× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Perempuan yang Memberdayakan Perempuan dan Kaum Difabel

By Redaksi

Jakarta – Majalahcsr. Melestarikan budaya Indonesia memang perlu dilakukan. Mengingat Indonesia sendiri terdiri dari banyak suku dan budaya.

Hasil dari warisan ibunda yang gemar mengoleksi kain batik lawas, membuat Dea Valencia Budiarto ikut melestarikan batik tulis asli Indonesia. Dari belajar otodidak, Dea saat ini mempekerjakan 100 orang.

Awalnya Dea hanya menjual kain batik koleksi ibunya yang jumlahnya banyak sekali. Batik yang dijual benar-benar lawas, yaitu kain batik buatan 1870 hingga 1940.

Setelah dagangannya melalui Facebook dengan nama Batik Lawasan laris manis, Dea juga ikut ibunya untuk berburu batik. Tapi lama kelamaan Dea kewalahan. Selain itu, sebagai penjual batik, dirinya sering mendapatkan pertanyaan mengenai pembuatan batik.

“Saya kan, enggak ngerti apa-apa. Lucu, masak jualan tidak mengerti apa yang dijual. Akhirnya, saya mulai mempelajari mengenai batik lawas lewat buku-buku,” ujar Dea.

Dea Valencia Budiarto, Pengusaha batik tulis dengan merek lawasan yang mempekerjakan penyandang disabilitas. Foto: DOK Pribadi

Kemudian Dea yang saat itu masih kuliah di Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Tangerang, mulai belajar untuk membuat baju batik dari kain batik yang sedikit cacat milik ibunya. Dengan merek baru yaitu Batik Kultur. “Batik kan, budaya, kultur kita,” jelasnya.

Lama-lama bahan dari kain batik milik ibunya mulai habis, hal ini membuat Dea memutuskan untuk memproduksi sendiri bahan baku termasuk merancang motifnya. Setahun berikutnya, ia benar-benar 100% menggunakan bahan baku buatan sendiri untuk baju-baju hasil rancangannya.

Dara kelahiran 14 Februari 1994 ini akhirnya kembali ke rumah orang tuanya di Semarang. Dengan menyandang titel sarjana komputer, ia mendirikan toko Batik Kultur di kota lumpia ini.

Guna memproduksi bahan baku, Dea menjalin kemitraan dengan banyak perajin batik tulis yang ada di Cirebon, Pekalongan, Sragen, juga Klaten. Namun, semua desain dan motif berasal dari dirinya. Pengerjaannya dilakukan dirumah masing-masing karena yang mengerjakan adalah ibu rumahtangga.

Selain memberdayakan ibu rumah tangga, Dea ternyata juga mempekerjakan karyawan difabel yang tidak sengaja ditemuinya. Para pekerja banyak yang dulunya berasal dari mitranya dalam membantu menjahit baju produksinya.

Dari 100 karyawan, 40 orang pegawainya difabel. Namun kekurangan mereka ini justru menjadikan mereka lebih tekun, sehingga mendapatkan penghasilan yang lumayan besar atas jasa jahit yang dibayar perpakaian.

Coba saja tanya soal film, obrolan pria berkacamata ini sulit berhenti. Sudah puluhan karya berkualitas ia hasilkan demi kemajuan industri perfilman nasional. Peran yang digelutinya pun bermacam, mulai dari penulis skenario, sutradara, hingga produser. Beragam penghargaan film sudah digenggam hasil dari kerja keras, dan pengakuan atas prestasi serta dedikasi. Pria yang akrab disebut Aris lahir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]