× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Peran Kemitraan Dalam Menurunkan Angka Kematian Ibu dan Bayi

By Redaksi
Dok. Rukmi

Jakarta – Majalahcsr. Sebagai salah satu kota besar di Indonesia, tentunya banyak fasilitas apapun lebih lengkap dari kota-kota lainnya. Namun kejadian kematian ibu pasca keguguran, istri penyanyi religi Opick yang diduga karena pendarahan menjadikan tanda tanya besar atas masalah kematian ibu hamil.

Sejak tahun 1990-2012 grafik angka kematian ibu melahirkan tidak jauh berbeda. Jumlah 390 orang /100 ribu melahiran pada 2012 menjadi 359 orang /100 ribu kelahiran pada 2012 bukanlah perbedaan yang besar .

Disinyalir penyebab kematian ini adalah pendarahan dan hipertensi. Tapi tentunya bukan hanya ini yang menjadi penyebab, misalnya masih banyak kelahiran yang melakukan proses melahirkan di rumah.

“Proses ini terkait erat dengan budaya Indonesia yang masih enggan melahirkan di rumah sakit. Atau bisa juga karena akses yang sulit, atau fasilitas rumah sakit yang kurang memadai,” ujar Direktur Eksekutif CCPHI, Dian Rosdiana saat pembukaan dialog Peran Kemitraan Dalam Menurunkan Kematian Ibu dan Bayi, hasil kerjasama Universitas Paramadina, EPSP, CCPHI dan Ford Foundation, di Jakarta, Selasa (8/5).

Dok. Paramadina

Kematian bayi dibawah 28 hari dan 6 minggu juga masih tinggi, belum terlalu dekat dengan target SDGs. Isu ini yang membuat prihatin dari kondisi di Indonesia dan menjadi tanggung jawab bersama.

 

Pakpak Bharat

Salah satu Kabupaten di Sumatera Utara, Pakpak Bharat mencatatkan angka kematian maternal sejak 2012-2016 sebanyak 2 orang. Hal ini bisa diatasi sehingga pada 2017 angka kematian menjadi 0.

Kabupaten yang dibentuk pada 28 Juli 2003, hasil pemekaran dari Kabupaten Dairi ini jor-joran untuk membuat masyarakatnya sehat dan pintar. Caranya adalah melalui pemerataan fasilitas kesehatan dan pemberian beasiswa.

Dalam bidang kesehatan, masyarakat diwajibkan untuk melahirkan di Puskesmas. Sedangkan untuk dukun beranak atau sibaso, perannya tidak langsung dihilangkan, namun dirangkul untuk bekerjasama dengan bidan di rumah sakit.

Bahkan untuk menjangkau masyarakat di desa terpencil, para bidan yang bertugas masing-masing difasilitasi dengan diberikan motor dinas. Sehingga para bidan masih bisa bergerak untuk mengunjungi para ibu hamil.

“Anggaran untuk kesehatan ibu dan anak tahun 2017 naik menjadi Rp12 miliar, dari tahun 2013 sebesar Rp 9 miliar,” ujar Bupati Pakpak Bharat, Remigo Yolando Berutu, MBA.

Dok. CCPHI

Selain sepeda motor juga disiapkan ambulan khusus untuk melahirkan yang dikenal dengan sistem layanan operasional partus (ambulan untuk melahirkan / ambulan siportus). Ambulan ini untuk mengantisipasi banyaknya ibu melahirkan yang meninggal saat dirujuk dari puskesmas ke rumah sakit.

Bukan hanya menyasar kesehatan ibu dan anak, Pemerintah Pakpak Bharat juga memperhatikan  kesehatan warganya secara keseluruhan. Misalnya program sanitasi dengan program stop buang air besar sembarangan (BABS) yang masih dikerjakan hingga sekarang.

Bahkan agar program ini berhasil, pemerintah memberikan target kepada masyarakat hingga Agustus 2018 agar mempunyai jamban. Jika tidak, kartu BPJS masyarakat yang tidak memiliki jamban akan ditarik.

Selain itu, Kabupaten Pakpak Bharat juga sudah memiliki aplikasi kesehatan yang bernama WD RYP, WD (working dokter) RDB Rakyat Dilayani Bermutu yang dikembangkan sejak Oktober 2017 hingga April 2018. “Sehingga semua track record pasien ada di cloud dan bisa membantu dokter untuk memberikan pengobatan,” ujar Remigo.

Remigo juga berbagi pengalaman jika ingin mempunyai sebuah program yang berkelanjutan diperluka suatu cara. Dikatakannya bahwa sebaiknya sebuah program tersebut dimasukkan ke dalam program daerah, sehingga bisa terkawal minimal 5 tahun. Jika tidak, akan ada kesempatan untuk tidak disiplin mensukseskan program itu.

Remigo sendiri memasukkan program kesehatan ibu dan anak Kabupaten Pakpak ke dalam misi ke 4 pemerintah daerah. Yaitu meningkatkan derajat kesehatan melalui pelayanan dan fasilitas kesehatan yang prima untuk ibu dan anak dalam mewujudkan generasi emas Pakpak Bharat.

Program kesehatan dan pendidikan juga masuk dalam misi ke 6, yaitu ingin menjadikan Pakpak Bharat pusat kesehatan dan pendidikan yang unggul.

“Misi ini ada di RPJMD, itu menjamin kemitraan yang sustain. Selain saya nyaman secara anggaran, saya juga nyaman karena semua akan mengawal,” tukasnya.

“Beberapa pihak menganggap (perubahan iklim) sepele. Aku tidak.” Kalimat tegas itu keluar dari mulut gadis remaja 16 tahun asal Swedia bernama Greta Thunberg. Greta adalah representasi dari sedikit remaja yang sangat peduli dengan lingkungan, terutama perubahan iklim. Suatu hari di musim panas lalu, Greta membolos dari sekolah. Greta tak sembarang membolos. Ia duduk manis di […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]