× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Prinsip Berkelanjutan Untuk Konsumsi Pangan Populasi Dunia Pada 2050

By Redaksi
Memberi Makan Penduduk Dunia - BBC

Berdasarkan kecenderungan peningkatan populasi secara global, diperkirakan penduduk dunia akan mencapai angka 10 miliar pada 2050 mendatang. Mari kita lirik dunia pertanian yang notabene adalah penyuplai kebutuhan pangan. Karena dengan angka penduduk dunia yang demikian besar, dibutuhkan produksi makanan dalam jumlah besar pula. Dengan kata lain, pertanian menghadapi tantangan yang luar biasa.

Greg Foot dari BBC telah melakukan perjalanan ke seluruh Eropa dalam enam bulan terakhir. Ia bicara dengan para ilmuwan dan insinyur perintis, para pemikir global, para pedagang retail yang cerdas, dan para petani untuk membuat liputan yang tayang di BBC World News, BBC Future, dan Follow the Food. Tujuannya adalah untuk mempelajari aneka masalah terkait pasokan makanan dan upaya menemukan jalan keluar bagi masa depan.

Dari hasil perjalanannya, Greg Foot mencatat lima solusi yang dapat membantu kita menyiapkan pangan bagi 10 miliar penduduk dunia.

Menciptakan robot petani

Mengapa dibutuhkan robot? Bukankah kita berlebih tenaga manusia? Ternyata banyak petani yang mengaku telah menyiakan waktu di ladang, dengan duduk berjam-jam di traktor. Tak hanya membosankan, aktivitas tersebut juga tak produktif. Padahal mereka masih bisa memanfaatkan waktu untuk mengelola bisnis.

Nah, The Small Robot Company telah menciptakan tiga robot kecil: Tom, Dick, dan Harry.

Tom bertugas mengambil gambar tanaman, diberi geotag, lalu dikirim kembali untuk dianalisis. Berikutnya, Dick keluar untuk menyemprot masing-masing tanaman. Semua mendapatkan bagian yang tepat sesuai dengan hasil analisis. Harry, si robot penanam yang dilengkapi dengan bor, melanjutkan pekerjaan. Mereka bekerja bersama-sama untuk menggantikan tugas-tugas monoton dilakukan oleh manusia secara konvensional. Kelebihannya, tingkat akurasi lebih besar dan minim pemborosan.

Menyimpan kotoran yang berharga

Pemilihan robot-robot kecil untuk lahan pertanian, salah satunya adalah karena mereka dapat menggantikan aneka pekerjaan yang biasa dilakukan traktor konvensional yang besar. Pada traktor besar, ketika melaju melintasi ladang, mereka memadatkan tanah yang sekaligus menghancurkan celah di dalamnya serta mengurangi ukuran pori-pori yang menahan udara dan air. Pemadatan ini tentu saja berpengaruh pada kemampuan tanah untuk menahan air. Begitu pula dengan kemampuan tanaman untuk mengambilnya bersama dengan nutrisi. Robot yang kecil dan ringan dapat mengurangi masalah-masalah tersebut.

Memberikan kesempatan kedua untuk sampah

Dalam perjalanannya, Greg Foot menjumpai banyak ‘makanan lezat’ yang terbuang sia-sia. Seperti pernah disebutkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), “Diperkirakan sepertiga dari semua makanan yang diproduksi berakhir membusuk di tempat-tempat sampah para konsumen dan pedagang, atau rusak karena buruknya alat transportasi atau cara-cara memanen.”

Salah satu negara yang memiliki masalah besar dalam hal sampah makanan adalah Belanda, yang merupakan eksportir produk-produk pertanian (berdasarkan nilai) terbesar kedua setelah Amerika Serikat. Namun pemerintah negeri kincir angin ini telah berjanji akan menjadi negara Eropa pertama yang mengurangi separuh jumlah makanan yang dibuang pada tahun 2030.

Salah satu ide penanganan yang dirasa Foot cemerlang adalah penggunaan aplikasi seperti “Too Good To Go”. Aplikasi ini memungkinkan pedagang eceran menggeser makanan yang tadinya akan dibuang, untuk konsumen dengan harga yang lebih murah. Dengan catatan, makanan-makanan tersebut layak dan aman konsumsi.

Memperlambat proses penuaan

Untuk memperlambat proses penuaan produk, dibutuhkan manajemen yang luar biasa dan hati-hati. Contoh kasusnya adalah pisang. Jika sebuah pisang matang terlalu awal, maka buah akan melepaskan gas etilena yang dapat memicu pematangkan pisang-pisang lainnya. Dibutuhkan satu pisang saja yang benar-benar matang untuk menurunkan 15 persen dari pengiriman. Yang kemudian berakhir menjadi tumpukan besar limbah pisang.

Beberapa ilmuwan di Norwich, Inggris, melakukan pengeditan genom pisang dengan memodifikasi huruf tertentu dalam DNA mereka, sehingga mereka memproduksi etilena jauh lebih sedikit. Hal tersebut dapat mengurangi potensi pisang membusuk dan memperpanjang umur simpan pisang. Namun di beberapa tempat lainnya, seperti Uni Eropa, tanaman yang gennya diedit, diatur oleh peraturan yang sangat ketat dan proses persetujuan yang panjang.

Buatlah pilihan yang cerdas

Dari sekian lama waktu Foot bergabung bersama para petani, produsen, retailer dan konsumen, ia menyimpulkan, cara kita tumbuh sekarang, proses dan penjualan makanan tidak terukur dan berkelanjutan. Maka satu-satunya cara agar kebutuhan makan 10 miliar orang di tahun 2050 terpenuhi adalah industri pertanian dan makan yang lebih berkelanjutan. Hal itu membutuhkan perubahan di setiap model penanaman, proses, pengangkutan, penyimpanan, dan penjualan. Dibutuhkan kerjasama para pengusaha dan pemerintah untuk bertindak. Namun demikian, menurut Foot, setiap individu dapat ambil peran untuk terlibat dalam upaya berkelanjutan ini.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]