× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Pesan dari Sang Pegiat Inklusi, Dody Kurniawan Kahleri

By Redaksi

Namaku Doddy, lengkapnya Doddy Kurniawan Kahleri. Aku lahir di Balikpapan pada 5 Oktober 1974. Ketika umurku delapan bulan, aku terkena demam tinggi. Orangtuaku membawaku ke rumah sakit untuk diobati. Di rumah sakit, dokter menyuntikkan obat ke tubuhku. Setelah itu, kaki kiriku terasa berbeda, tidak seperti sebelumnya. Aku merasakan lemas pada kaki kiriku dan tidak dapat menggerakkannya lagi. Ketika merangkakpun aku hanya dapat menyeret kaki kiriku. Sejak kejadian itu, orang tuaku mulai mencari tahu apa yang terjadi. Rupanya aku terserang penyakit polio. Hingga saat ini aku digolongkan ke dalam kelompok difabel motorik, lebih tepatnya polio kaki kiri.

Pendidikan Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Teknologi Menengah (STM) kutuntaskan di Balikpapan. Aku bersekolah di sekolah umum, bukan Sekolah Luar Biasa (SLB) yang biasa dipilih orang-orang kebutuhan khusus. Teman-teman sebayaku menerimaku seperti anak-anak lain tanpa diskriminasi. Warga daerah sekitarpun tidak membeda-bedakan diriku dengan orang lain. Aku bersyukur tumbuh di tengah masyarakat yang toleran kepada kelompok difabel sepertiku, karena aku tahu di luar sana banyak teman-teman difabel yang merasakan beratnya hidup dengan tekanan dan diskriminasi dari orang-orang sekitarnya.

Di tahun 1994 aku ikut kedua orangtuaku untuk pindah tempat tinggal ke Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), tepatnya di daerah Babarsari, Sleman. Tidak lama kemudian kami pindah lagi dan menetap di daerah Sendangadi, Melati, Sleman. Baik di Babarsari maupun di Sendangadi aku menyibukkan diriku dengan aktif terlibat di organisasi kepemudaan dan remaja masjid bersama pemuda-pemudi lainnya. Selain untuk mengembangkan diri dan bersosialisasi, keterlibatanku dalam kegiatan kepemudaan juga kulakukan agar orang-orang sekitar menilaiku dengan positif.

 

Perjuanganku

Meski tumbuh di lingkungan yang cukup toleran kepada kaum difabel, aku masih mengalami diskriminasi saat beranjak dewasa. Masalah-masalah seperti asmara dan sulitnya mencari pekerjaan pernah kuhadapi. Dulu, aku menyukai seorang gadis. Hubungan kami ditentang orangtuanya. Kami berjuang tiga tahun lamanya untuk meyakinkan orangtuanya agar merestui hubungan kami. Awalnya, orangtua gadis itu tidak merestui hubungan kami karena kondisi fisikku. Setelah tiga tahun kami berusaha meyakinkan mereka, akhirnya pada tahun 2003 kami direstui dan menikah. Kami dikaruniai buah cinta yang cantik dan sehat. Aku bersyukur mendapatkan pendamping hidup yang menerima kekurangan fisikku dan mau berjuang bersamaku.

Sebagai seorang difabel aku juga sedikit kesulitan mencari pekerjaan. Beberapa kali lamaran pekerjaanku ditolak. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk membuka usahaku sendiri. Saat ini aku bekerja sebagai wirausahawan. Aku membuka jasa penjualan komputer sendiri sekaligus toko busana daring bersama istriku.

 

Kontribusiku

Sekitar tahun 2002 aku bertemu dengan Budiono (kini almarhum) dari Sekolah Luar Biasa di Jogja. Saat itu aku sedang memperbaiki beberapa komputer yang rusak di SLB, tiba-tiba Budiono berkata, “Kamu punya potensi bagus dan ilmu yang bermanfaat. Kenapa tidak kamu bantu teman-teman difabel lain agar bisa sepertimu?” Kata-kata itu terus terngiang di benakku dan mendorongku untuk berkontribusi untuk teman-teman difabel lainnya. Aku terus bersemangat untuk menimba ilmu. Di tahun 2004, aku juga mengikuti Pendidikan Politik di Sasaran Integrasi dan Advokasi Difabel (SIGAB) yang berlokasi di Wonosari, Gunung Kidul.

