× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Pilih Ikan Murah atau Mahal?

By Redaksi

Bali – Majalahcsr. Mau ikan yang murah apa mahal? Tentu saja konsumen akan memilih yang harganya miring. Mau ikan yang punya label perikanan yang berkelanjutan atau enggak?

Pertanyaan ini tentunya membuat ribet para penikmat ikan, terutama seafood. Namun jika berpikir panjang, pemilihan ini akan berdampak kepada keberlangsungan hidup para ikan itu sendiri.

Jangankan penikmat ikan, sejumlah perusahaan saat ini masih menghadapi susahnya mendapatkan ekolabel perikanan berkelanjutan ini. Contohnya PT Bali Barramundi di Buleleng, Bali.

Meskipun sudah menerapkan prinsip-prinsip Aquaculture Improvement Program (AIP), toh mereka belum juga mendapatkan sertifikasi ASC. Sebabnya adalah belum ada contoh bagaimana ASC untuk ikan baramundi seperti yang dibudidayakan.

Dikatakan Manajer PT Bali Barramundi, Dharma Manggala, PT Bali Barramundi merupakan salah satu anak perusahaan PT IAMBEU Mina Utama. Perusahaan perikanan di Bali ini juga memiliki usaha restoran menu ikan laut (seafood) Visnoe dan usaha pengolahan ikan laut.

“Tujuan ekspor Amerika Serikat, Australia, dan Jepang,” jelasnya seperti yang dilansir oleh Mongabay, Jumát (18/5).

Tantangan lain adalah mahalnya biaya sertifikasi. Menurut Jenny Lukitasari, Manajer Pemasaran dan Pembelian PT Samudera Eco Anugrah (SEA), biaya sertifikasi termasuk mahal bagi perusahaannya. PT SEA merupakan perusahaan pembeli perikanan di Jakarta. Produk utama mereka yang populer antara lain olahan ikan Fish ‘n Blues.

Biaya untuk sertifikasi ini berbeda antara satu jenis ikan dengan ikan lainnya. Namun, penambahan biayanya rata-rata 20-30 persen. Akibatnya, harga produk perikanan dengan label ASC maupun MSC pun lebih mahal, antara 40-50 persen.

“Biaya sertifikasi untuk mendapatkan label memang cukup mahal tetapi itu kami anggap sebagai biaya investasi karena memang konsumen kami yang meminta,” kata Jenny.

Untuk itulah, menurut Jenny, konsumen merupakan salah satu faktor penting untuk mewujudkan perikanan berkelanjutan karena menjadi rantai terakhir dalam value chain (rantai nilai) poriduk perikanan. “Kalau konsumen sudah berkomitmen membeli ikan dengan ekolabel, maka kami juga akan lebih termotivasi untuk mempraktikkan standar perikanan berkelanjutan,” ujarnya.

 

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]