× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Polusi Plastik, Saatnya Selesaikan Masalah dengan Ide Bisnis Baru

By Redaksi
Sampah Plastik di Laut - picture - alliance

Makanan, kosmetik, dan produk domestik, biasanya dikemas dalam kantung plastik. Kemasan ini didesain untuk sekali pakai, dan memang terlihat sulit jadi sampah terurai. Adakah cara untuk menggantinya dengan bahan yang lebih ramah lingkungan?

Tak bisa disangkal ide ini brilian: pengemas yang fleksibel karena bentuknya bisa disesuaikan, ringan dan tahan lama, mudah dibawa, murah, dan bisa menyimpan makanan agar tahan lama. Karena itulah kemasan plastik dengan cepat dipakai oleh semua jenis industri, yang berakibat menumpuknya sampah plastik.

Tak satupun bahan plastik yang biasa digunakan, termasuk kotak plastik, botol, tabung/pipa plastik, termasuk kantung plastik dapat mudah terurai. Tak ada model sistem yang juga bisa mendaur ulang plastik dalam skala besar. Hasilnya, sampah plastik kian mencemari lahan. Di sisi lain, dampak kontaminasi lahan yang permanen juga sudah tak bisa terelakkan.

Pemakaian Plastik yang Terus Menerus

Plastik adalah bahan yang paling cepat dibuat di planet ini. Dalam 33 tahun terakhir, plastik adalah komoditas yang paling cepat dibuat. Bahkan dalam hampir setengah total bahan plastik yang dibuat, terjadi dalam 13 tahun terakhir.

Produksi Plastik dalam Ton (1950 – 2015)

2

Juta ton pada 1950

380

Juta ton pada 2015

Bidang industri yang paling banyak berperan dalam penambahan jumlah produk plastik adalah pengemasan. Industri ini memakai 40% persen dari jumlah total konsumsi global bahan plastik. Apa yang mempercepat sampah plastik ini lebih karena penggunaan sekali pakai dibanding dipakai kembali.  Memang terasa nyaman,tapi di saat bersamaan ongkos pencemarannya sangat besar. Merujuk pada perkiraan Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) butuh biaya USD 80 sampai 120 miliar per tahunnya untuk mendaur ulang plastik sekali pakai.

Krisis Sampah Plastik Sudah Terjadi  

Pada 2015, ada sekitar 6,3 juta ton sampah plastik. Lebih kurang 9% diantaranya didaur ulang, 12% dibakar, dan 79% terakumulasi jadi sampah yang mencemari lingkungan. Mekanisme cara untuk pemakaian dan pembuangan bahan plastik yang efektif masih belum ditemukan dalam 2 dekade ini. Hal ini juga disebabkan adanya kebijakan ekspor sampah. Negara maju mengekspor sampah plastik ke negara kawasan timur Asia dan Pasifik dimana belum ada sistem manajemen sampah yang baik.

Bagaimanapun, era dari ekspor sampah akan berakhir. Di 2017, China mengumumkan kebijakannya melarang impor plastik, yang akhirya diikuti oleh negara-negara sekitarnya. Larangan ini mengingatkan negara-negara pengekspor untuk tak hanya mengirim sampah plastik namun juga memberi insentif solusi.

Apa Solusi Terhadap Sampah Plastik?

Pemberitaan gencar media terhadap krisis sampah dan penumbuhan kesadaran bahaya sampah plastik di kalangan publik membawa isu ini kian mengemuka. Pemerintah dan lembaga terkait mulai membuat peraturan untuk mengatur produksi dan pemakaian plastik.

Perusahaan dan pebisnis perlu juga mempertimbangkan ulang produk mereka, solusi pengemasan, dan juga sistem manajemen sampahnya. Konsep circular economy bisa menjadi alat untuk mentransformasikan masalah ini. Prinsipnya adalah upaya mengonsumsi sumber yang sebisanya dapat digunakan kembali. Hal ini juga demi memaksimalkan manfaat sebuah barang, lalu mendaurulangnya setelah  masa pakai.

Para sosial entrepreneur sudah mulai melakukannya. Mereka berinisiatif membuka bisnis baru dengan membuat produk dari sampah plastik atau mencari kemasan berbahan lain yang juga bisa tahan air. Selain itu, upaya membuat plastik dari bahan ramah lingkungan (bioplastik) juga tengah dikembangkan.

Tak diragukan bahwa hal ini tak mudah, namun tetap menarik untuk mengembangkan bahan plastik yang sama-sama efisien dan aman. Teknologi juga perlu dikembangkan untuk memproses sampah. Pengembangan teknologi adalah pintu untuk membuka kesempatan baru.  

Source:https://www.credit-suisse.com/corporate/en/articles/news-and-expertise/plastic-pollution-time-to-tackle-the-problem-with-new-business-201906.html?aa_cmp=socm_gmbc_glob_270619_alon_other_csin_cpc_facebook_paidpost_en_pl-pp_3353&fbclid=IwAR2I8iKr0Crp2sr30CsNkNdHtKUlGEpGHFjZjb9ZI_jSgvnmfQGS0yw3oDo

“Beberapa pihak menganggap (perubahan iklim) sepele. Aku tidak.” Kalimat tegas itu keluar dari mulut gadis remaja 16 tahun asal Swedia bernama Greta Thunberg. Greta adalah representasi dari sedikit remaja yang sangat peduli dengan lingkungan, terutama perubahan iklim. Suatu hari di musim panas lalu, Greta membolos dari sekolah. Greta tak sembarang membolos. Ia duduk manis di […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]