.

8. Reformation: Brand busana khusus wanita ini punya 5 kategori yang membuat pelanggan bisa mengenali dampak produk pada lingkungan. Kategori ini termasuk:  ”Eww, never.”

9. Brand sepatu Toms adalah salah satu perusahaan pertama yang mengedepankan isu tanggung jawab sosial. Kepedulian perusahaan ini mencakup ketersediaan air, mendukung layanan kelahiran yang layak, dan melalui kampanye “Stand for Tomorrow” yang fokus membantu tuna wisma, memberdayakan perempuan dan mensolusikan isu sosial lain.  

10. IKEA. Brand fast furniture popular ini pada 2030 mendatang berkomitmen hanya menggunakan bahan daur ulang untuk menekan jejak emisi hingga 70% pada produk yang dibuatnya.

Artikel ini dialihbahasakan dari tulisan Stacey Widlitz yang berjudul Retailers Get Serious About Sustainability Into 2020 di forbes.com.

“Beberapa pihak menganggap (perubahan iklim) sepele. Aku tidak.” Kalimat tegas itu keluar dari mulut gadis remaja 16 tahun asal Swedia bernama Greta Thunberg. Greta adalah representasi dari sedikit remaja yang sangat peduli dengan lingkungan, terutama perubahan iklim. Suatu hari di musim panas lalu, Greta membolos dari sekolah. Greta tak sembarang membolos. Ia duduk manis di […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]