banner
Seorang pekerja berjalan di pertambangan batubara Datong, Provinsi Shanxi, China Utara. Sumber energi industri di China, 60% di antaranya berasal dari batubara. Foto: Greg Baker/AFP/Getty Images
Liputan

Produksi Batubara China Sentuh Rekor Tertinggi di 2021

222 views

MajalahCSR.id – Meskipun seruan global mengemuka untuk hentikan penggunaan batubara, produksi sumber energi ini mencapai level tertinggi di China pada tahun kemarin. Pemerintah negeri tirai bambu terus mendorong industri tambang meningkatkan kapasitas produksi secara maksimal demi menggenjot pertumbuhan ekonominya.

China memang produsen terbesar batubara dunia. Mengutip The Guardian, akhir bulan lalu, negara adidaya Asia ini mencetak rekor produksi lebih dari 384 juta metrik ton. Tak heran China mencatat sejarah pada 2021, di mana untuk kali pertama jumlah produksi batubara menyentuh 4,07 miliar metrik ton, atau naik 4,7% dari 2020.

Fakta ini terjadi hanya sebulan pasca pertemuan iklim tingkat tinggi COP26 di Glasgow, Skotlandia, November lalu. Pada pertemuan tersebut, mayoritas negara menentang penggunaan batubara sebagai sumber energi dominan. Bahkan Presiden COP26, Alok Sharma memperlihatkan kegusaran dan rasa frustasinya dengan menegaskan bahwa China dan India sebagai produsen batubara terbesar harus menjelaskan alasan kuat mereka pada negara dunia ketiga terkait ketergantungannya pada batubara.  

Dalam pertemuan, India jadi melunak soal kebijakan batubara mereka. Mereka mengubah perjanjian yang awalnya hanya “phasing out” atau menurunkan setahap demi setahap konsumsi dan produksi menjadi “phasing down” atau lebih ketat lagi.   

Sejauh ini, upaya pengurangan di China, masih belum terlihat. Alih-alih penurunan, bulan lalu proyek baru energi yang berkapasitas 1.000 megawatt dibuka di pedalaman Mongolia. Tepatnya di kota Shanghaimiao di kawasan China utara. Area itu memiliki wilayah pertambangan seluas hampir 4.000 km per segi. Sementara cadangan batubara di sana diperkirakan mencapai 14,3 hingga 50 miliar ton.   

Di sisi lain, China tengah merasakan dampak langsung dari perubahan iklim. Menurut badan meterologi China (CMA), negaranya mengalami kenaikan suhu tertinggi dalam sejarah di tahun kemarin. Suhu rata-rata negeri Panda itu di 2021 tercatat 10,7°C, angka tertinggi sejak CMA resmi bertugas mengamati cuaca pada 1961. Kondisi ini dikabarkan lebih tinggi 1°C dari yang biasanya terjadi.

Meskipun CMA tak secara eksplisit menyebut perubahan iklim sebagai penyebab naiknya suhu, namun lain lagi dengan Jia Xiaolong, Wakil Direktur Divisi National Climate Centre CMA. Jia mengiyakan adanya keterkaitan iklim yang berubah dengan peningkatan suhu. “Terjadinya cuaca ekstrim yang berulang seolah jadi kondisi normal yang diakibatkan pemanasan global. Ini menjadi tantangan kami bagi upaya pencegahan dan mitigasi bencana meteorologi,” cetusnya seperti yang diberitakan Carbon Brief.    

banner