× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK
Workshop Sustainability Report

Perbanyak Produksi Kopyor Dengan Kultur Jaringan

By Redaksi
Kelapa Kopyor - Mongabay

Kelapa kopyor menjadi salah satu sajian kuliner yang disukai. Sebagai bahan minuman, rasanya menyegarkan. Bisa pula dijadikan bahan kue, baik kue kering maupun basah. Tentunya dengan mengeluarkan isi kocek lebih banyak, karena kelapa kopyor ini memang lebih mahal dibandingkan kelapa biasa. Sebuah kelapa kopyor bisa dihargai empat hingga lima kali lipat kelapa ‘normal’.

Kelapa kopyor dianggap ‘tidak normal’ karena ada kelainan genetik. Ketidaknormalan tersebut dapat ditemukan pada daging buahnya yang terlepas dari tempurungnya. Dagingnya empuk tapi tak serupa kelapa muda, melainkan sedikit krispi. Kelapa kopyor dapat dikenali dengan menggoyang-goyangkan buah ke kiri dan ke kanan. Jika bunyi yang terdengar bukan suara air tetapi pasir, maka itulah si kopyor. Kelapa tidak normal ini jarang ditemukan. Hanya keberuntungan saja yang mempertemukan kita dengan kopyor. Namun itu dulu. Kini ada upaya untuk menciptakan kopyor.

Seorang ahli biologi dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Sisunandar mengembangkan kelapa kopyor melalui kultur jaringan. Proses risetnya cukup panjang. Sisunandar memulai risetnya pada tahun 2004. Riset mendalam Sisunandar dilakukan saat ia menempuh pendidikan doktoralnya di University of Queensland, Australia tahun 2008. Risetnya berjudul Cryopreservation fot germplasm conservation of coconut (Cocos rucifera L). Setelah melalukan riset hingga 15 tahun, kini kelapa kopyor hasil kultur jaringan telah dapat dibudidayakan, salah satunya di areal ‘Science Techno Park’ di Kampus UMP.

Pulang ke tanah air dengan gelar doktor bidang biologi sel dan bioteknologi tumbuhan, Sisunandar makin bersemangat mengembangkan penelitian pembibitan kelapa kopyor melalui kultur jaringan. Pada 2012 atau 4 tahun penelitian sejak 2008, Sisunandar mulai mendapatkan hasil yang memuaskan. Ia mampu membibitkan kelapa kopyor melalui kultur jaringan. Ia mengkultur embrio dengan tehnik ‘mini growth chamber’ yakni menginduksi akar dan mengadaptasikan benih kelapa kopyor hasil kultur jaringan secara langsung. Dengan metode ‘ex vitro rooting’, tingkat keberhasilannya mencapai 90%.

“Dengan metode tersebut, ternyata mampu berhasil mengadaptasi benih yang berasal dari empat kultur kelapa secara langsung dengan keberhasilan tinggi. Baik benih tanpa akar maupun bibit yang telah memiliki akar mampu berhasil diaklimatisasikan,”  ungkap Sisunandar seperti dikutip Mongabay Indonesia.

Bersama timnya, Sisunandar telah menanam 148 pohon kelapa di ‘Science Techno Park’, area belakang kompleks Kampus UMP yang memiliki luas 6 ribu meter persegi. Yang ditanam adalah keturunan pohon kelapa asal Banyumas, Pati, Lampung dan Madura. Menurut Sisunandar, ada beragam jenis kelapa kopyor dari masing-masing daerah. “Kalau dari Banyumas ada empat jenis kelapa kopyor yaitu Green Dwarf, Pink Hust Dwarf, Tall dan Yellow Dwarf. Kemudian, kalau dari Kopyor Pati Yellow Dwarf, Kopyor Pati Green Dwarf, Kopyor Pati Brown Dwarf dan Kopypor Pati Orange Dwarf,” paparnya.

Sebuah pohon kelapa kopyor yang tumbuh alami, biasanya hanya mendapatkan 2-3 butir yang kopyor dalam satu tandan. Dengan melakukan pengembangan kultur jaringan, satu pohon kelapa dapat menghasilkan kopyor semua. Waktu yang dibutuhkan, menurut Sisunandar, dari bibit hingga berbuah adalah sekitar 4 tahun. Pada panen perdana, biasanya yang dapat diambil hanya 4-5 butir kelapa. Setelahnya, satu tandan bisa berisi 15-20 butir kelapa kopyor yang dapat menjadi hasil panen per bulan.

Hingga kini Sisunandar masih memproduksi bibit kelapa kopyor dengan kultur jaringan. Satu bibit kelapa kopyor dibandrol Rp1 juta.

“Sepertinya mahal, padahal kalau dihitung dari hasilnya jelas murah. Hitungannya begini. Satu pohon kelapa kopyor dengan bibit Rp1 juta akan mendapatkan hasil yang besar. Satu butir kelapa kopyor minimal harganya Rp25 ribu bahkan ada yang sampai Rp40 ribu. Itu satu butir. Padahal kalau sudah cukup umur, satu tandan dapat menghasilkan 15-20 butir. Usia pohon juga panjang, mencapai 45-50 tahun. Jadi kalau dihitung-hitung, bibit satu batang Rp1 juta tidak mahal, karena penghasilannya juga besar,” jelas Sisunandar.

Untuk pemeliharaannya, kelapa kopyor juga tidak terlalu rumit. Ditanam pada ketinggian  di bawah 600 meter di atas permukaan laut (mdpl), pengairan yang bagus, dan melakukan pengendalian hama. Sejauh ini menurut Sisunandar, hama yang ditemukan adalah kumbang artona. Pengendaliannya cukup dengan cara ramah lingkungan yakni dengan jaring untuk menjebak sang kumbang.

Selain untuk bahan minuman, kelapa kopyor potensial untuk djadian baku kosmetik karena mempunyai kandungan galaktomanan tinggi. Galaktomanan biasanya dipakai bahan dasar kosmetik seperti krim dan pelembab. Sisunandar sendiri sejauh ini belum berpikir untuk mengembangkannya. Namun Sisunandar menggarisbawahi, budidaya kelapa kopyor merupakan salah satu bisnis yang menggiurkan. Produksi yang ada hanya mencukupi kebutuhan 30% saja. Pasar kopyor saat ini paling banyak dipasok dari Kabupaten Pati dengan produksi 2.500 butir per 3 hari, sehingga masih cukup terbuka pasarnya.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]