× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Pengungsi Bencana Iklim pada 2020 Lebih Banyak daripada Akibat Konflik

By Redaksi
Banjir yang Disebabkan Hujan Badai di Wilayah Khartoum, Sudan, Agustus 2020, Memicu Gelombang Pengungsi. Foto : Anadolu Agency/Getty Images

MajalahCSR.id – Sebuah publikasi terbaru yang dirilis oleh Norwegian Refugee Council’s Internal Displacement Monitoring Centre (IDMC) memperlihatkan bahwa lebih banyak warga dunia terpaksa mengungsi akibat bencana iklim dibanding konflik kekerasan pada 2020. Lebih jauh, angka warga pengungsi dunia yang tercatat pada tahun kemarin juga merupakan yang tertinggi dalam satu dekade.

Terdapat total 55 juta pengungsi yang tercatat pada tahun kemarin, menjadikan catatan tahun paling buruk. Yang tercatat bukan hanya pengungsi yang terusir dari rumahnya karena kekerasan politik, namun juga yang terpaksa pindah karena bencana alam yang menghancurkan rumah mereka. Dengan kata lain, terdapat 2 macam pengungsi merujuk pada penyebabnya.    

Seperti dilansir The Guardian, data IDMC merekam lebih dari 40 juta pengungsi baru di 2020. Jumlah ini merupakan yang tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Dari pertambahan 40 juta tersebut, 30 juta orang mengungsi karena bencana alam (iklim), seperti badai, kebakaran, banjir, sehingga jumlah warga pengungsi 3 kali lebih banyak  dibanding akibat konflik kekerasan.

Isu ini banyak terjadi di Asia Timur, dan Wilayah Pasifik, yang jumlahnya warga pengungsinya (akibat bencana alam) meningkat 30,3% daripada tahun-tahun sebelumnya.

“Setiap tahun, jutaan orang terpaksa mengungsi dari rumah mereka karena konflik dan kekerasan. Bencana alam akibat perubahan iklim kini bahkan memicu gelombang pengungsi baru yang menghancurkan rasa aman dan kesejahteraan warga,” kata laporan yang disampaikan IDMC. “Skala angka pengungsi di seluruh dunia kian meningkat, dan aliran pengungsi lebih banyak terjadi antar lintas negara.”  

Namun, negara yang warganya paling banyak mengungsi karena bencana lokal adalah Afghanistan, India, dan Pakistan. Afghanistan mencatat rekor 1,1 juta pengungsi disusul India 929.000 pengungsi dan Pakistan 806.000 orang. Menurut Direktur IDMC, Alexandra Bilak, munculnya gelombang pengungsi disebabkan oleh banyak faktor yang saling berhubungan, dan bencana alam akibat perubahan iklim menjadi penyebab utama.  

“Saat ini krisis pengungsi muncul dari banyak faktor yang saling terhubung, termasuk perubahan iklim dan lingkungan, serta konflik dan instabilitas politik yang berkepanjangan. Saat dunia makin rapuh dengan munculnya pandemi COVID-19, politik dan investasi yang stabil dalam skala lokal merupakan solusi yang sangat penting (untuk pengungsi) dibanding apapun,” terang Bilak.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]