× BERITA WAWASAN GALERI RAGAM PERANTI KONSULTASI KONTAK

Penerapan SDGs dan Social Mapping untuk Bisnis Berkelanjutan yang Teramat Penting

By Redaksi
Dr. Vivi Yulaswati, MSc., Kepala Sekretariat Nasional SDGs/Ahli Menteri Bidang Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan Kementerian PPN/Bappenas. dalam sambutan acara webinar ”Sustainability Festival 2021”, Senin (13/9/2021). Foto : Istimewa

MajalahCSR.id – Tren bisnis global kini mulai mengarah pada prinsip bisnis keberlanjutan. Artinya, bisnis sebelumnya yang hanya memikirkan profit semata, akan segera ditinggalkan karena tak akan berkembang, dan praktik ini mengancam eksistensi bisnis itu sendiri di masa depan.

Pemerintah Indonesia merespon hal ini dengan penerapan peraturan yang berpegang pada prinsip Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB). Pelaksanaannya berbasis pada Peraturan Presiden Nomor 59 Tahun 2017 (PP No. 59/2017) tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Pada perkembangannya telah terbentuk Tim Koordinasi Nasional, untuk SDGs hingga ke tingkat daerah melibatkan banyak “stake holder” mulai dari filantropi, dunia usaha, akademisi, masyarakat, organisasi kemasyarakatan termasuk pemerintah sendiri dari mulai pusat hingga daerah.

Implementasi SDGs di Indonesia termasuk dunia bisnis

Berbagai instrumen dalam bentuk berbagai dokumen telah disusun mulai dari peta jalan, strategi di masing-masing goal, serta target, dan kebutuhan pendanaannya, juga rencana aksi TPB yang dilakukan pemerintah. Hal ini disampaikan terang Vivi Yulaswati, Kepala Sekretariat Nasional SDGs/Ahli Menteri Bidang Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan Kementerian PPN/Bappenas dalam sambutan acara webinar ”Sustainability Festival 2021”, Senin (13/9/2021). “Saat ini rencana aksi untuk Tujuan Pembangunan Berkelanjutan untuk periode 2021- 2024 sedang kita revisi,” cetus Vivi.

Vivi melanjutkan, berdasarkan PP No. 59 tersebut disusun juga berbagai instrument monitoring, evaluasi, serta pelaporan. “Dalam konteks pelaporan selain yang Annual Report, per dua tahun kita melaporkannya ke tingkat global.” Pada 2017, bahkan, sebut Vivi, Indonesia dipandang sangat baik (oleh dunia internasional) terkait investasi karena program-programnya terkait pengentasan kemiskinan.

Di sisi lain, pandemi yang telah berlangsung selama 18 bulan, diakui Vivi, turut mendisrupsi banyak sekali target pembangunan. Tidak hanya ekonomi yang terkontraksi, melainkan juga target pembangunan yang lainnya (sosial, pendidikan, dan lingkungan). “Oleh sebab itu, estimasi kami yang terakhir diperlukan pertumbuhan enam persen untuk lepas landas dari (negara) ‘middle income trap’ dan masuk menjadi negara maju,” paparnya. Tanpa transformasi ekonomi dan kolaborasi bersama, Indonesia disebutkan bisa disalip Filipina pada 2037 dan Vietnam yang masuk menjadi negara maju pada 2043.

Padahal pada laporan 2019 sebelum pandemi, yang terbit pada 2020, Vivi menyebut sekitar tujuh puluh persen indikator SDGs di Indonesia telah “on track”di mana 52% telah tercapai dan 18% lainnya mengalami kemajuan. Meski demikian tak memungkiri, di masing-masing pilar ada juga yang mengalami stagnan atau bahkan perburukan yang perlu penanganan lebih. Dalam hal ini Pemerintah telah meredesain transformasi ekonomi yang lebih inklusif, berkelanjutan yang menerapkan prinsip-prinsip SDGs, seperti pengembangan strategi untuk ekonomi hijau.Pemerintah ke depannya akan lebih sering mengampanyekan ekonomi sirkular, ekonomi rendah karbon, dan sebagainya.

Demi mencapai target TPB yang ambisius dan cukup banyak, Vivi menawarkan strategi, yaitu kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. “Kolaborasi ini termasuk melakukan proses adaptasi, implementasi, ‘monitoring progress’, melalui sustainability report yang dilakukan oleh pihak swasta. Tidak hanya menerapkan prinsip-prinsip SDGs di semua proses bisnisnya, tapi juga membangun shared value dalam proses bisnis sehingga menimbulkan dampak yang lebih besar,” tutur Vivi.

