× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Polusi Udara dan Rokok Berpotensi Memperburuk Ancaman COVID-19

By Redaksi
Ilustrasi Polusi Udara. Foto : shutterstock

Sejumlah ilmuwan iklim memberikan analisisnya, hidup di wilayah dengan polutan tinggi menaikkan resiko terpapar COVID-19. Merokok tembakau bahkan dianggap  memperburuk dampak terkena virus.

“Kami memperkirakan, orang yang menghirup banyak polusi udara dan merokok akan menghadapi resiko lebih buruk jika terkena COVID-19 dibanding mereka yang menghirup udara bersih dan tidak merokok,” ungkap Aaron Bernstein, direktur interim Pusat Iklim, Kesehatan, Lingkungan Global di  Harvard T.H. Chan School of Public Health kepada Washington Post. Karena belum ada stdui lebih khusus terkait hubungan antara polusi udara dan virus, pernyataan Bernstein masih dianggap hipotesis.  

Inhabitat.com memberitakan, sejumlah wilayah di dunia yang paling berpolusi ternyata paling fatal terpapar COVID-19. Iran (Teheran) dan Tiongkok (Propinsi Hubei) adalah dua wilayah berpolusi tinggi dan sejauh ini paling parah dalam penyebaran wabah. Bagian utara Itali juga dinilai sebagai area dengan tingkat polusi tinggi di Eropa. Sementara Korea Selatan juga diketahui tingkat polusinya di atas rata-rata dan banyak orang yang merokok di sana.

Pada 2003 silam, virus flu burung penyebab sindrom pernapasan akut (SARS) mendorong para ilmuwan untuk menyadari ada korelasi antara kualitas udara buruk dengan area terwabah yang kian parah. Meskipun, mereka tidak secara khusus menyebut polusi udara sebagai satu-satunya penyebab. Ada faktor lain, termasuk kualitas sosial ekonomi yang berperan dalam penyebaran virus.

Namun, ada hubungan antara kebiasaan merokok dengan ancaman mematikan COVID-19. Ilmuwan menemukan dampak yang lebih parah bagi para pasien perokok terhadap penyakit sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS) beberapa watu lalu, baik di Timur Tengah maupun Korea Selatan. Penyakit sindrom pernapasan pneumonia yang lebih menyerang para perokok, diketahui bagian dari gejala serangan virus corona.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]