× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Populasi Serangga Terancam Punah

By Redaksi
Foto: Kompas

Selama ini kita mungkin tak cukup hirau dengan keberadaan serangga. Tapi bagaimana menurut Anda, jika fakta menunjukkan, ‘spesies serangga di Indonesia menuju kepunahan sekitar 30-40 persen’?

​Dalam laporan The Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES), ancaman kepunahan flora dan fauna di tingkat global mencapai 1 juta spesies, dan sekitar 10 persen di antaranya diperkirakan dari spesies serangga (Kompas, 8/5).

Ancaman kepunahan terjadi karena spesies ini tak dapat diselamatkan karena populasinya di alam tidak memungkinkan lagi berkembang biak. Ahli serangga Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Prof. Rosichon Ubaidilah tak bisa menyebutkan angka pastinya, namun dikatakannya serangga memiliki laju kepunahan yang sangat tinggi dibandingkan spesies lainnya.

​“Angka pasti kepunahan serangga di Indonesia sulit diperoleh. Tetapi, taksiran saya spesies serangga di Indonesia yang menuju kepunahan sekitar 30-40 persen. Untuk Jawa bahkan bisa mencapai 70 persen yang punah. Kepunahan akan terus meningkat dengan cepatnya perubahan ekosistem,” kata Roscihon.

​Di antara spesies yang laju kepunahannya sangat tinggi adalah serangga. ​Menurut Rosichon, serangga yang rentan punah terutama kelompok Hymenoptara seperti tawon, lebah, dan semut, Lepidoptera seperti kupu-kupu dan ngengat, serta Coleopteraseperti kumbang. Penyebab utama kepunahan spesies serangga di Indonesia adalah kehilangan habitat karena konversi dan kebakaran lahan.

“Belakangan konversi semakin intensif untuk berbagai kebutuhan, seperti pertanian dan infrastruktur. Sedangkan kebakaran lahan yang masif seperti di Sumatera terutama memusnahkan serangga terestrial atau yang tidak bisa terbang,” ungkap anggota Panel Ahli Multidisiplin dari The Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES) PBB perwakilan Asia Pasifik ini.

Yang perlu dikhawatirkan juga adalah serangga penyerbuk. Menurut Roscihon, serangga ini  sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan, terutama penggunaan pestisida. Penurunan populasi serangga penyerbuk ini  mengancam produksi tanaman, termasuk tanaman pangan. Banyak tanaman hias yang ikut mengalami kepunahan karena serangga penyerbuknya punah. Salah satu contohnya adalah kasus punahnya jenis anggrek tertentu di Brazil, karena sejenis lalat yang menjadi penyerbuknya, telah punah.

Sebaliknya, sejumlah serangga mengalami lonjakan populasi karena hilangnya predator mereka. “Ada spesies tertentu yang menempati meledak populasi, seperti beberapa waktu lalu muncul ledakan tomcat, laron, dan ulat bulu. Ini karena musuh alaminya hilang. Yang juga rawan ledakan populasi adalah nyamuk, terutama karena habitatnya meluas seiring pemanasan global,” kata dia.

Selain serangga, mamalia besar di Indonesia juga memiliki penurunan populasi yang semakin cepat. Sejak 2013, gajah sumatera (Elephas maximus ssp. sumatranus) telah naik statusnya dari endangeredmenjadi critically endangered. Status critically endangered dalam daftar International Union for Conservation of Nature’s (IUCN) ini merupakan satu tingkat menuju kepunahan di alam liar.

Menurut peneliti dan ekolog satwa World Wildlife Fund (WWF) Indonesia yang ikut terlibat dalam penentuan status gajah, Sunarto, meskipun sudah ada upaya konservasi, termasuk pelepasliaran, namun sulit untuk mempertahankan laju kepunahan mamalia besar yang memiliki teritori tertentu ini. Satwa liar lain, hanya menunggu waktu untuk punah karena populasi yang terlalu kecil dan tidak memungkinkan lagi untuk berkembang. Contohnya badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) yang berstatus critically endangered sejak 2008.

“Kecilnya populasi menyebabkan peluang terjadinyna perkawinan sangat terbatas. Kalaupun terjadi cenderung insest sehingga bisa melahirkan individu yang tidak sehat. Ditambah lagi, badak sumatra sangat sulit bereproduksi dan sangat sensitif dengan makanannya,” kata Sunarto.

​Hingga 10 tahun lalu, menurut Sunarto populasi badak sumatera diperkirakan masih 300 ekor. Pada 5 tahun lalu tercatat hanya sekitar 100 ekor.

Keywords: ,

“Beberapa pihak menganggap (perubahan iklim) sepele. Aku tidak.” Kalimat tegas itu keluar dari mulut gadis remaja 16 tahun asal Swedia bernama Greta Thunberg. Greta adalah representasi dari sedikit remaja yang sangat peduli dengan lingkungan, terutama perubahan iklim. Suatu hari di musim panas lalu, Greta membolos dari sekolah. Greta tak sembarang membolos. Ia duduk manis di […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]