Praktik bisnis berkelanjutan sudah menjadi tren di perusahaan-perusahaan tingkat global. Lebih kurang 41% perusahaan besar dunia sudah mengintegrasikan keterkaitan SDGs dengan strategi perusahaannya. Bagaimana SDGs diinternalisasikan ke dalam aktivitas perusahaan melalui “creating shared value” termasuk dampaknya. “Ini merupakan suatu pendekatan untuk mengkapitalisasi keterhubungan antara sosial, ekonomi, dan profit, kemudian juga progress terhadap lingkungan, sehingga upaya yang kita lakukan pada kehidupan tidak berdampak buruk pada kualitas kehidupan planet,” sebut Vivi.

 Hal lain yang bisa dilakukan adalah mengindentifikasi agenda-agenda SDGs agar sesuai dengan prinsip perusahaan dan juga menggunakan SDGs sebagai arena kolaborasi. “Untuk ke depannya menjadi tantangan kita guna mengembangkan bentuk-bentuk kolaborasi, kerja sama yang lebih efektif, tidak hanya sekedar launching (program aksi SDGs). Ada beberapa ‘tools’ (untuk mencapainya) seperti menyelaraskan sustainability report, menggunakan standar bersama sehingga pada saat mengkompilasi atau mengkonvergensi kita menggunakan standard-standard yang bisa diukur,” jelas Vivi. Hal ini dapat digunakan untuk mengukur pencapaian dalam SDGs.

 

Pentingnya Social Mapping Bagi Strategi Bisnis

Berbicara sustainability report yang sempat disinggung di awal, tak bisa lepas dari kegiatan social mapping. Pentingnya social mapping atau stakeholder mapping bagi bisnis juga disampaikan Fainta Negoro, Head of Sustainability and Partnership Multi Bintang Indonesia. Menurutnya, social mapping teramat penting untuk strategi perusahaan ke depan. Perusahaan yang mengenali social mapping-nya bisa mengendalikan risiko masalah sehingga dampak negatif dari masalah tersebut dapat diminimaliasi.

Untuk melakukan social mapping yang tepat dan efektif, Fainta menyebutkan ada caranya. “Seringkali dalam social mapping kita lupa menggunakan (kata) ‘why’ yang banyak. Kenapa saya harus membuat social mapping? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Karena kalau ‘kenapa’ itu tidak cukup kuat, maka apa yang kita lakukan hanya akan menjadi membuang-buang sumberdaya seperti waktu, uang, tenaga, dan lainnya,” cetus Fainta.

Social mapping, Fainta melanjutkan, adalah mempelajari hubungan antara individu dengan lingkungan sosial yang ada di sekitarnya. Hasilnya adalah mengetahui risiko permasalahan atau potensi risiko permasalahan kedua belah pihak. “Jika dari sisi bisnis maka dilihat dari kacamata masyarakat dan manajemen (perusahaan). Mengetahui social mapping berarti akan mampu memitigasi risiko dalam memiliki kesempatan (opurtinitas) yang bisa digunakan (manajemen) jika kita melakukan social mapping secara sungguh-sungguh,” terangnya.

Fainta juga menyayangkan, bila adakalanya social mapping ini hanya sekedar dijadikan oleh perusahaan untuk memenuhi persyaratan pelaporan saja. Padahal, menurutnya, social mapping bisa menjadi dasar untuk menerapkan strategi perusahaan yang mumpuni. “Operasi perusahaan menjadi bagus, persepsi (perusahaan) bisa menjadi positif. Kalau pun ada yang negatif, kita jadi tahu masalahnya apa. (Selain itu) Kita pun bisa tahu stake holder kita itu sebenarnya siapa, yang di-drive oleh isu. Bukan semata-mata pihak yang memposisikan diri berada di muka perusahaan, karena memang ada isu yang terkait dengan bisnis dan operasional perusahaan,” paparnya panjang lebar.  Alhasil, perusahaan dapat meng-engage-nya dengan tidak terlalu berat.