Pada tahun 2015 aku berkesempatan terlibat dalam Rintisan Desa Inklusi (Rindi). Program ini merupakan bentukan dari Program Peduli yang bertujuan membantu teman-teman difabel memperoleh hak-haknya. Rindi masih terus berjalan hingga saat ini. Organisasi-organisasi difabel yang ada desa juga diperkuat. Sebenarnya organisasi difabel sudah lama dibentuk, tetapi keberadaannya masih kurang diperhatikan pemerintah desa. Organisasi itu belum jelas serta belum diberi ruang untuk berpartisipasi dalam pengambilan kebijakan pemerintah desa. Ketika aku turut berpartisipasi saat itu, kami mengusahakan penguatan organisasi difabel agar kelompok difabel juga memiliki posisi tawar dan berani menyampaikan aspirasi.

Kami menyampaikan kebutuhan-kebutuhan kami, seperti penganggaran dan pemberian tempat dalam musyawarah desa. Akhirnya, sekarang organisasi difabel sudah diperhatikan dan diberi ruang dalam musyararah desa oleh pemerintah desa. Selain itu, kami juga kerap diundang untuk menelaah dan memberi masukan pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes).

Ada sekitar 151 orang penyandang difabel di desaku. Namun data itu tidaklah akurat. Masih banyak orang-orang dengan disabilitas yang belum terdata. Ada sebagian orang yang tidak bersedia mencatatkan nama anggota keluarga mereka, khususnya disabilitas mental, dan memilih untuk merawatnya sendiri. Mereka juga tidak keberatan jika tidak mendapat bantuan dari pemerintah. Kalau sudah begitu, aku tidak akan memaksa. Namun tidak banyak yang seperti itu, mungkin hanya satu atau dua orang. Meski begitu, aku tetap membantu mereka memperoleh hak dalam memanfaatkan fasilitas pemerintah secara umum.

Saat ini aku dan organisasi difabel sedang mengusahakan jaminan khusus untuk teman-teman difabel di DIY. Namun, untuk mewujudkannya kami perlu melakukan pendekatan kepada pemerintah desa kami terlebih dahulu. Oleh karenanya, kami berusaha mendata seluruh difabel di desa kami untuk kemudian diusulkan ke pemerintah desa. Dengan begitu, pemerintah desa kami bisa mengusulkan ke tingkat yang lebih tinggi lagi. Kami berharap pemerintah bisa terus mendukung kelompok difabel dengan menambahkan lebih banyak lagi fasilitas-fasilitas publik yang mudah kami akses.

Selain melalui organisasi dan pemerintahan, aku juga membantu beberapa teman difabel lain untuk memaksimalkan potensi mereka, seperti impian awalku dulu. Pada tahun 2017, orangtua dari seorang anak dengan Cerebral Palsy bernama Qori, memintaku untuk membantu buah hati mereka agar bisa mandiri. Qori memiliki keterbatasan motorik yang menyebabkan anggota tubuhnya kaku. Ia adalah anak yang pemalu saat itu. Ia hanya bersosialisasi dengan keluarga dan teman-temannya di SLB.

Suatu hari aku mengajak Qori dan keluarganya ke pelatihan komputer dan internet yang bekerja sama dengan teman-teman Universitas Amikom Yogyakarta. Rupanya Qori tertarik dengan pelatihan itu. Qori mengatakan pada ibunya bahwa ia ingin punya toko daring. Akupun mencari cara untuk menarik relawan yang bersedia menyalurkan ilmunya kepada teman-teman difabel. Kebetulan, di tahun itu Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) DIY menyelenggarakan Gelar UMKM Nasional. Akupun berbincang dengan teman-teman pengusaha di sana dan bertemu dengan penggiat digital. Mereka bersedia menjadi relawan untuk teman-teman difabel, termasuk Qori.

