× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Pesantren Darussalam 2 Putri di Kediri Kreasikan Alat Pembakar Sampah Non Asap

By Redaksi
Incenerator Go green Ds 2, Alat Pembakar Sampah Tanpa Asap di Pesantren Darussalam Sumbersari, Kediri. Foto: Dok. PP Darussalam

Sampah sudah menjadi musuh bersama. Bila pengelolaannya tidak “proper”, lingkungan pun tercemar dengan mengontaminasi tanah, air, bahkan udara. Akibatnya, timbul beragam penyakit. Dampak sampah tak mengenal tempat. Perkotaan, pedesaan, bisa menghadapi masalah yang sama. Masalah sampah juga menghampiri pondok pesantren. Tepatnya di Pesantren Darussalam 2 Putri, Sumbersari, Kencong, Kepung, Kediri, Jawa Timur.

Seperti yang dilansir dari nu online, setiap harinya, pesantren menghasilkan rata-rata satu drum penuh sampah. Sampah yang terkumpul merupakan sampah organik dan anorganik. Awalnya, upaya penghancuran sampah melalui pembakaran. Namun, asap yang dihasilkan tak kalah berbahaya bagi kesehatan.

Melihat permasalahan tersebut, salah satu pengajar bernama Moh Nasirul Haq dibantu 3 santrinya berusaha menemukan solusi. Upaya menemukan cara yang terus dilakukan berbuah manis. Mereka berhasil menemukan cara membakar sampah tanpa menimbulkan asap.  

Nasirul mengatakan, kecintaannya terhadap lingkungan pesantren dan masyarakat menuntunnya menemukan alat pembakar sampah tanpa asap. Baginya, pesantren harus aktif menjadi bagian dari upaya program atasi sampah.

Alat pembakar sampah tanpa asap yang diberi nama Incenerator Go green Ds 2 terbukti mampu membakar sampah non organik yang terkumpul setiap harinya tanpa mengeluarkan asap berbahaya. Tingkat keberhasilannya mencapai 95%. 

Alat ini terdiri 1 tungku pembakaran, 2 tempat pengolahan asap, 1 lobang penampung air, dan 1 tempat penyalur asap. Konsep dan sistem kerja alat ini menurut penemunya terinspirasi dari asap pekat memasak dari dapur yang keluar ke jendela di saat hujan.

“Alat ini menjadi istimewa karena sangat berguna. Biaya pembuatannya juga relatif murah. Cukup 2,5 juta rupiah saja menurut penemunya sudah bisa membuat sendiri alat ini,” ujar Nasirul seperti yang disarikan NU Online, Sabtu (29/2).

Nasirul berkisah, inspirasi sistem pengolahan asap pada alat ini didapatkan saat melihat kepulan asap dapur yang kemudian hilang saat gerimis. Sehingga ia mencoba membuatnya. Sempat tiga kali gagal. Kemudian, alatnya Nasirul bongkar rangkai kembali. Baru di percobaan keempat dia berhasil.

Kelebihan alat ini, cairan yang ada di penampungan atas tungku bisa menjadi obat tanaman dari serangan hama. Sementara abu sisa pembakaran dapat dibuat campuran media tanam yang bisa menyuburkan tanaman.  

“Jika dikembangkan lagi, alat ini bisa menghasilkan BBM dengan syarat yang dibakar adalah khusus sampah plastik saja. Kekurangan alat ini adalah tidak bisa membakar jenis sampah yang basah seperti popok dan pembalut,” cetus Nasirul.

Pesantren Darussalam 2 Putri Sumbersari juga berusaha memaksimalkan kepeduliannya terhadap lingkungan dengan program Ds 2 Go Green. Program ini selain menuntaskan sampah anorganik dengan dibakar pada incenerator dan sebagian dijual ke pengepul.  

“Program ini juga mengatasi sampah organik limbah dapur dan kantin pesantren dengan memblender atau mencacahnya untuk kemudian dijadikan vitamin makanan tambahan ikan lele yang dipelihara di pesantren,” urai Nasirul. Semenjak adanya alat pembakar sampah tanpa asap ini sampah yang ada di tong sampah pesantren menurun drastis..

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]