× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Perlunya Kolaborasi Melestarikan Bumi

By Redaksi
Ilustrasi Bumi Lestari. Foto : poshan.outlookindia.com/Istimewa

MajalahCSR.id – Menjadikan planet bumi kita tetap lestari adalah tugas semua manusia yang mendiaminya. Planet bumi yang kita huni hanya satu. Jadi sudah seyogyanya perlu dijaga keberlangsungannya agar tetap menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi manusia dan juga ekosistem lain sebagai penunjang kehidupan.

Namun pada praktiknya, banyak permasalahan seputar lingkungan yang harus secepatnya diselesaikan sebelum terlambat dan menjadi ancaman bagi kehidupan. Mulai dari perubahan iklim, krisis air, pencemaran air, udara, dan darat, sampai pada krisis energi.

Menurut Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elistianto Dardak, penanganan lingkungan atau disebutnya ecological footprint di sebuah daerah perlu dilihat dari karakter kegiatan masyarakatnya.

“Apabila mobilitas masyarakatnya didorong dari kendaraan pribadi, akan berkorelasi dengan tingkat emisi,” kata Emil. Oleh karena itu, menurutnya, kendaraan-kendaraan tersebut harus memenuhi standar emisi yang telah ditetapkan. Selain itu, lanjut Emil, pemerintah juga menggalakkan transportasi publik serta mendukung institusi Pendidikan seperti Sekolah Menengah Kejuruan dan Perguruan Tinggi yang melakukan riset kendaraan listrik.

Bauran energi yang lebih mengedepankan energi terbarukan juga menjadi prioritas di daerah Jawa Timur. “Kami ke depannya melihat potensi untuk me-retrofitting armada transportasi online dengan motor listrik,” cetus Emil. Hal ini dikarenakan keberadaan transportasi online disebutnya mengurangi  tendensi warga menggunakan kendaraan pribadi.  

 Di sisi lain, kondisi perekonomian di tengah pandemi menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintahnya. “Sehingga kaitan (perilaku mendukung) lingkungan dianggap sebagai tambahan biaya,” ujar Emil. Dalam istilah ekonomi hal ini disebut eksternalitas, dimana biaya individu tidak berbanding proporsional dengan biaya yang dibebankan kepada masyarakat umum dan lingkungan hidup.

“Hal-hal ini perlu diinternalisasi oleh pemerintah melalui kebijakan dan insentif,” kata Emil.

Masalah penanganan sampah yang efektif juga menjadi kebijakan Pemerintah Jawa Timur. “Prinsipnya di dalam undang-undang, bukan bagaimana mempercepat sampah sampai ke tempat pembuangan akhir, tapi bagaimana meminimalisasi sampah yang sampai ke pembuangan akhir,” paparnya.

Itulah sebabnya, prinsip 3R: reduce, reuse, dan recycle, menjadi sangat penting bagi Pemda Jawa Timur. Saat ini di Jawa Timur, urai Emil, ada tempat pembuangan sampah (TPS) sebagai intermediate pengelolaan sampah yang diharapkan bisa mengintegrasikan prinsip 3R tadi. Hal tersebut sudah terintegrasi dalam kebijakan pemerintahnya.

“Butuh waktu untuk menimbulkan kepatuhan (masyarakat), oleh karena itu kita menyediakan insentif dan disinsentif bagi yang melanggar,” papar Emil. Tak hanya kepada warga, Pemda Jawa Timur pun menerapkan hal sama bagi perusahaan-perusahaan terutama yang ada di sepanjang sungai Brantas. Pemerintah membuat kesepakatan memastikan mereka mengendalikan limbah ke sungai.

“Ini konsep keteladanan, karena kami tidak ingin masyarakat menilai pemerintah tebang pilih (dalam menerapkan aturan). Sehingga masyarakat bisa menilai ini merupakan ‘collective obedience’ atau kepatuhan bersama terhadap sistem yang ingin kita dorong untuk menjaga kelestarian lingkungan,” jelasnya.

