× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Perkenalkan, Kunfunadhoo di Maldives, Daratan Pertama di Dunia yang Bebas Nyamuk

By Redaksi
Resor Mewah Soneva Fushi di Kunfunadhoo, Maldives, yang Ramah Lingkungan dan Bebas Nyamuk. Foto : Soneva Fushi via Intelligentliving

MajalahCSR.id – Kalau anda berniat pelesir ke Kunfunadhoo, Maldives, tak perlu repot-repot bawa obat nyamuk. Pasalnya, Kunfunadhoo adalah satu-satunya tanah daratan di bumi yang bebas nyamuk!

Seluas 50 hektar pulau hutan tropis ini merupakan resor mewah lestari atau berkelanjutan yang terdiri dari 71 vila.

Guna mewujudkan kawasan bebas nyamuk, Soneva Fushi berkolaborasi dengan perusahaan terkemuka di bidang riset penganggulangan nyamuk (Biogents) sejak 2019 lalu. Kerjasama ini diwujudkan dalam penerapan sistem manajemen cara alami yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Proyek yang diberi nama Soneva Fushi’s Zero Mosquito ini bertujuan untuk membasmi nyamuk  di kawasan Kunfunadhoo  (Baa Atoll, Maldives), dengan menghentikan penggunaan insektisida yang merugikan lingkungan sekaligus mendorong keragaman hayati.   

Sonu Shivdasani, pendiri dan pimpinan Soneva Fushi, kepada media  Globetrender mengatakan alasan resor mewah dan ramah lingkungan miliknya tak pakai zat kimia dalam mengusir nyamuk.

“Bayangkan sebuah kawasan di Maldives tanpa nyamuk demam berdarah, malaria, dan chikungunya. Anak-anak anda bebas berjalan-jalan saat malam tanpa rasa khawatir gigitan nyamuk. Ini bukan lagi angan, tapi kenyataan. Dalam 15 bulan terakhir, populasi nyamuk di Soneva Fushi, tepatnya di Baa Atoll Kunfunadhoo lenyap sampai 98%. Dalam periode yang sama, kami pun menghentikan pengasapan nyamuk yang biasa dilakukan,” tutur Shivdasani.

Shivdasani menginginkan model proyek ini dapat ditiru di lokasi wisata kepulauan lainnya. Tujuannya, melenyapkan kemampuan nyamuk untuk berkembang biak secara siginifikan. Menurutnya, pemakaian zat kimia melalui pengasapan nyamuk yang dilakukan puluhan tahun, hanya membuat nyamuk-nyamuk kian tahan pada zat kimia. Yang mengejutkan, kata Shivdasani, praktik semprot insektisida dari tahun ke tahun dengan biaya tinggi, hanya membunuh kurang dari 25% nyamuk yang terpapar.

Pengasapan atau penyemrotan juga berdampak buruk pada populasi serangga lain seperti kumbang, lebah, kupu-kupu, capung, dan serangga tak bersalah lainnya.

Namun, sejak diterapkannya sistem baru penanganan nyamuk non zat kimia, keragaman hayati mulai kembali muncul. Bunga dan buah-buahan kembali tumbuh subur karena serangga penyerbuk kembali datang. Alhasil, burung-burung pun mulai berdatangan. Satu lagi, selain menjadi pemandangan, kebun bunga, sayur, dan buah juga dimanfaatkan sebagai bahan pangan di resor tersebut.

Lalu bagaimana sebenarnya sistem pembunuh nyamuk baru ini bekerja? Ternyata ada dua perangkap nyamuk yang ditempatkan di berbagai lokasi. Dua perangkap itu adalah:

  • The BG-GAT adalah perangkap pasif yang menargetkan nyamuk yang akan menyimpan telurnya setelah menghisap darah manusia.
  • The BG-Mosquitaire CO2 menarik nyamuk haus darah dengan menebar aroma dari karbon dioksida dan asam laktat. Karbon dioksida yang ada di perangkap tersebut, berasal dari fermentasi gula dan ragi. Normalnya, CO2 dihasilkan dari hembusan napas, sementara asam laktat biasanya muncul di permukaan kulit manusia. Kombinasi aroma ini menyebabkan nyamuk mengartikannya sebagai aroma manusia yang akhirnya terperangkap.

Sebagai tambahan, Bart Knols dan Akib Jahir (petugas penanggulangan nyamuk dari Soneva) menjelajahi kawasan untuk menghilangkan sejumlah genangan air yang biasanya ada di berbagai benda mulai kain terpal, cangkang kelapa, piringan pot bunga, dan lain-lain.

Nilai proyek ini mencapai US$ 87.000 per tahun, atau US$ 23.000 lebih murah dibanding bujet tahunan perusahaan dalam menanggulangi nyamuk. Targetnya, pada April 2021, Kunfunadhoo benar-benar terbebas dari kehadiran nyamuk.

Kerja sama komunitas global diharapkan bisa dilakukan yang bisa menanggulangi nyamuk tanpa campur tangan insektisida yang berdampak buruk pada lingkungan.

 

Avatar

Redaksi

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]