Setelah beberapa kali berbincang dan bertukar pikiran, aku dan teman-teman membentuk Garasi Qori, sesuai dengan namanya di garasi rumah Qori. Kegiatan ini difasilitasi oleh orang tua Qori yang menyediakan tempat dan jaringan internet. Di tempat ini kami membuat pelatihan untuk teman-teman difabel juga nondifabel tentang berbagai hal. Namun, saat ini fokus kami adalah membuat animasi 2D dan 3D, serta komik digital. Menurutku, keterampilan membuat animasi bagi kelompok difabel diperlukan saat ini. Aku yakin kami bisa lebih fokus dan mengerjakannya dengan baik karena kami memiliki waktu luang yang cukup panjang. Dua sampai tiga tahun lagi, teman-teman difabel yang memiliki keterampilan membuat animasi mungkin sudah bisa mandiri dan mendapatkan pekerjaan.

Garasi Qori kami jadikan kelas belajar yang inklusif bagi anak-anak remaja atau pemuda. Kegiatan ini mempertemukan anak-anak difabel dan nondifabel untuk berkomunikasi dan berinteraksi hingga akhirnya mereka berteman baik. Itulah salah satu tujuan dibentuknya kegiatan ini, membuat mereka menyadari bahwa orang dengan disabilitas juga sama seperti yang lainnya. Qori yang tadinya pemalu, sekarang berani membuka diri dan bersosialisasi di mana saja. Ia bahkan datang ke Diskominfo Co-Working Space (DCW) bersama teman-temannya. Aku senang ada perubahan positif, baik Qori maupun lingkungan sekitar yang mendukung kegiatan kami.

 

Harapanku

Menurutku, hal terpenting yang harus selalu dijaga untuk memberdayakan kelompok difabel adalah jejaring, yakni membangun hubungan antara difabel dengan nondifabel. Hal itu penting agar kami, kelompok difabel, bisa memperlihatkan karya-karya kami yang layak. Semua usahaku dan teman-teman lain tidak akan lancar tanpa bantuan pemerintah. Oleh karena itu, aku berharap agar pemerintah, baik desa maupun pusat, lebih memperhatikan hak-hak difabel. Di daerahku sudah ada Peraturan Daerah Nomor 4 tahun 2012 tentang pemenuhan hak-hak disabilitas. Sayangnya, peraturan itu masih belum banyak diketahui oleh beberapa perangkat desa. Hal ini perlu segera diselesaikan, sehingga hak-hak difabel dapat segera dipenuhi dengan maksimal.

Aku senang sekali melihat teman-teman difabel lain bisa mandiri sepertiku. Aku harap pelatihan dan pembelajaran melalui kegiatan yang kuselenggarakan bisa bermanfaat sehingga dapat mendorong mereka untuk bekerja mandiri dengan menggali potensi yang mereka miliki.  Semoga masyarakat Indonesia terus bergotong-royong dan inklusif. Bagi teman-teman difabel, terima keadaan dan tetap berpartisipasi di lingkungan masyarakat. Saya harap masyarakat mau membantu kerabat sekitar yang membutuhkan fasilitas khusus difabel. Jangan bedakan kami, difabel, dari masyarakat pada umunya. Kami adalah bagian dari kehidupan yang juga ingin memperoleh kemandirian.

(sumber: akurat.co)

“Yang minum obat setiap hari itu tidak hanya kamu. Yang sakit diabetes juga minum obat. Yang hipertensi juga rajin minum obat.” Itulah kata-kata yang Tice sampaikan kepada Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang ia dampingi agar mau rajin terapi dan minum obat. Tice adalah seorang ibu rumah tangga yang berkomitmen menjadi pendamping ODGJ, bukan perawat […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]