Emil berharap paradigma perusahaan bukan hanya selesai pada saat barang telah berpindah ke tangan konsumen. “Bagaimana setelah konsumen selesai (mengonsumsi), perusahaan sebenarnya masih punya andil di hilir,” tegasnya. Perusahaan sudah mulai melakukan hal ini, seperti upaya untuk mendaurulang kemasan plastik. Emil juga menekankan pentingnya perusahaan untuk mengadakan creative campaign sebagai CSR perusahaan agar bisa turut mendorong kesadaran masyarakat melalui insentif yang bahkan menimbulkan nilai jual lebih. Hal ini bisa dilakukan, contohnya melalui undian hadiah bagi konsumen yang mengumpulkan kemasan produknya untuk diserahkan dan didaur ulang oleh perusahaan.

“Kita ingin brand equity perusahaan atau nilai citra dan jual perusahaan diintegrasikan dengan kesadaran dan partisipasi mereka dalam pelestarian lingkungan. Kami dari pemerintah sangat terbuka untuk berkolaborasi untuk hal seperti ini dengan perusahaan,” cetus Emil.

Sementara itu, Maya Tamimi, Head of Environment Unilever Indonesia Foundation, mengatakan, Unilever Indonesia sudah memasuki era digitalisasi dalam pengelolaan sampah.

“Sejak 2008 Unilever sudah membina bank sampah di seluruh Indonesia yang hingga saat ini sudah mencapai hampir 4 ribu bank sampah di berbagai kota,” kata Maya. Pengelola bank sampah tersebut merupakan masyarakat sekitar. Pihaknya mulai menyadari bahwa sudah ada masyarakat yang sadar mempraktikan pilah sampah, namun tak menyadari ada banksampah di dekatnya. Oleh karena itu, peran digital perlu dilakukan karena perilaku masyarakat yang tak lepas alat digital termasuk dalam mencari informasi.

“Kami bekerja sama dengan ‘google my business’ sehingga layanan pengelolaan sampah terdekat bisa diketahui oleh masyarakat,” ungkap Maya. Dengan begitu, fungsi bank sampah tersebut bisa dimaksimalkan yang memberi manfaat pada kedua belah pihak, pengelola bank sampah dan juga masyarakat pemilah sampah. Maya menekankan bisnis akan terus bertahan jika planet bumi tetap sehat sehingga penduduk bumi merasa aman dan nyaman. Oleh karena itu perusahaannya mendukung konsep sustainable living melalui kebijakan perusahaan, salah satunya kemasan produk yang memperhatikan dampak lingkungan.

DI pihak lain, Nirarta Samadhi, Country Director of World Resource Institute Indonesia, mengatakan hal berbeda terkait isu lingkungan. Koni, panggilan akrab Nirarta, menekankan perlunya data yang akurat dan bisa diakses oleh siapapun terkait masalah lingkungan.

“Isu mendasar yang perlu diselesaikan dahulu yaitu terkait dengan keberadaan data yang akurat, dan bisa diakses oleh siapapun,” katanya. Menurutnya dengan adanya data yang kuat dan terbuka bagi public, maka pihak-pihak yang memliki peran yang berbeda, akan memberikan manfaat yang berbeda namun hasil dari pengolahan data itu akan menuju satu titik tujuan yang sama.

Koni mencontohkan soal sampah. Bila ada data yang kuat maka akan diketahui baseline sampahnya. Mulai dari jenis dan komposisi sampah, lokasi konsentrasi timbunan sampah, dan seterusnya.

“Jika ingin di-share ke berbagai pihak, maka para pihak yang memiliki peran yang berbeda, apakah industri daur ulang, akademisi, atau pemerintah, meskipun data tersebut memberi manfaat tindakan yang berbeda, namun hasilnya berkontribusi pada satu titik yaitu pengurangan sampah,” papar Koni.

Semua diskusi terkait pengelolaan lingkungan termasuk sampah plastik tersebut merupakan bagian dari  rangkaian acara webinar bertajuk Kolaborasi dan Aksi untuk Masa Depan Berkelanjutan webinar yang digelar Unilever dan Katadata pada Senin (23/11/2020).  

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]