Fianta memisalkan dengan peristiwa surat permohonan tunjangan hari raya dari pejabat lokal. Apabila perusahaan memiliki social mapping yang baik, maka bisa menemukan formula jawaban surat permohonan tersebut dengan cara tepat. Hal-hal yang terlihat kecil seperti ini, dikatakan Fainta, jika tidak dipedulikan akan menjadi persepsi buruk bagi perusahaan. Sebaliknya jika dituruti akan terus terjadi dan menimbulkan masalah baru bagi manajemen.

Lantas mulai dari mana melakukan social mapping? “Ini yang kita lakukan. Kadang hal-hal (pihak) internal yang sudah punya knowledge-nya. Kita perlu interview dengan key person di internal. Ada pernah kejadian apa saja saat dulu, untuk menghindari subyektivitas. Apa isu-isu yang sudah disepakati dan bagaimana bobot isunya,” ungkap Fainta.

Jika ada budget lebih, saran Fainta, dapat menggunakan pihak ketiga untuk menilai sudah tepatkah apa yang sudah dilakukan. Selain itu, pastikan laporan memenuhi semua kebutuhan dan kepentingan bisnis perusahaan. “Kita bisa juga meminta internal auditor apakah sudah melakukan engagement yang tepat.” Menurut Fainta, di perusahaannya, antara social mapping, risk management, dan practicing dihubungkan, sehingga konten laporan benar-benar memenuhi semua kebutuhan (manajemen) perusahaan. Dengan demikian, dapat terlihat jelas hubungan antara isu, risiko, sampai strategi perusahaan.

Fainta mencontohkan yang terjadi di perusahaannya. Lokasi perusahaan yang di tengah sawah menjadikan masalah baru saat ada sisa sekam padi yang terbakar yang menimbulkan asap yang menurunkan kualitas produk, bahkan api yang timbul menjadi ancaman bagi gedung pabrik. Di sisi lain, pabrik berniat unutk menurunkan emisi karbon dari proses operasionalnya.  Upaya jalan tengahnya, perusahaan menggunakan renewable energy dengan memanfaatkan biomasa yang berasal dari sawah yaitu sekam padi.

Kebijakan penggunaan sekam mengakibatkan perusahaan mampu menggunakan renewable energy hingga 38%. Sekam padi itu juga dijadikan kompos yang sudah diuji di lab agar berkualitas bagus untuk pupuk sawah petani. Selain itu pupuknya juga dapat dipakai untuk penanaman tanaman di proyek konservasi air pabrik.

Di akhir pembicaraan Fainta menegaskan bahwa perusahaan – dalam pelaporannya – tidak perlu mengklaim berlebihan seperti upaya yang dilakukannya sudah benar-benar mensejahterakan pihak lain (stakeholder). “Perlu melakukan komunikasi secara berimbang, sebab apabila klaim itu tidak benar akan menyakiti hati dari stakeholder. Bagaimana pun apa yang kita lakukan tidak bisa menggantikan peran pemerintah, tapi kita bisa menjadi (pihak yang) inovatif, berkolaborasi dengan lebih banyak pihak  sehingga dampaknya besar,” pungkasnya.

Baik Vivi Yulaswati dan Fainta Negoro menyampaikan diskusi inspiratif ini dalam acara Sustainability Festival 2021 di hari pertama, Senin (13/9/2021). Festival yang diselenggarakan oleh Aicon bekerja sama dengan TSC Trisakti dan SR Asia Indonesia yang berlangsung mulai 13 September hingga 17 September 2021 di waktu jam makan siang. Sustainability Festival 2021 menghadirkan pembicara inspiratif dari lima perusahaan terkemuka seperti Multi Bintang Indonesia, PT Bank CIMB Niaga Tbk., PT MRT Jakarta, PT Vale Indonesia Tbk., dan PT Kalbe Farma Tbk., yang sudah menerapkan prinsip bisnis keberlanjutan secara terpuji. Acara diskusi terbuka bagi siapa saja tanpa biaya apapun.

Nama lengkapnya Akbar Ghifari. Biasa dipanggil Abay oleh rekan-rekannya. Mahasiswa jurusan Informatika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2016 ini seperti kebanyakan mahasiswa lain, sehari-harinya berkuliah dan berkeinginan secepatnya lulus. Namun bila berbincang dengannya, siapapun pasti merasa kagum dengan kecerdasan laki-laki muda ini. Muda, bersemangat, penuh ide, dan bisa memimpin rekan-rekannya di Niracle. Yang disebut terakhir […]

[contact-form-7 404 "Not Found"]